Jakarta, TopBusiness – PT BPR Bank Daerah Gianyar (Perseroda) terus memperkuat implementasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) melalui konsep Smart GRC by Design to Sustainability Business.
Bagi bank BUMD milik Pemerintah Kabupaten Gianyar tersebut, GRC tidak lagi dipandang sebatas pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan menjadi landasan dalam membangun ketahanan bisnis, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mempercepat transformasi digital, hingga menjaga keberlanjutan perusahaan.
Komitmen tersebut dipaparkan Direktur Utama PT BPR Bank Daerah Gianyar (Perseroda), Anak Agung Gede Bagus Dama Arimbawa, dalam presentasi penjurian TOP GRC Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, perubahan lanskap industri perbankan yang semakin dinamis menuntut perusahaan memiliki tata kelola yang adaptif sekaligus mampu mengintegrasikan aspek governance, manajemen risiko, kepatuhan, dan teknologi dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“GRC bagi kami merupakan dasar untuk pencapaian strategi. GRC juga harus mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan manajemen, memperkuat business resilience, serta mendukung ESG dan keberlanjutan perusahaan,” ujar Dama.
Hadir pula dalam penjurian ini I Dewa Gede Suparma (Direktur), Cokorda Istri Agung Pustaka Dewi (Kabag Bisnis), I Kadek Sila (Kabag Operasional), I Nyoman Agung Damayanti (PE Kepatuhan), Anak Agung Kusuma Dewi (PE Audit Intern), serta Ni Luh Candrawati (PE Manajemen Risiko dan APU PPT).
Sebagai BPR milik pemerintah daerah, BPR Bank Daerah Gianyar memiliki visi menjadi lembaga keuangan yang tangguh, terpercaya, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Visi tersebut diwujudkan melalui penguatan permodalan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penerapan tata kelola yang baik, transformasi teknologi informasi, pengembangan produk dan layanan, kemitraan strategis, serta implementasi manajemen risiko yang terintegrasi.
“Kita ingin menjadi BPR yang tangguh, dipercaya dan terpenting adalah ada peran dan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya di daerah,” katanya.
Selain menjalankan fungsi intermediasi, perusahaan juga memiliki peran strategis sebagai BUMD melalui penghimpunan dana pemerintah daerah, pemerintah desa, badan usaha milik daerah, hingga badan layanan umum. Di sisi lain, perusahaan menyalurkan kredit untuk mendukung berbagai program pemerintah daerah, termasuk pembiayaan UMKM dan pengelolaan rekening kas desa.
Menurut Dama, transformasi GRC dilakukan sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi industri BPR. Dama menjelaskan, digitalisasi layanan keuangan, perubahan regulasi yang semakin cepat, wacana konsolidasi BPR milik pemerintah daerah, hingga perubahan struktur pendanaan menjadi isu strategis yang harus diantisipasi sejak dini.
“Digitalisasi menjadi tantangan bagi semua industri, tidak hanya industri BPR. Di satu sisi teknologi informasi juga menjadi driver dalam penerapan GRC di perusahaan,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga menghadapi dinamika pengelolaan dana desa yang selama ini menjadi salah satu sumber dana murah. Perubahan regulasi menuntut perusahaan mampu mempertahankan kepercayaan pemerintah daerah sekaligus meningkatkan kualitas layanan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
Menghadapi kondisi tersebut, perusahaan menetapkan sejumlah strategi bisnis, mulai dari memperkuat pembiayaan UMKM sesuai program Pemerintah Kabupaten Gianyar, mempercepat transformasi digital, membangun kemitraan dengan komunitas desa dinas maupun desa adat, hingga meningkatkan kompetensi SDM serta kepedulian terhadap aspek lingkungan.
Lima Pilar Smart GRC
Dalam menjalankan transformasi tersebut, BPR Bank Daerah Gianyar mengembangkan konsep Smart GRC by Design to Sustainability Business yang bertumpu pada lima pilar utama, yakni Strong Governance, Managed Risk, Technology Driven System, Risk Awareness, serta Adaptive Compliance and Assurance.
Penerapan tata kelola perusahaan dilakukan melalui model Three Lines of Defense, di mana unit bisnis dan operasional menjadi pemilik risiko pada lini pertama, fungsi manajemen risiko dan kepatuhan berada pada lini kedua, sedangkan audit internal menjalankan fungsi assurance sebagai lini ketiga. Model tersebut memastikan seluruh aktivitas perusahaan berjalan sesuai prinsip kehati-hatian sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis.
Menurut Dama, keberhasilan penerapan GRC bergantung pada kemampuan perusahaan mengintegrasikan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, dan teknologi dalam proses bisnis sehari-hari.
“Smart GRC kami diawali dengan tata kelola yang kokoh, penerapan manajemen risiko, kepatuhan terhadap regulasi, kesadaran atas risiko, serta memastikan teknologi mampu mendukung penerapan GRC secara terintegrasi,” jelasnya.
Perusahaan juga mengembangkan sistem early warning berbasis indikator risiko sehingga manajemen dapat mengetahui lebih dini apabila terdapat potensi risiko yang mendekati ataupun melampaui batas toleransi yang telah ditetapkan.
“Kita sudah membuat indikator sehingga melalui sistem yang sedang dikembangkan kita memperoleh peringatan dini mengenai faktor-faktor risiko yang masih berada dalam batas toleransi maupun yang sudah memerlukan perhatian khusus,” kata Dama.
Ia menegaskan bahwa proses penilaian risiko dilakukan secara objektif agar mampu menggambarkan kondisi nyata perusahaan.
“Ini merupakan program berkesinambungan yang mampu mencerminkan kondisi riil, bukan hanya penilaian atau self assessment di atas kertas semata,” ujarnya.
Bangun Budaya Sadar Risiko
Bagi BPR Bank Daerah Gianyar, keberhasilan GRC tidak hanya ditentukan oleh sistem dan kebijakan, tetapi juga budaya organisasi. Karena itu, perusahaan mulai mengimplementasikan Risk Awareness Culture secara menyeluruh pada 2026 setelah melalui proses perancangan sejak tahun sebelumnya.
“Kalau belum sadar risiko, apa pun program yang kita miliki, apa pun konsep yang sudah kita tetapkan, itu tidak akan bisa berjalan secara optimal,” tegas Dama.
Untuk mendukung program tersebut, perusahaan membentuk Risk Agent di setiap unit kerja dan menyelenggarakan program pembelajaran internal Widyatama Pariksa. Program ini menghadirkan para pejabat perusahaan sebagai narasumber sesuai bidang masing-masing sehingga seluruh pegawai memiliki pemahaman yang sama mengenai tata kelola, kepatuhan, pengendalian internal, dan manajemen risiko.
Selain itu, perusahaan terus memperkuat implementasi Risk and Control Self Assessment (RCSA), meningkatkan kualitas analisis kredit, memperbaiki validasi data nasabah, serta memastikan setiap unit mampu mengidentifikasi, mengukur, memitigasi, dan mengevaluasi risiko secara berkelanjutan.
Digitalisasi Perkuat Efektivitas Pengawasan
Transformasi digital menjadi salah satu pengungkit utama dalam implementasi Smart GRC. Perusahaan mengembangkan SIMOLA sebagai sistem yang mengintegrasikan berbagai aplikasi pendukung, mulai dari monitoring bisnis, pengawasan penerapan GRC, hingga Whistleblowing System (WBS) dan sistem informasi lainnya.
“SIMOLA memonitor seluruh pergerakan informasi terkait bisnis maupun penerapan GRC yang di dalamnya telah terintegrasi dengan berbagai sistem pendukung,” ujar Dama.
Digitalisasi tersebut memungkinkan manajemen memperoleh informasi secara cepat dan akurat sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih efektif sekaligus memperkuat fungsi pengawasan dan mitigasi risiko.
Pada aspek kepatuhan, perusahaan menerapkan mekanisme yang dimulai dari pemantauan perubahan regulasi, penyusunan ketentuan internal, sosialisasi kepada seluruh pegawai, hingga pelaksanaan compliance check untuk memastikan seluruh aktivitas operasional telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, audit internal tidak hanya bertugas menemukan kelemahan pengendalian, tetapi juga memastikan setiap temuan ditindaklanjuti hingga menghasilkan perbaikan proses bisnis.
“Hasil temuan audit internal bukan hanya sekadar ditindaklanjuti, tetapi juga meningkatkan kualitas mitigasi risiko,” katanya.
GRC Berkontribusi pada Pertumbuhan Kredit
Implementasi Smart GRC juga memberikan dampak terhadap pencapaian bisnis perusahaan. Salah satu indikatornya terlihat dari keberhasilan program Gotong Royong One Week One Debitor yang dijalankan pada 2024 dan dilanjutkan melalui Program Paras Paros pada 2025.
Kedua program tersebut mendorong kolaborasi lintas unit kerja, memperkuat budaya kepemilikan risiko (risk ownership), serta meningkatkan kualitas pemasaran dan pengelolaan kredit. Hasilnya, program tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit sebesar 20 persen pada periode 2024–2025, setelah sebelumnya perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan kredit hingga 48 persen pada periode 2023–2024.
Menurut Dama, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penerapan GRC bukan hanya menghasilkan kepatuhan, tetapi juga mampu meningkatkan efektivitas proses bisnis dan mendukung pencapaian target perusahaan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, implementasi pengendalian internal yang semakin baik juga tercermin dari tidak adanya laporan fraud maupun penyimpangan melalui mekanisme whistleblowing selama periode pelaksanaan program tersebut.
Ke depan, BPR Bank Daerah Gianyar memastikan implementasi Smart GRC akan terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan regulasi, teknologi, dan dinamika industri jasa keuangan. Penguatan kompetensi SDM, sertifikasi pejabat eksekutif, penyempurnaan sistem digital, serta pembangunan budaya sadar risiko akan terus menjadi agenda strategis perusahaan.
“Harapan kami semua insan perusahaan memiliki kesadaran sebagai pemilik risiko, memahami risk register, dan mampu melakukan tindakan mitigasi terhadap risiko yang muncul dari pekerjaannya masing-masing,” ujar Dama.
Ia menegaskan bahwa penerapan Smart GRC merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Dengan tata kelola yang kuat, budaya sadar risiko yang semakin matang, dukungan teknologi digital, serta komitmen seluruh insan perusahaan, BPR Bank Daerah Gianyar optimistis mampu menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing sebagai BPR milik pemerintah daerah yang tumbuh secara sehat, adaptif, dan berkelanjutan.
