Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Indeks di PT Bursa Efek Indonesia ini anjlok sebesar 2,03% atau terpangkas 144,42 poin ke level 6.956,80 dari posisi sebelumnya di kisaran 7.101,22.
Tekanan jual mendominasi sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 567 saham tercatat turun, hanya 133 saham yang menguat, sementara 105 saham stagnan. Aktivitas transaksi tergolong tinggi dengan total volume perdagangan mencapai 47,85 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp21,61 triliun.
Pelemahan IHSG juga menandai kembalinya indeks ke bawah level psikologis 7.000, yang sebelumnya menjadi area penopang penting. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar saham domestik dalam jangka pendek.
Secara sektoral, penurunan diperkirakan terjadi merata, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks. Koreksi pada saham big caps membuat penurunan IHSG semakin dalam dan sulit tertahan.
Dari sisi eksternal, sentimen global masih menjadi faktor utama. Sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memicu kekhawatiran suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Kondisi ini mendorong aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, aksi ambil untung juga memperbesar tekanan. Setelah sempat menguat dalam beberapa waktu terakhir, investor memilih merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dari dalam negeri, pelaku pasar cenderung berhati-hati menunggu rilis data ekonomi terbaru serta perkembangan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi arah pasar ke depan.
Secara teknikal, pelemahan ke bawah 7.000 membuka peluang IHSG melanjutkan koreksi menuju area support berikutnya di kisaran 6.900 hingga 6.850. Sementara itu, jika terjadi rebound, level 7.000 akan menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus.
Pelaku pasar disarankan untuk tetap selektif dan mencermati saham dengan fundamental kuat di tengah volatilitas yang meningkat.
Data AI
