Jakarta, TopBusiness – Penerapan GRC (Governance, Risk, and Compliance) menjadi concern di banyak perusahaan, termasuk bagi PD BPR Rokan Hilir (Bank Rohil). Hal ini terungkap ketika Bank Rohil hadir di sesi penjurian TOP GRC Awards 2024 yang digelar secara virtual oleh Majalah TopBusiness, Selasa (16/7/2024) lalu. Keikutsertaan Bank Rohil di TOP GRC Awards 2024 ini merupakan kali pertama bagi perusahaan di ajang bergengsi ini.
“Ini adalah keikutsertaan kami yang pertama kali dalam TOP GRC 2024. Kami ikut serta dalam award ini, tentu ingin memberikan impact yang positif, (serta) berharap dapat impact yang positif terhadap perkembangan bisnis kami,” ujar Wan Muhamad Kudri, Direktur Utama PD BPR Rokan Hilir yang turut hadir dalam presentasi penjurian TOP GRC Awards 2024 kali ini.
Apa yang disampaikan Wan Muhamad Kudri sejalan dengan apa yang diungkap Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2024, M. Lutfi Handayani mengatakan bahwa tujuan dari penyelenggaraan TOP GRC Awards ini adalah untuk mendorong peningkatan bisnis perusahaan melalui pengembangan kebijakan dan implementasi GRC Terintegrasi.
Untuk diketahui tema yang diambil dalam TOP GRC Awards 2024 adalah Leadership For Sustainable Impact: GRC, ESG, and SDGs.
Strategi dan Kinerja Bisnis
Sebagai perusahaan yang bergerak di industri perbankan, sebagaimana dikatakan Azlan, Kepala Satuan Kerja Internal Audit, Bank Rohil memiliki visi menjadi bank yang sehat, professional dan terpercaya dengan sepenuh hati melayani masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi negeri.
“Adapun strategi bisnis yang kami lakukan di BPR Rokan Hilir dalam beberapa tahun ini kami terus meningkatkan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Kita kalau dari Riau ini mungkin kami yang belum duduk badan hukum menjadi PT masih perusahaan daerah. Jadi, supaya bisnis kami berkelanjutan kami meningkatkan melalui perubahan badan hukum menjadi PT BPR Rohil, terus ada Penguatan Modal melalui Modal disetor, penguatan produk bank, inovasi dan optimalisasi skala bisnis serta penambahan jaringan kantor,” jelas Azlan.
Strategi bisnis yang diusung Bank Rohil lainnya adalah meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia yang ada di perusahaan serta mengembangkan teknologi informasi.
“(Terkait) Pengembangan Teknologi Informasi, kami Bank Rokan Hilir tidak berdiri sendiri, kami bekerja sama dengan PT KBM System, terkait rencana program Database Engine Corebanking (On line-Real Time) sehingga dapat terintegrasi dengan pihak lain seperti Payroll pembayaran Gaji Pegawai (PNS/Swasta). Karena ke depan kami kami akan melakukan pembayaran payroll gaji PNS di lingkung Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, adanya payment point online dan mobile banking,” ujarnya.
Lalu, pada paparan selanjutnya, Azlan mengungkap soal kinerja perusahaan dalam dua tahun terakhir. Di mana secara umum, Bank Rohil mengalami kenaikan pada beberapa rasio kinerjanya.
“Kalau kami lihat dari sini, total aset kita jika dibandingkan tahun 2022 sampai 2023, kita mengalami kenaikan asset kita 4,54%. Artinya, ada kenaikan dari Rp158 miliar menjadi Rp175 miliar. Namun, di tahun 2022 sampai 2023, tabungan sedikit terjadi penurunan sekitar 8,8%,” ujarnya.
“Terus kredit kita meningkat sebesar 20%, dari tahun 2022 dari posisi Rp112 miliar menjadi Rp136 miliar. Namun terjadi penurunan ABA, ini kami di tahun 2023, kami jor-joran melakukan pencarian kredit konsumtif. Jadi, kami membiayai perangkat-perangkat desa yang ada di Kabupaten Rokan Hilir. Harapannya ke depan kita memang ingin mengambil kas daerah itu nanti sebagian ditempatkan di Bank Rokan Hilir. Jadi, kita ke depannya lebih mudah untuk melakukan pembayaran gaji PPPK, sertifikasi, dan lain-lainnya. Jadi, harapan kami seperti itu nantinya,” tandasnya.
Untuk dari segi laba/rugi Bank Rohil mengalami kenaikan hanya 1,2%. Sementara modal inti perusahaan terjadi kenaikan 4,74%. “Namun, tahun 2023 (PPAP) kita pecah telur dari dua digit menjadi 9,87%,” singkatnya.
Penerapan GRC
Sebelum membahas lebih lanjut terkait penerapan GRC, Azlan mengungkap soal pandangan direksi terkait bisnis berkelanjutan. Disebutkan bahwa bisnis yang berkelanjutan merupakan model bisnis yang tidak hanya fokus pada keuntungan finansial, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dalam operasionalnya. Tujuannya adalah untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, karyawan maupun nasabah.
Nah, dalam penerapan GRC sendiri, dari sisi struktur organisasi Bank Rohil dikatakan sudah lengkap. Hal itu mengingat Bank Rohil yang masuk kategori BPRKU2 dengan modal inti di bawah Rp50 miliar.
“Jadi, persiapan BPR Rohil dalam penerapan GRC yang baik terlihat dari struktur organisasi ini yang mana sudah melekat unit terkait GRC yang terdiri dari RUPS, Dewan Pengawas, Direktur Utama, Direktur yang membawahkan fungsi kepatuhan. Sehingga Bagian Operasional Non Bisnis, Fungsi Kepatuhan, Manajemen Risiko, serta APU-PPT itu dibawahi oleh direktur yang membawahi fungsi kepatuhan,” ujar Azlan.
Untuk penerapan GCG (Good Corporate Governance), berdasarkan penilaian yang sudah dilakukan, Bank Rohil disebut mendapat skor penilaian GCR yang sangat baik pada duan tahun terkahir ini. “Ini juga kita sudah laporkan kepada OJK,” kata Azlan.
Adapun hal-hal penting lain yang terkait Implementasi GCG mencakup:
- Perusahaan telah memiliki pedoman tata kelola yang baik dan disusun serta di tanda tangani sampai dewan komisaris/Dewas
- Sudah ada Pedoman tata tertib kerja baik Dewan Pengawas, Direksi, Sistem dan Prosedur Fungsi kepatuhan serta penanganan benturan kepentingan.
- Website perusahaan sudah mempublikasikan informasi penting perusahaan serta laporan publikasi, laporan tahunan dan laporan tata kelola (GCG).
- Pemegang saham yang memberikan kewenangannya kepada dewan pengawas telah melakukan pembahasan dan mengevaluasi atas pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik.
Untuk penerapan Manajemen Risiko, Bank Rohil telah mengacu pada regulasi eksternal antara lain POJK Nomor 13/POJK.03/2015 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi BPR dan SEOJK No. 1/SEOJK.03/2019 Penerapan Manajemen Risiko bagi BPR; serta SK Direksi.
“SK Direksi sudah kita buat itu tahun 2019 serta adanya Struktur Komite, ini selalu kita perbaharui berdasarkan kegiatan bisnis kita, baik kewenangan pemutusan kredit, ini ada batasan yang kami kasih, baik pimpinan cabang maupun kepala bagian bisnis untuk memutuskan pemberian kredit,” ujarnya.
Sementara mengacu pada aturan OJK, ada empat jenis risiko yang dikelola Bank Rohil, antara lain risiko kredit, risiko operasional, risiko kepatuhan, dan risiko likuiditas.
“Bank Rohil sudah memiliki pedoman tata kelola dan manajemen risiko yang baik, meski masih terdapat kelemahan, tentunya ini menjadi catatan kami ke depannya untuk selalu diperbaiki,” jelas Azlan.
Menyinggung soal manajemen kepatuhan, Azlan mengatakan bahwa hal yang mewajibkan perusahaan untuk membentuk fungsi kepatuhan adalah SE OJK no 6/SEOJK.03/2016 Penerapan Fungsi Kepatuhan. Adapun untuk aturan internal Bank Rohil sudah memiliki SK Direksi dan SOP, yakni SK Direksi 04 Tahun 2017.
Seperti diungkap Azlan, beberapa kriteria keberhasilan penerapan manajemen kepatuhan di Bank Rohil, antara lain tidak terdapatnya gugatan dan sanksi hukum, tidak ada temuan besar didalam pengawasan, serta tidak terdapat resiko besar yang berdampak bagi perusahaan.
Tidak ketinggalan pada kesempatan ini Azlan juga mengungkap soal dukungan dukungan teknologi Informasi dalam bisnis dan GRC. Di mana BPR Rohil telah didukung oleh teknologi informasi dalam pengelolaan bisnis dengan menggunakan core banking system sehingga dapat menyajikan laporan keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sementara implementasi tata kelola teknologi informasi dilakukan BPR dengan cara mengoptimalkan sumber daya TI untuk mencapai visi dan misi Perusahaan.
Editor: Busthomi
