Jakarta, TopBusiness—Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp17.528 per dolar AS mulai memberikan efek terhadap sektor properti nasional, terutama melalui kenaikan biaya konstruksi, perlambatan proyek baru, hingga menurunnya penjualan properti primer.
“Namun pasar rumah sekunder masih menunjukkan tingkat resiliensi yang relatif terjaga,” kata Kepala Riset Rumah123.com, Marisa Jaya, dalam keterangan yang diterima Redaksi TopBusiness.id, belum lama ini.
Resiliensi itu seiring perubahan perilaku konsumen yang kini semakin rasional dan selektif dalam membeli hunian.
Flash Report Mei 2026 by Rumah123 mencatat harga rumah sekunder nasional masih tumbuh sebesar 0,1% secara bulanan (MoM/month on month) dan 0,8% secara tahunan (YoY/year on year) pada April 2026.
Sebanyak 11 kota masih mencatatkan pertumbuhan harga tahunan positif, dipimpin Denpasar sebesar 2,0%, Bogor 1,8%, dan Surakarta 1,5%.
Stabilnya pergerakan harga rumah sekunder terjadi di tengah perlambatan sektor properti secara nasional, kata Marisa.
Bank Indonesia sebelumnya melaporkan penjualan properti residensial primer pada kuartal I 2026 terkontraksi sebesar 25,67% secara tahunan, mencerminkan tekanan daya beli masyarakat serta kenaikan biaya pembangunan akibat volatilitas global dan depresiasi Rupiah. Kondisi tersebut menunjukkan adanya divergensi antara pasar primer dan sekunder. Di satu sisi, pengembang mulai menghadapi tekanan dari kenaikan biaya konstruksi dan perlambatan penjualan unit baru.
“Namun di sisi lain, pasar sekunder masih ditopang oleh kebutuhan end-user, penyesuaian harga yang lebih fleksibel, kesiapan unit untuk dihuni, serta preferensi konsumen terhadap kawasan dengan harga yang relatif lebih kompetitif,” kata Marisa.
