PT Trimegah Bangun Persada Tbk, (TBP)- bagian dari Harita Group, menegaskan komitmennya terhadap perlindungan lingkungan melalui penguatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Langkah ini menjadi bagian dari strategi bisnis berkelanjutan perusahaan tambang nikel tersebut, khususnya di wilayah operasional Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Jakarta, TopBusiness – Perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan dan pengolahan / pemurnian bijih nikel, berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Bahan Galian Nikel DMP (Dan Mineral Pengikut). Mulai beroperasi penuh semenjak 2010. Seluruh aktivitas operasional berada di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Lua wilayah IUP TBP & GPS mencapai 5.523 Ha dengan total reserves (jumlah Cadangan): 168.9 mt.
Menyadari atas dampak dan risiko atas aktiviktas tambang yang dilakukan, perusahaan juga menaruh perhatian besar terhadap keberlanjutan lingkungan, sosial dan masyarakat sekitar, terutama di wilayah ring 1. Hal ini juga selaras dengan komitmen dan prinsip berkelanjutan (sustainable mining) yang tertuang dalam misi perusahaan, yakni “Keunggulan berkelanjutan melalui peningkatan manusia dan proses yang berkesinambungan untuk menyeimbangkan antara hasil ekonomi, pengelolaan risiko, dan kepedulian lingkungan”. Dalam hal ini perusahaan menyoroti prinsip pertambangan berkelanjutan (sustainable mining) dengan menyeimbangkan antara bisnis, pengelolaan risiko, serta aspek kepedulian lingkungan.
Perusahaan juga menerapkan manajemen risiko terpadu: Integrasi risiko iklim (TCFD) dan sosial dalam operasionalnya yang berbasis ISO 31000. Terkait pengelolaan dan tanggung perusahaan terhadap lingkungan, TBP telah meraih peringkat PROPER Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menunjukkan bahwa perusahaan telah memenuhi standar minimal ketaatan terhadap peraturan pengelolaan lingkungan hidup. Mencakup kepatuhan dalam aspek dokumen lingkungan, pengendalian pencemaran air/udara, dan limbah B3.
TBP juga menerapkan Program Sustainable Energy Initiatives untuk semua Bisnis Usaha (BU) yang terbagi menjadi 3 BU, yaitu: Mining, Smelter dan Refinery. Program ini diarahkan untuk mendukung efisiensi operasional untuk meminimalkan dampak lingkungan. Program yang dilakukan meliputi pemanfaatan biosolar, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Rekuperasi Panas Limbah Pabrik Asam, Pemanfaatan Gas Batubara, Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas, dan Penggunaan Kendaraan Listrik.
Pilar Program CSR
Terkait program CSR, PT Trimegah Bangun Persada Tbk, (TBP)- juga memiliki visi misi tersendiri. Visi CSR-nya yakni “Mengoptimalkan nilai sumber daya yang dimiliki untuk memberikan kontribusi terbaik bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan bangsa. Sedangkan misinya “Keunggulan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas dan proses yang berkesinambungan”. Pilar program CSR antara lain berfokus pada bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, sosial budaya, serta pengembangan infrastruktur di sekitar wilayah operasional, terutama di wilayah ring 1 tambang.
Demikian beberapa point penting yang terungkapo dari sesi prsentasi dan wawancara penjurian “TOP CSR Awards 2026” dari PT Trimegah Bangun Persada Tbk, (TBP)- yang dilakukan sedcara daring yang dihelat Majalah TopBusienss Jakarta pada Jumat (17/04/2026). Presentasi disampaikan Dian Nurcahya, CSR Compliance Sepervisor TBP bersama tim. Di antaranya Broto Suwarso (Gatut) : Community Development Manager, Ragil Pardiantoro Spv Education & Health, Apolinavis Faustinus Mbata : LA Manager, Alexander Lieman – Integrated Reporting Manager, Zahedi Zakaria – ESG Transformation Manager, Ragil Pardiantoro: Health and Education Supervisor, serta Siti Nur Artina: Foreman Education. Sedangkan tim juri penilai terdiri Prof. Dr. Satya Arinanto- Guru Besar FH Universitas Indonesia, Dr. Melani K Harriman – CEO Melani K harruman & Associates, serta serta Ahmad Chury (Managing Editor Majalah ItWorks-MSI Group) sekaligus sebagai moderator.
Dalam presentasi TOP CSR Awards 2026, Harita Nickel mengusung tema Building Value from the Ground Up: CSR–ESG Integration in Community Development and Operational Sustainability. Perusahaan menempatkan isu lingkungan sebagai salah satu fokus utama untuk menciptakan nilai jangka Panjang, sekaligus menjaga keberlanjutan operasional.
Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai program efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat peningkatan penggunaan energi berkelanjutan sebesar 29,8 persen dibandingkan tahun 2023. Dari inisiatif tersebut, Harita Nickel berhasil menghindari emisi gas rumah kaca hingga 1.520.217 ton CO2e.
Program energi berkelanjutan yang dijalankan mencakup pemanfaatan biosolar, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), rekuperasi panas limbah pabrik asam, pemanfaatan gas batubara, penggunaan minyak goreng bekas sebagai sumber energi alternatif, hingga penggunaan kendaraan listrik di area operasional. Langkah ini diterapkan di tiga unit bisnis utama, yakni pertambangan, smelter, dan refinery.
Tak hanya fokus pada energi, Harita Nickel juga menempatkan pengelolaan limbah dan konservasi lingkungan sebagai prioritas. Perusahaan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan limbah, serta menjalankan sistem manajemen lingkungan berstandar internasional ISO 14001 di sejumlah unit usaha.
Dalam aspek rehabilitasi ekosistem, perusahaan bersama pemerintah melakukan penanaman 2.025 bibit mangrove di Pulau Obi dan 1.750 bibit mangrove di Pulau Kayoa. Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap abrasi dan perubahan iklim.
Harita Nickel juga menyusun analisis materialitas keberlanjutan setiap tahun dengan mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI). Dari proses tersebut, perusahaan menetapkan 14 isu prioritas, di antaranya keanekaragaman hayati, pengelolaan air dan limbah cair, pengelolaan tailing, aksi iklim, reklamasi pascatambang, serta pengelolaan limbah.
Selain itu, perusahaan mengalokasikan lebih dari Rp708 miliar untuk pengelolaan lingkungan dan berbagai inisiatif keberlanjutan. Investasi tersebut menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi telah menjadi bagian dari strategi pertumbuhan bisnis Harita Nickel.
Melalui integrasi CSR dan ESG, Harita Nickel berupaya membuktikan bahwa industri pertambangan dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Perusahaan menilai keberhasilan bisnis masa depan tidak hanya diukur dari produksi, tetapi juga dari kemampuan menjaga alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
