Jakarta, TopBusiness – PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (IDX: MPMX) atau MPM menegaskan komitmennya dalam membangun bisnis berkelanjutan melalui integrasi strategi ESG (Environmental, Social, Governance) dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terarah.
Salah satu fokus utama perseroan adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis ekosistem bisnis, termasuk melalui program unggulan SrikandiPreneur.
Dalam paparan pada ajang TOP CSR Awards 2026, Natalia Lusnita, GM Corporate Communication & Sustainability MPM Group, menyampaikan bahwa perusahaan saat ini tengah memasuki fase transformasi keberlanjutan jangka panjang.
“Kami mengangkat tema Resilience in Transition. Ini menggambarkan fase penting bagi grup MPM dalam memperkuat fondasi menuju perjalanan keberlanjutan jangka panjang,” ujarnya saat mengikuti proses penjurian di ajang TOP CSR Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Kamis (23/4/2026). Hadir mendampingi Natalia yaitu Manager Corporate Communication & Sustainability MPM Group, Pamela Octavianie.
Menurut Natalia, langkah tersebut diperkuat dengan penyusunan strategi keberlanjutan periode kedua untuk 2026–2030 yang lebih komprehensif. Bahkan, MPM telah lebih dulu melakukan analisis risiko keberlanjutan dan iklim terhadap kinerja keuangan, meski belum diwajibkan regulator.
“Kami juga secara perdana melaksanakan analisis risiko keberlanjutan dan iklim terhadap kinerja keuangan meskipun hal tersebut belum diwajibkan oleh regulator untuk di tahun 2026 ini,” katanya.
CSR Terintegrasi dengan Strategi Bisnis
Sebagai perusahaan otomotif dan transportasi yang memiliki rantai bisnis terintegrasi, MPM menempatkan ESG tadi sebagai bagian inti dalam strategi perusahaan.
“Yang terpenting di sini kita lihat bahwa ESG kami tempatkan sebagai bagian integral dalam strategi. Bukan hanya sebagai inisiatif tambahan, melainkan untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berdampak jangka panjang,” jelas Natalia.
Komitmen tersebut tidak hanya tercermin dalam kebijakan, tetapi juga dalam tata kelola perusahaan. Direksi dan dewan komisaris terlibat aktif dalam pengawasan serta pengambilan keputusan berbasis ESG.
“Komitmen terhadap ESG tidak hanya berhenti pada level kebijakan, tetapi tercermin dari keterlibatan aktif direksi dan dewan komisaris,” ujarnya. Kata dia, dalam penerapannya, Dewan Komisaris mengawasi pengelolaan dampak, risiko, dan peluang keberlanjutan. Sementara Direksi mengintegrasikan dan mengimplementasikan kedalam operasional, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan perusahaan.
MPM juga telah mengadopsi standar internasional seperti IFRS S1 dan S2 untuk memastikan bahwa risiko dan peluang keberlanjutan terintegrasi dalam setiap keputusan strategis.
“MPM sudah terlebih dahulu mencoba mengadopsi IFRS S1 dan S2 untuk memastikan bahwa risiko dan peluang keberlanjutan itu terintegrasi dalam setiap keputusan strategis,” tambahnya.
Empat Pilar Keberlanjutan
Dalam strategi keberlanjutan terbaru, MPM mengusung empat pilar utama, yaitu better environment, sustainable business, employee wellbeing, dan community wellbeing. Dari sisi sosial, perusahaan memfokuskan kontribusi pada pendidikan, ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial.
“Strategi kami dirancang untuk mendorong pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan kebutuhan lokal serta keselarasan pada tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Natalia.
Pendekatan yang digunakan juga mengedepankan konsep Creating Shared Value (CSV), sehingga program CSR tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga mendukung keberlanjutan bisnis.
“Setiap inisiatif sosial kami usahakan dirancang dengan pendekatan CSV sehingga manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan usaha kami dalam jangka panjang,” katanya.
Program CSR Unggulan: SrikandiPreneur
Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan adalah SrikandiPreneur, inisiatif pemberdayaan ekonomi bagi istri para pengemudi di MPM Rent.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas UMKM keluarga melalui pelatihan, pendampingan usaha, hingga dukungan modal.
“Inisiatif pemberdayaan ekonomi ini ditujukan bagi para istri pengemudi di MPM Rent yang menjalankan UMKM, untuk mendorong kemandirian finansial keluarga. Jadi dirancang untuk mendorong kemandirian finansial keluarga melalui penguatan kapasitas usaha mikro yang telah dijalankan para peserta. Sehingga pertumbuhan ekonomi keluarga dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan,” jelas Natalia.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas pelatihan, tetapi juga mencakup edukasi kewirausahaan, pendampingan langsung, hingga advokasi legalitas usaha.
“Kami berikan bimbingan, kami berikan tambahan dana, kami berikan modal usaha untuk bisa mengelola usahanya lebih terstruktur sehingga meningkatkan penghasilan keluarga,” ujarnya.
Hasilnya, program ini menunjukkan dampak signifikan. Beberapa peserta bahkan mampu meningkatkan pendapatan hingga lebih dari dua kali lipat.
“Tercatat peserta mengalami peningkatan rata-rata pendapatan lebih dari 100 persen, yang mencerminkan dampak program yang signifikan terhadap perkembangan usaha,” ungkap Natalia.
Selain itu, peningkatan kapasitas peserta juga terlihat dari aspek pengetahuan dan pengembangan usaha.
“Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan signifikan dari rata-rata nilai awal 61 menjadi 100,” tambahnya.
Selain Program SrikandiPreneur yang menjadi bagian dari strategi besar MPM dalam mengintegrasikan CSR dengan rantai nilai bisnis, perseroa juga memeiliki program unggulan lainnya.
Hal ini juga terlihat pada program lain seperti Life Skill Training Centre, yang mencetak tenaga kerja siap pakai, hingga program MILAH (Mitra Olah Sampah) yang mendukung ekonomi sirkular. “Seluruh program ini sangat terkait dengan bisnis kami,” kata Natalia.
Di sisi lingkungan, MPM juga menjalankan rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk pengembangan budidaya kepiting soka yang telah meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
“Kami membantu penanaman 100.000 bibit mangrove dan memberdayakan masyarakat sehingga meningkatkan pendapatan mereka,” ujarnya.
Mendorong Budaya Keberlanjutan
Upaya keberlanjutan MPM juga didukung oleh implementasi operasional yang lebih efisien, termasuk pengurangan konsumsi energi, pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle), serta pemantauan kinerja ESG melalui dashboard internal. “Kami memiliki ESG dashboard untuk memantau kinerja ESG secara konsisten,” ujarnya.
Seluruh data yang dikumpulkan dilaporkan secara berkala kepada manajemen dan diaudit untuk memastikan keandalan serta transparansi.
Dengan strategi yang terintegrasi dan berbasis data, MPM optimistis dapat terus memperkuat kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis.
“Dengan pendekatan ini, ESG bukan sekadar fungsi pendukung tetapi menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan di seluruh organisasi,” tegas Natalia.
Melalui program seperti SrikandiPreneur, MPM menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal kepatuhan, melainkan juga tentang menciptakan nilai ekonomi baru yang inklusif dan berdampak luas bagi masyarakat.
