Jakarta, TopBusiness – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Rabu (24/6/2026), diperkirakan akan bergerak dalam pola sideways di tengah beragam sentimen yang memengaruhi pasar regional dan global.
Tim riset Samuel Sekuritas Indonesia dalam publikasi hariannya menyebutkan bahwa pasar saham Indonesia masih dibayangi kehati-hatian investor menyusul pelemahan bursa global, terutama di Amerika Serikat, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga yang tetap ketat dari Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,09%, sementara S&P 500 turun lebih dalam sebesar 1,44% dan Nasdaq melemah 2,21%.
Pelemahan Wall Street dipicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham teknologi global. Investor mulai mengkhawatirkan besarnya belanja investasi di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dinilai dapat menekan profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek. Di saat yang sama, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed turut menambah tekanan terhadap pasar.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun 1,19 basis poin menjadi 4,497%. Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) menguat 0,38% ke level 101,41, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman.
Dari pasar komoditas, mayoritas harga komoditas utama juga mengalami pelemahan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,15% menjadi USD73,21 per barel. Sementara minyak Brent melemah 1,05% ke level USD77,08 per barel.
Di sisi lain, harga batu bara masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,08% menjadi USD131,60 per ton. Harga minyak sawit mentah (CPO) terkoreksi 0,30% ke level MYR4.658 per ton, sedangkan harga emas turun cukup tajam sebesar 1,74% menjadi USD4.117 per ons.
Tekanan juga terlihat pada bursa saham Asia. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,82%, Nikkei Jepang merosot 3,55%, dan Shanghai Composite melemah 1,37% pada perdagangan kemarin.
Sejalan dengan tren regional tersebut, IHSG ditutup melemah 0,25% ke posisi 6.101,33. Aktivitas investor asing masih menunjukkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp311,5 miliar.
Nilai tersebut terdiri atas aksi jual bersih Rp348 miliar di pasar reguler yang sebagian diimbangi oleh pembelian bersih Rp36,5 miliar di pasar negosiasi.
Saham-saham yang mencatatkan aksi jual bersih terbesar oleh investor asing di pasar reguler antara lain BMRI sebesar Rp386,5 miliar, DSSA Rp95,4 miliar, dan NATO Rp72,8 miliar.
Sebaliknya, saham yang paling banyak diburu investor asing adalah BBRI dengan nilai pembelian bersih Rp147,5 miliar, diikuti BREN sebesar Rp126,5 miliar dan TPIA sebesar Rp101,7 miliar.
Dari sisi pergerakan indeks, saham-saham yang menjadi penopang utama penguatan IHSG adalah BBCA, BYAN, dan MORA. Sementara itu, saham TLKM, BMRI, dan AMMN menjadi pemberat utama pergerakan indeks.
Pada pembukaan perdagangan pagi ini, bursa Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks KOSPI Korea Selatan dibuka menguat sekitar 2,70%, sedangkan Nikkei Jepang kembali dibuka melemah sekitar 0,79%.
Dengan kondisi tersebut, Samuel Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak terbatas atau sideways sepanjang perdagangan hari ini. Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan sentimen global, khususnya terkait arah kebijakan moneter The Fed, dinamika saham-saham teknologi dunia, serta pergerakan harga komoditas yang berpengaruh terhadap saham-saham berbasis sumber daya alam di Indonesia.
Di tengah sentimen yang masih bercampur, investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham dan mencermati perkembangan pasar global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
