Jakarta, TopBusiness – Di balik pertumbuhan pesat sebuah perusahaan, sering kali yang terlihat publik hanyalah peningkatan penjualan, ekspansi bisnis, atau lahirnya berbagai produk baru.
Namun, bagi PT Ethos Kreatif Indonesia, pertumbuhan justru dimulai dari sesuatu yang tidak selalu tampak di permukaan: membangun tata kelola perusahaan yang sehat.
Perusahaan yang bergerak di industri digital marketing dan produk herbal nasional itu memilih menata fondasi organisasi lebih dahulu sebelum memperbesar bisnis. Langkah tersebut diwujudkan melalui implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang secara bertahap dikembangkan sejak 2020 dan kini menjadi salah satu pilar utama strategi perusahaan.
Transformasi itu bukan tanpa alasan. Dari perusahaan yang awalnya berskala UMKM, Ethos Kreatif berkembang menjadi kelompok usaha dengan sekitar 1.500 karyawan yang mengelola berbagai lini bisnis, mulai dari digital marketing, manufaktur herbal, pergudangan, logistik, hingga distribusi nasional.
Direktur Utama PT Ethos Kreatif Indonesia, Lucky Hatreztyo, mengatakan pertumbuhan organisasi harus dibangun di atas sistem yang mampu menjaga keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.
“Sejak awal kami meyakini bahwa perusahaan yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan bisnis. Organisasi harus memiliki sistem yang baik agar mampu mengantisipasi berbagai risiko sekaligus membangun kepercayaan seluruh stakeholder,” ujar Lucky, saat mengikuti proses penjurian TOP GRC Awards 2026, beberap waktu lalu.
Menurutnya, filosofi tersebut menjadi alasan mengapa perusahaan mulai membangun struktur organisasi secara bertahap sejak 2020.
Momentum pandemi Covid-19 memang mendorong pertumbuhan permintaan produk herbal secara signifikan. Namun di saat yang sama, kompleksitas bisnis juga meningkat sehingga membutuhkan sistem tata kelola yang lebih matang.
Alih-alih hanya mengejar ekspansi penjualan, perusahaan justru memperkuat struktur organisasi, memperjelas pembagian fungsi, hingga membangun mekanisme pengawasan yang lebih sistematis.
Transparansi Menjadi Titik Awal
Bagi Lucky, implementasi GRC bukan sekadar memenuhi standar kepatuhan ataupun mengejar sertifikasi. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya transparansi di dalam perusahaan.
Ia mengaku memiliki pengalaman panjang di bidang manajemen risiko sebelum bergabung ke Ethos Kreatif. Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa keberhasilan tata kelola perusahaan bukan ditentukan oleh banyaknya dokumen, melainkan bagaimana seluruh organisasi memahami kondisi perusahaan secara terbuka.
“Saya tidak terlalu percaya GCG hanya menjadi jargon. Yang paling penting adalah transparansi informasi, independensi dalam pengambilan keputusan, tanggung jawab yang jelas, dan fairness. Ketika semua itu berjalan, kepercayaan organisasi akan terbentuk dengan sendirinya,” kata Lucky.
Karena itu, perusahaan mulai membuka akses informasi internal yang sebelumnya terbatas. Karyawan didorong memahami posisi perusahaan, target organisasi, hingga perkembangan bisnis sehingga muncul rasa memiliki (ownership) terhadap perusahaan.
Menurut Lucky, perubahan budaya tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan Ethos Kreatif berkembang lebih cepat tanpa kehilangan kendali organisasi.
GRC Dibangun Bertahap
Implementasi GRC di Ethos Kreatif tidak dilakukan secara instan. Perusahaan menyadari bahwa membangun sistem tata kelola membutuhkan investasi besar, baik dari sisi biaya maupun sumber daya manusia. Oleh karena itu, pendekatan yang dipilih adalah bertahap, menyesuaikan kapasitas organisasi.
Dalam pengembangan framework GRC, perusahaan mengacu pada berbagai standar nasional maupun internasional, antara lain pedoman OJK, KNKG, OCEG, COSO, ISO 31000:2018 untuk manajemen risiko, ISO 37000:2021 mengenai tata kelola, serta ISO 37301:2021 terkait compliance management.
Model tersebut diterapkan melalui pendekatan Three Lines Model, yakni unit bisnis sebagai lini pertama pengelola risiko, fungsi governance, legal, compliance dan risk management sebagai lini kedua, serta fungsi assurance independen sebagai lini ketiga.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan berbagai perangkat pendukung, mulai dari kebijakan kepatuhan, self assessment GCG, whistleblowing system, compliance assurance system, hingga strategi anti fraud.
Dalam presentasinya pada ajang TOP GRC Awards, perusahaan menjelaskan bahwa seluruh kerangka tersebut disusun untuk memastikan pengambilan keputusan berlangsung lebih transparan, akuntabel, sekaligus mampu mengendalikan berbagai risiko bisnis.
Namun begitu, dia melakukannya tidak tergesa-gesa. Maklum saja, sebagai perusahaan yang berbasis di Cilacap dan Purwokerto, tantangan terbesar adalah memperoleh SDM yang memiliki kompetensi tinggi. Artinya, keterbatasan SDM di wilayah selatan Jawa yang memahami GRC itu tentu menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, kata dia, perusahaan memilih membangun budaya GRC secara bertahap melalui pendidikan, pelatihan, peningkatan pemahaman, dan penyederhanaan proses agar mudah dipahami seluruh karyawan.
“Pendekatan bertahap justru membuat implementasi GRC lebih efektif dibanding langsung menerapkan standar yang terlalu kompleks,” katanya.
Manajemen Risiko Tak Berhenti di Dokumen
Meski kini telah memiliki sistem dokumentasi yang semakin lengkap, Lucky menilai manajemen risiko sejatinya bukan sekadar mengisi matriks risiko atau menyusun laporan formal.
Baginya, inti manajemen risiko adalah bagaimana organisasi mampu mengambil tindakan cepat terhadap setiap potensi persoalan.
“Kalau mengetahui problem utama perusahaan itu sudah 50 persen solusi. Sisanya adalah aksi. Dokumentasi memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana organisasi bergerak mengatasi risiko tersebut,” ujarnya.
Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan mengandalkan koordinasi rutin melalui rapat direksi, rapat koordinasi bulanan, hingga komunikasi intensif antarfungsi untuk memastikan setiap isu strategis segera ditindaklanjuti.
Mulai 2026, seluruh proses tersebut mulai terdokumentasi lebih sistematis sehingga dapat menjadi dasar penyusunan indikator kinerja, evaluasi risiko, maupun pengambilan keputusan perusahaan.
Kepatuhan Menjadi Kunci Bisnis Herbal
Sebagai perusahaan yang memasarkan produk herbal secara nasional, kepatuhan terhadap regulasi menjadi aspek yang tidak dapat ditawar.
Lucky menjelaskan regulator utama perusahaan adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Karena itu, seluruh proses mulai dari pengembangan produk, perizinan edar, distribusi hingga materi promosi harus memenuhi ketentuan regulator.
Perusahaan juga terus memperkuat fungsi legal dan compliance untuk memastikan setiap perubahan regulasi dapat segera direspons tanpa mengganggu operasional bisnis.
Di sisi lain, Ethos Kreatif juga tengah memperkuat sistem teknologi informasi guna mendukung keamanan data konsumen, termasuk implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
“Dalam aspek pemasaran, seluruh materi promosi terlebih dahulu diajukan kepada BPOM untuk mendapatkan verifikasi sehingga terhindar dari pelanggaran etika periklanan maupun klaim yang berlebihan (overclaim),” terangnya.
Budaya Menjadi Pondasi Keberlanjutan
Bagi Ethos Kreatif, implementasi GRC tidak berhenti pada penyusunan struktur organisasi ataupun kepatuhan terhadap regulasi. Seluruh sistem tersebut kemudian diterjemahkan menjadi budaya perusahaan melalui nilai-nilai yang disebut Corporate Nawasila.
Nilai tersebut menekankan integritas, pelayanan kepada pelanggan, profesionalisme, tanggung jawab sosial, hingga keyakinan bahwa keberhasilan bisnis harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perusahaan juga aktif menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial, antara lain bantuan kemanusiaan bagi korban banjir di Aceh Tamiang, Langsa dan Langkat, aksi bersih Pantai Teluk Penyu Cilacap, hingga kegiatan donor darah bersama PMI.
Menurut Lucky, seluruh upaya tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan perusahaan tidak hanya bertumbuh secara bisnis, tetapi juga mampu bertahan lintas generasi.
“Owner kami ingin perusahaan ini dibangun secara profesional sehingga siapapun yang nanti mengelolanya memiliki sistem yang kuat. GRC bagi kami bukan tujuan akhir, melainkan fondasi agar perusahaan dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan,” tutup Lucky.
