Jakarta, TopBusiness—Indonesia semakin perkuat posisinya sebagai salah satu pasar data center dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, didorong oleh percepatan digitalisasi, meningkatnya investasi dari hyperscaler, serta pipeline pengembangan yang kuat.
Hal itu dikatakan oleh Pritesh Swamy, Head of Data Centre, Research & Advisory, Asia Pacific, Cushman & Wakefield, dalam riset terbaru yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness, pagi ini.
Berdasarkan riset Cushman & Wakefield, Indonesia saat ini memiliki kapasitas operasional sebesar 468MW, dengan tambahan kapasitas mendatang sebesar 1.957MW yang diproyeksikan akan mulai beroperasi hingga tahun 2030. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar data center dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik.
Dalam jangka panjang, potensi pertumbuhan tersebut juga didukung oleh sekitar 4,5GW kapasitas yang telah diamankan melalui land bank, sehingga memberikan fondasi yang kuat bagi ekspansi data center di masa mendatang.
Kata Swamy, pertumbuhan pasar data center di Indonesia terus didorong oleh meningkatnya adopsi layanan cloud, percepatan digitalisasi di berbagai sektor, pertumbuhan konsumsi data, kebutuhan akan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkepadatan tinggi (high-density computing). Serta oleh ekspansi yang terus dilakukan oleh hyperscaler global dan perusahaan pengguna data center (enterprise occupiers).
Perkembangan ini mendorong permintaan yang berkelanjutan terhadap infrastruktur digital di dalam negeri sekaligus perkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar data center yang semakin penting di kawasan Asia Pasifik.
Momentum pasar tersebut juga tercermin dari berbagai investasi dan komitmen pendanaan yang diumumkan sepanjang semester pertama 2026.
Sejumlah perusahaan, seperti Princeton Digital Group (PDG), Digital Edge, ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC), DCI Indonesia, Racks Central, dan Firmus Technologies, mengumumkan pengembangan proyek baru, fasilitas pendanaan, maupun rencana ekspansi di Jabodetabek dan Batam.
Jabodetabek masih menjadi tujuan utama pengembangan fasilitas hyperscale dan investasi proyek data center, sementara Batam semakin berkembang sebagai lokasi strategis untuk infrastruktur AI dan komputasi berkinerja tinggi (high-performance computing).
Pasar data center Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan baru, di mana konvergensi antara sektor properti, infrastruktur digital, dan investasi modal menciptakan peluang yang semakin besar.
Sementara Jabodetabek masih menjadi pusat utama pengembangan data center untuk kebutuhan enterprise maupun hyperscale cloud, Batam kini semakin berkembang sebagai pusat AI bagi perusahaan yang membutuhkan infrastruktur yang terukur, tangguh, dan siap menghadapi kebutuhan di masa depan.
“Keberhasilan di tengah dinamika pasar ini akan semakin ditentukan oleh kemampuan dalam mengamankan lokasi yang tepat, ketersediaan pasokan listrik, konektivitas, serta strategi pengembangan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pengguna sekaligus mendukung tujuan pertumbuhan jangka panjang,” ujar Swamy.
