TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pemadaman Berulang di Sumatera Jadi Alarm Ketahanan Sistem Kelistrikan Indonesia

Albarsyah
26 June 2026 | 19:44
rubrik: Business Info
Pemadaman Berulang di Sumatera Jadi Alarm Ketahanan Sistem Kelistrikan Indonesia

Jakarta, TopBusiness – Pemadaman listrik berskala luas yang terjadi di Sumatera dalam satu bulan terakhir dinilai menjadi peringatan penting bagi Indonesia untuk mengevaluasi ketahanan sistem kelistrikan nasional. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai evaluasi tidak hanya perlu berfokus pada kemampuan sistem dalam menyalurkan listrik secara andal, tetapi juga pada kemampuan infrastruktur ketenagalistrikan untuk bertahan menghadapi kejadian ekstrem, termasuk cuaca buruk yang semakin sering terjadi akibat krisis iklim.

PLN menjelaskan, cuaca buruk menyebabkan dua sirkuit transmisi pada koridor timur bertegangan 500 kV mengalami trip, sehingga terjadi perpindahan aliran daya dari koridor timur menuju koridor barat bertegangan 275 kV. Perpindahan tersebut memicu fenomena osilasi tegangan dan frekuensi tinggi yang akhirnya mengaktifkan skema isolasi sistem. Akibatnya, sistem kelistrikan Sumatera terpisah menjadi dua wilayah, yakni Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, untuk mencegah gangguan yang lebih luas.

Dalam kondisi tersebut, wilayah utara mengalami kekurangan pasokan daya, sedangkan wilayah selatan mengalami kelebihan pasokan listrik. Sistem pertahanan di wilayah selatan mampu bekerja dengan baik sehingga tidak terjadi pemadaman. Sebaliknya, di wilayah utara frekuensi listrik terus menurun hingga menyebabkan pembangkit mengalami trip dan berujung pada pemadaman listrik.

Gangguan serupa kembali terjadi pada 4 Juni 2026. Sebanyak 12 menara transmisi milik PT PLN (Persero) dilaporkan mengalami kerusakan, baik roboh maupun bengkok, sehingga mengganggu pasokan listrik di sejumlah wilayah. Kerusakan terjadi pada dua jalur transmisi utama, yaitu Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Galang–Simangkuk dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan. Dugaan awal menunjukkan kerusakan tersebut juga berkaitan dengan hujan lebat disertai angin kencang.

BACA JUGA:   Tingkatkan Daya Saing dan Manfaat Ekonomi dari Dekarbonisasi Industri

Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengatakan dua kejadian tersebut menunjukkan bahwa sistem kelistrikan Indonesia perlu diuji bukan hanya dari sisi keandalan (reliability), tetapi juga dari sisi ketahanan (resilience). Menurutnya, keandalan merupakan kemampuan sistem untuk memasok listrik secara stabil dalam kondisi normal, sedangkan ketahanan adalah kemampuan sistem untuk bertahan, merespons, dan pulih dari kejadian yang tidak terduga, seperti badai, banjir, angin kencang, panas ekstrem, maupun bencana yang dipicu perubahan iklim.

“Pemadaman listrik di Sumatera menunjukkan bahwa sistem kelistrikan kita perlu dievaluasi lebih menyeluruh. Tantangannya bukan hanya bagaimana listrik bisa disalurkan secara andal setiap hari, tetapi juga bagaimana jaringan, pembangkit, dan infrastruktur pendukung mampu bertahan saat menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi,” ujar Deon dalam seri webinar Kerentanan Aset Tenaga Listrik terhadap Dampak Perubahan Iklim bertajuk Mengulik Penyebab Pulau Sumatra Gelap pada Kamis (25/6).

Menurut IESR, risiko tersebut semakin relevan seiring meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem akibat krisis iklim. Data World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan periode 2023–2025 menjadi tiga tahun terpanas dalam dataset utama, dengan rata-rata suhu global mencapai 1,48 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Sementara itu, data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperlihatkan bahwa bencana yang berkaitan dengan cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor terus mendominasi kejadian bencana di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 2021–2025, jumlah kejadian bencana dalam kategori tersebut mencapai hampir 18 ribu kejadian atau rata-rata sekitar 3.600 kejadian setiap tahun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode 2011–2015 yang mencatat sekitar 7.700 kejadian atau rata-rata sekitar 1.500 kejadian per tahun.

BACA JUGA:   Naik, Pangsa Pasar KPR Bank Syariah Indonesia

IESR menilai dampak cuaca ekstrem terhadap sistem kelistrikan tidak hanya berupa kerusakan besar seperti robohnya menara transmisi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat menurunkan efisiensi pembangkit, meningkatkan kebutuhan perawatan, mengganggu jaringan transmisi dan distribusi, serta memperbesar risiko terjadinya pemadaman listrik.

Karena itu, Deon menekankan bahwa risiko iklim harus menjadi bagian dari perencanaan sistem kelistrikan nasional. Menurutnya, infrastruktur listrik yang dibangun saat ini harus dirancang untuk menghadapi kondisi iklim di masa depan, bukan hanya berdasarkan pola cuaca pada masa lalu.

“Risiko iklim perlu masuk dalam perencanaan sistem kelistrikan nasional. Infrastruktur listrik yang dibangun hari ini harus mampu menghadapi kondisi iklim masa depan, bukan hanya berdasarkan pola cuaca masa lalu. Tanpa perencanaan yang adaptif, gangguan seperti yang terjadi di Sumatera dapat berulang di wilayah lain,” kata Deon.

IESR menilai Indonesia perlu mulai menempatkan ketahanan sistem kelistrikan sebagai prioritas dalam perencanaan energi. Upaya tersebut mencakup evaluasi kondisi jaringan transmisi dan distribusi, pemetaan wilayah rawan bencana iklim, peningkatan standar desain infrastruktur, pemanfaatan teknologi pemantauan, percepatan modernisasi jaringan, serta integrasi energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi.

Tags: IESR
Previous Post

Perkuat Likuditas, Pemerintah Tambah Dana SAL di Bank Himbara Jadi Rp 400 Triliun

Next Post

Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo Siap Genjot Indeks Pertanaman Hingga 3 Kali Setahun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR