TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Dari Ambon ke Dunia: Jurus PLN UIW Maluku dan Malut Sulap Kopi Tuni Jadi Harapan Baru Petani Maluku

Teguh Imam Suyudi
21 April 2026 | 08:04
rubrik: Business Info, CSR, Event
Dari Ambon ke Dunia: Jurus PLN UIW Maluku dan Malut Sulap Kopi Tuni Jadi Harapan Baru Petani Maluku

Lewat program TJSL, PLN PLN UIW Maluku dan Malut membangun ekosistem kopi dari hulu ke hilir, meningkatkan kesejahteraan petani, memperluas pasar global, dan mendukung transisi energi berkelanjutan di Maluku.

Jakarta, TopBusiness — Di tengah bentang kepulauan yang selama berabad-abad dikenal sebagai “The Spice Islands”, Maluku kembali menemukan denyut ekonominya melalui komoditas yang dulu nyaris terpinggirkan: kopi lokal. Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara mendorong transformasi kopi khas daerah, Kopi Tuni, menjadi sumber penghidupan baru yang berkelanjutan.

Program bertajuk “Pengembangan Komunitas Kopi Seribu Negeri Maluku” ini dipresentasikan dalam ajang penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar secara daring, Senin (20/4/2026). Dalam forum tersebut, PLN tidak sekadar memaparkan program, tetapi juga memperlihatkan bagaimana intervensi yang tepat mampu mengubah wajah ekonomi lokal.

Achmad Rizal Lestaluhu, AMN TJSL PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, menegaskan bahwa pengembangan kopi bukan hanya soal komoditas, melainkan tentang membangun ekosistem yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.

“Program ini dirancang secara komprehensif. Kami tidak hanya membantu produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas petani, membangun kelembagaan, membuka akses pasar, dan mengintegrasikan pemanfaatan energi listrik dalam proses produksi,” ujar Rizal.

Dari Potensi Terlupakan ke Komoditas Unggulan

Kopi Tuni merupakan varietas lokal yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kopi arabika, robusta, maupun liberika. Tanaman ini dapat tumbuh di berbagai kondisi geografis, dari pesisir hingga dataran tinggi, serta memiliki cita rasa khas yang tidak asam.

Dalam bahasa lokal Maluku, “Tuni” berarti asli atau orisinal—sebuah identitas yang mencerminkan kekayaan hayati daerah. Namun, potensi tersebut lama tidak tergarap secara optimal.

Rizal memaparkan bahwa sebelum program berjalan, petani kopi menghadapi berbagai kendala klasik: keterbatasan modal, rendahnya keterampilan pengolahan pascapanen, tidak adanya rumah produksi, serta ketergantungan pada tengkulak yang membeli hasil panen dengan harga rendah.

BACA JUGA:   Menilik Apiknya ‘Kaliandra’, CSR Unggulan Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan

“Kondisi tersebut membuat banyak petani kehilangan motivasi. Tidak sedikit yang akhirnya menebang tanaman kopi atau beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan,” katanya.

PLN melihat situasi ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Dengan pendekatan TJSL yang terstruktur, perusahaan berupaya mengembalikan nilai ekonomi kopi sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap potensi yang mereka miliki.

Intervensi Terpadu: Dari Hulu ke Hilir

Program pengembangan Kopi Tuni dijalankan melalui sejumlah intervensi strategis. Pertama, dukungan pendanaan TJSL diberikan untuk memperkuat modal usaha komunitas. Kedua, peningkatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan pascapanen, pengolahan kopi, hingga manajemen kualitas.

Salah satu langkah penting adalah pembangunan rumah produksi yang dilengkapi dengan peralatan modern berbasis listrik, seperti mesin roasting dan grinder elektrik. Kehadiran fasilitas ini mengubah proses produksi yang sebelumnya manual menjadi lebih efisien dan konsisten.

Selain itu, PLN juga mendorong penguatan kelembagaan melalui pembentukan dan pengembangan koperasi. Koperasi Produsen Seribu Negeri Maluku menjadi wadah utama bagi petani dalam mengelola produksi, distribusi, hingga pemasaran.

“Dengan adanya koperasi, petani tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat, termasuk dalam menentukan harga,” kata Rizal.

Intervensi lain yang tak kalah penting adalah perluasan akses pasar. PLN membantu pengembangan branding dan kemasan produk sehingga kopi Tuni tampil lebih kompetitif. Produk ini kemudian dipromosikan melalui berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri.

Hasilnya, kopi Tuni mulai dikenal di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Tangerang, Subang, Makassar, hingga Timika. Bahkan, produk ini telah menjangkau pasar internasional, termasuk Amerika Serikat dan Belanda.

Dampak Nyata bagi Petani

Transformasi yang terjadi tidak hanya terlihat dari sisi produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan petani. Data menunjukkan lonjakan signifikan dalam harga dan volume pembelian kopi.

BACA JUGA:   Disokong Arthaco Prima Energy, Cadangan Batubara IATA Bertambah 20,58 Juta MT

Pada 2024, pembelian kopi baru mencapai 20 kilogram dengan harga Rp50.000 per kilogram. Setahun kemudian, angka tersebut meningkat menjadi 222 kilogram dengan harga Rp100.000 per kilogram—kenaikan harga hingga 100 persen.

Jumlah petani yang terlibat juga terus bertambah. Hingga kini, tercatat 63 petani dari 41 desa ikut serta dalam program ini. Mereka tidak hanya memperoleh pendapatan yang lebih baik, tetapi juga mendapatkan pengetahuan baru dalam pengolahan kopi.

“Dampaknya sangat terasa. Petani kini lebih percaya diri karena hasil panen mereka dihargai dengan layak dan memiliki pasar yang jelas,” ujar Rizal.

Program ini juga membuka peluang kerja baru, baik di sektor pertanian maupun industri pengolahan kopi. Bahkan, kontribusinya tercermin dalam penurunan tingkat pengangguran di Kota Ambon.

Energi, Lingkungan, dan Keberlanjutan

Menariknya, program Kopi Tuni tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga lingkungan. Budidaya kopi dilakukan dengan sistem tumpang sari atau agroforestri, yang memungkinkan tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan pohon lain.

Pendekatan ini memiliki sejumlah manfaat, antara lain meningkatkan tutupan lahan, mencegah pembukaan hutan baru, serta menyerap karbon. Dengan kata lain, program ini menjadi bagian dari solusi berbasis alam (nature-based solution) dalam menghadapi perubahan iklim.

Di sisi lain, pemanfaatan listrik dalam proses produksi turut meningkatkan konsumsi listrik produktif di masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya PLN dalam mendorong pemanfaatan energi untuk kegiatan ekonomi.

“Program ini menciptakan sinergi antara aspek sosial, lingkungan, dan bisnis. Inilah yang menjadi inti dari implementasi ESG,” kata Rizal.

Ia menambahkan, inisiatif ini juga mendukung agenda transisi energi yang lebih berkeadilan (just energy transition), terutama di wilayah yang masih bergantung pada pembangkit berbasis energi fosil.

Lebih dari Sekadar CSR

Bagi PLN, program Kopi Tuni bukan sekadar kegiatan filantropi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Program ini telah mengadopsi prinsip-prinsip ISO 26000, khususnya dalam aspek pengembangan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

BACA JUGA:   PT Jamkrida Sumbar akan Tingkatkan Kemampuan HC dalam Mitigasi Risiko

Selain itu, program ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, dan aksi terhadap perubahan iklim.

Dalam konteks tata kelola, PLN menerapkan sistem perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan pelaporan yang terstruktur. Pemantauan dilakukan secara berkala, termasuk melalui kunjungan lapangan dan komunikasi intensif dengan komunitas.

“Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari petani, koperasi, hingga dukungan internal perusahaan,” ujar Rizal.

Apresiasi dan Pembelajaran

TOP CSR Awards 2026 menjadi panggung bagi PLN untuk menunjukkan capaian tersebut. Ajang ini bertujuan memberikan apresiasi kepada perusahaan yang berhasil menjalankan program CSR secara efektif dan berdampak.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bersama bagi dunia usaha dalam meningkatkan kualitas implementasi CSR di Indonesia.

Penjurian melibatkan sejumlah tokoh dan pakar, antara lain Wardatul Hasanah (Sampoerna Foundation), Syaifudin (LKN Asta Cita), Sentot Baskoro (AGRKI), dan Teguh Imam Suyudi (TopBusiness).

Dengan tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, ajang ini menekankan pentingnya penyelarasan antara tanggung jawab sosial dan strategi keberlanjutan perusahaan.

Harapan ke Depan

Ke depan, PLN berharap program Kopi Tuni dapat terus berkembang dan menjadi model pengembangan ekonomi berbasis komunitas di wilayah lain.

Rizal optimistis bahwa dengan dukungan yang berkelanjutan, kopi Tuni dapat menjadi salah satu ikon baru Maluku di kancah global.

“Ini bukan hanya tentang kopi, tetapi tentang masa depan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa potensi lokal dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan,” ujarnya.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kisah Kopi Tuni menjadi pengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil—dari kebun-kebun kopi di pulau-pulau Maluku, menuju pasar dunia.

Tags: PLN UIW Maluku dan MalutTOP CSR Awards 2026
Previous Post

Peruri Tancap Gas Integrasikan CSR dan ESG, Bidik Keunggulan Berkelanjutan

Next Post

Waspada Ada Koreksi Lanjutan, Analis Sarankan Buy Saham Ini: MEDC, PGAS, TINS, BULL, EMAS, dan ANTM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR