TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

INDEF: Inflasi Indonesia Tertinggi di Asean

Nurdian Akhmad
18 April 2018 | 16:29
rubrik: Ekonomi
BPS: Target Inflasi 2017 Diharap Tercapai

Ilustrasi/Istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Institute for Developement of Economic (INDEF) menilai inflasi Indonesia saat ini memang relatif rendah, tapi secara regional masih yang tertinggi di Asean.

Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto mengatakan, inflasi umum berada dalam kategori rendah, namun harga pangan tidak dapat dikatakan murah. Harga pangan relatif masih tinggi meskipun inflasi dalam kategori terkendali.

“Inflasi Indonesia rendah, tetapi menjadi yang paling tinggi dibanding negara-negara Asean. Thailand itu rendah sekali inflasinya. Poinnya adalah negara eksportir pangan wajar kalau inflasi lebih stabil,” kata Eko di kantornya, Rabu (18/4/2018).

Jika dirunut dalam beberapa tahun terakhir, inflasi inti memang cenderung turun, namun inflasi yang bersumber dari barang bergejolak masih cukup tinggi. Akibat daya beli masyarakat menjadi rendah.

“Inflasi kita boleh dibilang rendah. Tapi volatile food masih sekitar enam persen. Artinya volatile food masih dua kali dibanding headline nya,” ujar dia.

Ia menjelaskan, stabilitas inflasi dan nilai tukar mata uang suatu negara sangat dipengaruhi oleh faktor apakah negara tersebut mempu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri atau impor.

Eko mengingatkan, jangan sampai pemerintah berlarut dalam euforia angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ini karena impornya juga masih besar.

“Kalau terus-terus dibanggakan GDP Indonesia paling besar di Asean, tapi urusan impor tidak bisa diselesaikan itu sama saja. Ketika indikator di bedah ke level-level lebih mikro itu semakin terurai. Sehingga messagenya (pesanna) adalah upaya untuk bangun kedaulatan pangan sangat urgent untuk dilakukan ke depan,” ujar dia.

Eko mengatakan, terus membesarnya impor pangan akan berakibat pada rentannya stabilitas perekonomian, khususnya inflasi dan nilai tukar. Lebih parah lagi, lanjutnya, jika ketergantungan impor pangan tidak segera disudahi maka akselerasi pertumbuhan ekonomi kian sulit terealisasi.

BACA JUGA:   BPS: PPKM Turunkan Mobilitas Masyarakat
Tags: indefinflasi
Previous Post

Budayakan Iptek, Kemenristekdikti Gelar Indonesia Science Day

Next Post

204 Saham Turun, IHSG Menguat Tipis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR