Jakarta, TopBusiness — Melalui program CSR yang dijalankan, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Produksi Sungai Pakning menunjukkan komitmen kuatnya dalam menjaga kelestarian ekosistem gambut.
Di program CSR ‘Gambut Lestari, Pangan Menghidupi’, Pertamina Patra Niaga RU II Sungai Pakning mengintegrasikan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pelestarian gambut, hingga pengembangan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan berkelanjutan di wilayah Kabupaten Bengkalis, Riau.
Supervisor General Affair PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Produksi Sungai Pakning, Iswandi mengatakan, program tersebut lahir dari kebutuhan untuk menjawab persoalan kerusakan gambut dan tingginya risiko karhutla yang diperparah oleh perubahan iklim.
“Fenomena perubahan iklim memperburuk kondisi tersebut melalui peningkatan suhu, musim kemarau yang lebih panjang, dan penurunan kelembapan lahan. Di Indonesia, kejadian El Nino terbukti meningkatkan risiko karhutla secara signifikan terutama di wilayah gambut Sumatera dan Kalimantan,” ujarnya di hadapan dewan juri TOP CSR Awards 2026, Rabu (13/5/2026).
Lebhi lanjut Iswandi menjelaskan, lahan gambut memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon dunia, namun menjadi sangat rentan terbakar ketika mengalami pengeringan akibat perubahan tata air maupun musim kering ekstrem.
“Kebakaran gambut juga berbeda dengan kebakaran biasa karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan. Di sisi lain, keterbatasan sumber penghidupan masyarakat juga menjadi faktor penyebab kerentanan karhutla,” kata Iswandi.
Berangkat dari kondisi tersebut, perusahaan menjalankan program “Gambut Lestari, Pangan Menghidupi” sejak 2023 melalui pendekatan kolaboratif bersama masyarakat. Program difokuskan pada tiga aspek utama, yakni penanganan karhutla, pelestarian lahan gambut, serta pemanfaatan lahan gambut berbasis ekonomi masyarakat.
“Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan pemadaman, tetapi harus disertai dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam aspek penanganan karhutla, perusahaan melakukan latihan gabungan lintas sektor bersama masyarakat dan pemerintah, sekaligus mengembangkan inovasi teknologi pemadaman. Upaya tersebut diklaim berhasil mendukung pemadaman di 100 hektare lahan gambut dengan proses yang lebih cepat.
“Kegiatan ini juga menghantarkan salah satu local hero kami sebagai penerima Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan,” ungkapnya.
Sementara pada aspek pelestarian gambut, perusahaan mengembangkan pengelolaan tata air gambut melalui inovasi Akurat atau Alat Pemantau Air Gambut untuk memonitor kondisi hidrologis secara lebih efektif.
“Inovasi ini memungkinkan pengelolaan gambut dilakukan secara lebih adaptif berbasis data lapangan sehingga kondisi muka air dapat dijaga pada tingkat aman untuk mendukung keberlanjutan ekosistem gambut,” jelas Iswandi.
Program rehabilitasi vegetatif juga dilakukan melalui penanaman 675 bibit kopi liberika dan 500 tanaman khas gambut. Menurutnya, kopi liberika dipilih karena adaptif terhadap lahan gambut sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan sumber penghidupan masyarakat,” katanya.
Dampak Nyata
Apiknya, program tersebut turut memberikan dampak ekologis dengan tetap terjaganya tiga jenis flora dan tiga jenis fauna terancam punah di kawasan program. Selain itu, indeks keanekaragaman hayati tercatat sebesar 2,98 dengan simpanan karbon mencapai 8,77 ton karbon per hektare.
Tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, program juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pertanian, perikanan, dan peternakan terintegrasi berbasis lahan gambut.
Pada sektor pertanian, perusahaan mengembangkan 10 komoditas sayur dan buah adaptif seperti kangkung, sawi, pakcoy, melon, hingga pisang. Program tersebut mampu meningkatkan penghasilan masyarakat hingga Rp1,8 juta per bulan per orang dengan omzet pertanian mencapai Rp85,6 juta per tahun.
Di sektor perikanan, masyarakat membudidayakan tiga jenis ikan dengan kapasitas panen mencapai 3,3 ton per tahun dan omzet sebesar Rp138 juta per tahun.
“Kegiatan ini menjadi alternatif sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat sekitar gambut,” ujarnya.
Sedangkan pada sektor peternakan, perusahaan mengembangkan 20 ekor sapi dengan sistem pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak melalui pendekatan ekonomi sirkular. Seluruh operasional program juga telah menggunakan 100 persen energi baru terbarukan.
Program ini turut memperkuat kelembagaan masyarakat melalui pembentukan Kelompok Tani Hutan Sukajadi, Kelompok Tani Sumber Rezeki, dan Kelompok Usaha Ikan Air Tawar Mandiri. Seluruh hasil produksi masyarakat juga telah terserap pasar lokal, termasuk untuk kebutuhan industri dan program pemberian makanan tambahan di Posyandu.
Iswandi menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari aspek lingkungan, tetapi juga keberlanjutan kehidupan masyarakat di kawasan gambut.
“Gambut Lestari bukan tentang menjaga hutan tetap hijau, tetapi memastikan kehidupan, khususnya bagi masyarakat di sekitarnya terus tumbuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi pelestarian dan pemanfaatan gambut secara berkelanjutan menjadi fondasi penting bagi ketahanan lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat.
“Karena pada akhirnya gambut yang lestari akan menghadirkan pangan yang menghidupi dan alam yang terus memberi keberkahan bagi generasi hari ini maupun masa depan,” tutupnya.
