Jakarta, TopBusiness – Dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah terus menjadi perhatian berbagai negara karena berpotensi memengaruhi harga energi, rantai pasok global, hingga arus investasi. Meski demikian, Pemerintah menilai berbagai perkembangan tersebut juga membuka peluang bagi terciptanya stabilitas ekonomi global apabila penyelesaian perdamaian dapat segera terwujud.
“Perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap global outlook, terhadap perekonomian global. Dan yang kedua juga akan memperbaiki supply chain. Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tapi yang jelas perdamaian itu kontribusinya positif terhadap perekonomian,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam wawancara pada program Top Economy Metro TV dengan tajuk “Pesan Penting Nakhoda Tim Ekonomi” di Jakarta, Selasa (23/06).
Pada kesempatan tersebut, Menko Airlangga menjelaskan bahwa ketidakpastian global akibat konflik geopolitik menyebabkan pasar menjadi semakin sulit diprediksi, hal ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan menjaga likuiditas. Menurut Menko Airlangga, kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan yang aman dan menarik bagi investasi global. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih berada di atas 4 persen serta stabilitas kawasan yang didukung negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor. Di tengah ketidakpastian global, berbagai kawasan ekonomi khusus di Indonesia juga menunjukkan kinerja positif dengan tingkat keterisian yang tinggi dan bahkan mendorong rencana ekspansi di sejumlah lokasi sebagai bagian dari realignment rantai pasok global.
Pemerintah juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Menko Airlangga menjelaskan bahwa langkah Bank Indonesia dalam menjaga daya tarik instrumen rupiah diharapkan dapat mengurangi tekanan arus modal keluar (capital outflow), yang selanjutnya perlu didukung dengan masuknya investasi-investasi berkualitas.
“Kerjasama antara fiskal moneter ini sudah sangat baik. Karena kami juga secara temporer bertemu. Dan kita memonitor dana pihak ketiga yang diperbankan, kemudian penyaluran kredit, dan juga tentu likuiditas di market ini sangat diperlukan,” tegas Menko Airlangga.
Selain menjaga stabilitas domestik, Pemerintah juga terus memperluas akses pasar dan investasi melalui kerja sama ekonomi internasional. Proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. OECD merupakan kelompok ekonomi yang mencakup 38 negara dengan nilai pasar mencapai sekitar USD64 triliun. Keanggotaan OECD diharapkan dapat memperkuat kualitas regulasi nasional, meningkatkan kepercayaan investor, sekaligus memperluas akses Indonesia ke pasar global yang lebih besar.
Selanjutnya, Menko Airlangga menjelaskan bahwa dalam lanskap ekonomi dunia yang semakin berbentuk multi-blok, Indonesia juga terus memperluas kerja sama ekonomi melalui berbagai forum strategis, termasuk Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Khusus untuk IEU-CEPA, perjanjian tersebut akan membuka akses yang lebih kompetitif bagi produk manufaktur Indonesia ke pasar Uni Eropa yang memiliki Produk Domestik Bruto sekitar USD21 triliun dengan jumlah penduduk mencapai 723 juta jiwa. Implementasi penuh IEU-CEPA nantinya akan menghapus tarif masuk berbagai produk Indonesia ke pasar Eropa yang saat ini masih berada pada kisaran 10 hingga 20 persen.
Lebih lanjut, untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional pada Semester II-2026, Pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun. Paket tersebut terdiri atas stimulus transportasi dan pariwisata sebesar Rp2,04 triliun, program magang dan vokasi sebesar Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan sebesar Rp18,04 triliun.
Selanjutnya, Menko Airlangga menyampaikan bahwa dalam rangka menghadapi berbagai risiko global ke depan, Pemerintah terus memperkuat strategi diversifikasi sumber pasokan energi dan bahan baku. Pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 dan berbagai konflik geopolitik menjadi pelajaran penting agar Indonesia tidak bergantung pada satu negara atau satu sumber pasokan tertentu. Saat ini, ketergantungan impor minyak Indonesia dari kawasan Timur Tengah hanya sekitar 20 persen, sementara alternatif pasokan telah tersedia dari berbagai negara lain, termasuk sejumlah negara di kawasan Afrika.
Pemerintah juga terus mengantisipasi potensi dampak fenomena El Nino terhadap ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi pertanian serta kesiapan berbagai sarana pendukung, termasuk program pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air di wilayah pertanian yang berpotensi mengalami kekeringan.
“Ekonomi Indonesia dasarnya solid. Dan usahanya kuat. Jadi resilient. Makanya kita akan terus dorong agar selain resilience, nanti bisa memakmurkan masyarakatnya,” pungkas Airlangga melalui website ekon.go.id.
