Jakarta, TopBusiness – Emiten tekstil dan garmen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) mengaku tetap optimistis menghadapi tahun ini, kendati dihadapi oleh tantangan isu geopolitik dan depresiasi rupiah yang sudah ke level Rp18.000.
Namun dengan kondisi begitu, PBRX tetap yakin bisa membalikkan arah kinerja keuangan di tahun 2026 bakal mencatatkan kinerja keuangan yang positif.
Setelah sempat mengalami penurunan kinerja pada periode 2024–2025, perseroan kini menerapkan strategi bisnis yang lebih konservatif namun terukur, dengan membidik pertumbuhan penjualan (sales) sekitar 10% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Direktur Keuangan Pan Brothers, Fitri R. Hartono, mengungkapkan bahwa perseroan memilih untuk bersikap realistis namun tetap optimistis di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global.
Fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat fundamental operasional internal alih-alih melakukan ekspansi fisik secara agresif.
“Tahun 2026 kita masih memproyeksikan naik sedikit dari 2025 untuk sales-nya sekitar 10%. Untuk proses (keuntungan) kita tetap targetkan naik, khususnya pada bottom line operasional. Kami lebih suka fokus pada operasional,” ujar Fitri kepada media, saat ditemui selepas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Tahun 2025 lalu, PBRX mencatatkan penjualan sebesar USD 273,3 juta. Ini mencerminkan pendekatan konswrvatif yang diambil untuk memperkuat fondasi internal. Termasuk optimalisasi modal kerja dan seleksi order yang lebih strategis.
“Kinerja operasional secara keseluruhan menunjukkan perbaikan yang signifikan. Gross profit margin mengalami peningkatan di 2025 lalu menjadi 8,5℅ dari sebelumnya 7,8% di 2024. Ini mencerminkan efisiensi biaya yang lebih baik dan manajemen produksi yang lebih optimal. Laba (rugi) usaha membaik dari 1,4℅ di 2024 menjadi 0,3℅ di 2025,” terang dia.
Sementara untuk total aset 2025 seebsar USD 208,9 juta dipengaruhi oleh piutang bersih, penurunan aset tetap akibat akumulasi penyusutan, serta pengurangan aset pajak tangguhan akibat restrukturiaaai pinjaman.
Dengan jumlah ekuitas pada tahun 2025 mencapai USD 59,1 juta.
“Keberhasilan restrukturisasi pinjaman tercermin dalam rasio lancar yang mengalami prningkatan menjadi 341,2℅ di tahun 2025 dibandingkan 52,5% dibtahun 2024 dengan rasio pinjaman bersih terhadap total aset yang membaik dari 123,3% di 2024 menjadi 34,0% di 2025. Ini mencerminkan peningkatan kesehatan likuiditas dan struktur keuangan,” katanya.
Fitri kembali menjelaskan, keterbatasan modal kerja pasca-proses restrukturisasi perusahaan membuat PBRX harus jeli dalam mengalokasikan sumber daya. Alih-alih membangun pabrik baru, PBRX memilih melakukan “ekspansi” dari dalam lewat digitalisasi.
“Kalau rencana ekspansi fisik seperti bangun pabrik baru itu tidak ada. Tapi di dalam pabrik sendiri, kita terus lakukan otomisasi dan digitalisasi dengan beberapa mesin dan software baru. Dengan begitu, kita berharap efisiensinya bisa naik. Jadi ekspansinya lebih ke output yang lebih efisien,” jelasnya.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur siap pakai berdasarkan pesanan (job order), efisiensi menjadi kunci mati. PBRX baru akan memproses bahan baku setelah mengantongi pesanan dari pemilik merek (brand).
Oleh sebab itu, ketepatan produksi dan pengelolaan modal kerja yang ketat menjadi penentu performa bottom line perusahaan.
Dampak Penguatan Dolar AS: Natural Hedging
Di tengah fluktuasi nilai tukar di mana mata uang dolar AS cenderung menguat terhadap rupiah, PBRX mengaku tidak terlalu terdampak secara ekstrem. Hal ini dikarenakan struktur keuangan perusahaan yang secara alami telah menerapkan lindung nilai (natural hedging).
“Untuk mata uang, kita memang banyak pakai US Dollar karena penjualan ekspor menggunakan US Dollar. Tetapi pembelian bahan baku sebagian besar, sekitar 60% sampai 65%, juga menggunakan US Dollar. Jadi sebenarnya kita natural hedge,” kata Fitri.
Kendati biaya gaji karyawan (salary) berbasis Rupiah seolah terlihat lebih kecil saat Dolar menguat, Fitri menekankan bahwa yang paling dibutuhkan eksportir saat ini adalah stabilitas nilai tukar.
“Isu utamanya adalah kestabilan. Kalau tidak stabil, buyer (pembeli) juga kadang menjadi khawatir,” imbuhnya.
Hingga saat ini, pasar global seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia tetap menjadi tujuan utama ekspor PBRX.
Di tahun 2026 ini, PBRX juga mengonfirmasi telah melakukan penjajakan dengan beberapa komitmen dari buyer baru untuk mendongkrak penjualan.
Meski demikian, perseroan tetap membatasi volume order baru tersebut demi menjaga napas arus kas.
“Penjajakan buyer baru ada beberapa, cuma secara nilai sales masih kecil karena baru mulai (start). Nilainya antara USD 2 juta sampai USD 3 juta. Kami harus konservatif, karena kalau mengambil order terlalu banyak, modal kerjanya juga harus dicukupkan. Jadi kami fokus pada kapabilitas yang ada dulu,” pungkas Fitri.
Sebagai informasi, dalam RUPS yang digelar, PBRX juga melakukan penyesuaian Anggaran Dasar perusahaan demi mematuhi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) tahun 2025 yang baru.
Manajemen menegaskan tidak ada perubahan pada kegiatan usaha utama perseroan, melainkan murni penyesuaian administratif regulasi.
Selain itu, RUPS juga mengesahkan laporan tahunan akuntan publik serta pengangkatan kembali jajaran pengurus yang masa jabatannya telah hab
