Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (23/04/2026). Indeks terkontraksi 163 poin atau 2,16% ke level 7.378,60, mencerminkan tekanan jual yang kuat di pasar saham domestik.
Pada penutupan perdagangan, aktivitas transaksi tercatat cukup tinggi. Nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp21,8 triliun dengan volume perdagangan kurang lebih 34,5 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 2,1 juta kali. Tingginya nilai transaksi di tengah pelemahan indeks mengindikasikan aksi jual yang dominan oleh pelaku pasar.
Pergerakan indeks hari ini terutama ditekan oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk ditutup turun ke level sekitar Rp9.150 per saham. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk melemah ke kisaran Rp5.250 per saham. Saham PT Bank Mandiri Tbk terkoreksi ke level sekitar Rp6.050 per saham. Sementara itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk turun ke kisaran Rp3.800 per saham dan saham PT Astra International Tbk melemah ke sekitar Rp5.200 per saham. Pelemahan saham-saham tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan IHSG.
Secara sektoral, tekanan jual terjadi merata, terutama pada sektor keuangan, infrastruktur, dan energi. Saham perbankan sebagai kontributor utama kapitalisasi pasar menjadi penekan terbesar indeks, seiring meningkatnya aksi ambil untung setelah penguatan dalam beberapa waktu sebelumnya.
Dari sisi analisis, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Sentimen global yang cenderung tidak pasti membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. Di sisi lain, arus dana asing yang keluar dari pasar domestik turut memperbesar tekanan jual.
Secara teknikal, penurunan ini membawa IHSG mendekati area support di kisaran 7.300. Jika tekanan jual masih berlanjut, indeks berpotensi menguji level tersebut. Namun, peluang rebound tetap terbuka apabila terjadi akumulasi pada saham-saham unggulan yang sudah terkoreksi cukup dalam.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih selektif dalam mengambil posisi, dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan memiliki ketahanan terhadap volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Data AI
