Jakarta, TopBusiness — PT Waskita Karya (Persero) Tbk (IDX: WSKT) menempatkan implementasi GRC (Governance, Risk, and Compliance) sebagai fondasi utama dalam transformasi perusahaan.
Di tengah proses restrukturisasi korporasi dan penguatan bisnis inti, perseroan tidak hanya memandang GRC sebagai pemenuhan regulasi maupun upaya meraih penghargaan, tetapi sebagai budaya kerja yang melekat dalam setiap pengambilan keputusan bisnis.
Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Muhammad Hanugroho mengatakan perusahaan terus memperkuat integrasi tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan hukum, dan etika bisnis agar mampu mendukung keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.
“Penerapan aspek GRC bukan sekadar memenuhi regulasi atau mengejar penghargaan. GRC menjadi fondasi utama dan nantinya bisa menjadi budaya kerja dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Kami terus memperkuat implementasi antara pengelolaan risiko, kepatuhan hukum, dan etika bisnis menjadi hal yang pokok dalam menjalankan usaha,” ujar Hanugroho dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, implementasi GRC yang dijalankan Waskita telah memberikan dampak terhadap perbaikan proses bisnis sekaligus mendukung peningkatan kinerja perusahaan. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan transformasi perusahaan yang diusung melalui tema Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC.
Transformasi: Perjalanan Panjang WSKT
Hanugroho menjelaskan perjalanan Waskita Karya sejak berdiri pada 1961 hingga kini diwarnai berbagai dinamika, mulai dari periode pertumbuhan hingga tantangan bisnis yang mendorong perusahaan melakukan pembenahan secara berkelanjutan.
Menurutnya, perubahan struktur kepemilikan setelah pengalihan mayoritas saham kepada Danantara Asset Management turut menjadi momentum untuk mempercepat proses transformasi perusahaan.
“Proses perbaikan internal itu kontinuitasnya selalu kita jalankan. Perubahan kebijakan pemerintah terkait pengalihan saham kepada Danantara Asset Management kami harapkan dapat mengakselerasi keputusan-keputusan bisnis yang memang perlu dilakukan secara signifikan,” katanya.
Hanugroho menambahkan, meskipun mayoritas saham telah dialihkan kepada Danantara Asset Management, Kementerian BUMN tetap memegang saham Seri A Dwiwarna sesuai ketentuan yang berlaku.
Fokus Kembali ke Bisnis Inti
Dalam proses restrukturisasi, Waskita Karya juga melakukan penataan kembali arah bisnis perusahaan. Seperti dikatakan Hanugroho, secara bisnis Waskita purely (bergerak di bidang) jasa konstruksi. Namun demikian, ada beberapa periode sekitar hampir 10 tahunan perusahaan masuk ke berbagai sisi, ada investment atau diversifikasi usaha.
“Jadi, kalau dilihat disini bahwa komposisi struktur organisasi ataupun komposisi kepemilikan saham pada investasi, kita ini terbagi ada empat anak usaha kita, yaitu Waskita Toll Road, Waskita Realty, Waskita Karya Infrastruktur dan satu lagi Waskita Karya Beton Precast (WSBP). Jadi WSBP ini juga menjadi bagian dari proses diversifikasi usaha kita,” ujar Hanugroho di hadapan dewan juri TOP GRC Awards 2026 antara lain Kusuma Prabandari (Dwika Consulting), Satya Arinanto (Guru Besar – Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Melani K. Harriman (CEO Melani K. Harriman & Associates), serta Thendri Supriatno (CFCD).
Setelah melakukan diversifikasi melalui investasi seperti disebut, perusahaan kini memfokuskan diri kembali pada bisnis inti sebagai perusahaan jasa konstruksi.
“Jadi ini adalah dimana program kita yaitu terkait dengan restrukturisasi keuangan masih berlanjut sampai hari ini dan pemulihan struktur modal ini merupakan fondasi utama ataupun sebagai rangkaian strategi kita jangka panjang di 2026 sampai 2030. Yang tidak lupa kami sampaikan bahwa kita refocusing terkait dengan bisnis core kita, yaitu jasa konstruksi. Kita akan kembali seluruhnya ke situ. Makanya di dalam proses restrukturisasi korporasi ya tidak hanya sebatas keuangan tetapi termasuk dengan operasional maupun yang lainnya itu kita juga apa banyak hal yang kita harus melakukan strategi yang signifikan supaya sustainability ini tetap terjaga untuk ke depannya,” jelasnya.
Lebih lanjut Hanugroho mengatakan bahwa langkah tersebut sejalan dengan proses restrukturisasi korporasi yang juga mencakup penyederhanaan portofolio investasi sesuai kebijakan Danantara Asset Management.
Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah konsolidasi aset perhotelan milik Waskita Realty ke Hotel Indonesia Group (InJourney). Langkah tersebut menjadi bagian dari proses streamlining BUMN yang tengah dijalankan pemerintah.
“Mekanisme streamlining dilakukan secara bertahap dan tentunya mengikuti arahan pemegang saham, khususnya Danantara Asset Management,” katanya.
GRC: Pilar Pengambilan Keputusan
Di tengah proses transformasi tersebut, Hanugroho menegaskan penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik menjadi landasan utama dalam seluruh aktivitas bisnis perseroan.
Ia menyebut lima prinsip utama Good Corporate Governance, yakni transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness, menjadi pedoman dalam menjalankan perusahaan.
“Kita harus bisa menjalankan transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness secara optimal sehingga seluruh proses bisnis dapat dipertanggungjawabkan dengan baik,” ujarnya.
Selain itu, Waskita secara rutin menjalankan berbagai proses evaluasi independen, sertifikasi, hingga penerapan standar internasional guna memastikan implementasi GRC berjalan konsisten.
“Governance, risk, dan compliance harus kita lakukan dari waktu ke waktu. Sertifikasi, review independen, termasuk proses ISO menjadi prioritas yang terus kami jalankan,” katanya.
Penguatan GRC Libatkan Seluruh Insan
Hanugroho menekankan implementasi GRC tidak hanya menjadi tanggung jawab unit pengelola risiko maupun kepatuhan, tetapi melibatkan seluruh insan perusahaan.
Menurutnya, budaya sadar tata kelola harus diterapkan hingga level proyek agar potensi risiko maupun permasalahan dapat dicegah sejak dini.
“People menjadi bagian penting. Tidak hanya pengelola risiko dan kepatuhan, tetapi seluruh insan Waskita harus sadar terhadap tata kelola perusahaan, tata kelola proyek, serta memperhatikan GRC. Dengan begitu case-case ataupun bom waktu yang masih muncul dapat kita eliminasi secara signifikan,” ujarnya.
Digitalisasi Pengendalian Risiko
Direktur Keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk Wiwi Suprihatno menambahkan bahwa penguatan GRC menjadi salah satu pilar utama dalam program penyehatan keuangan perusahaan.
Menurutnya, penguatan tersebut dilakukan melalui kombinasi antara digitalisasi, penguatan pengendalian internal, serta penyempurnaan proses bisnis berdasarkan rekomendasi audit.
“Pada intinya GRC menjadi salah satu stream dalam rangka penyehatan keuangan Waskita secara keseluruhan. Kami memperkuat mekanisme pencatatan transaksi berdasarkan rekomendasi audit Internal Control over Financial Reporting sehingga menjadi bagian dari peningkatan kualitas laporan perusahaan sekaligus memperkuat internal control untuk mencegah fraud maupun ketidakpatuhan,” ujar Wiwi.
Selain memperbaiki kualitas pelaporan keuangan, perusahaan juga memperkuat komite risiko pada setiap tahapan proyek, mulai dari proses seleksi proyek hingga pelaksanaan di lapangan.
Digitalisasi, Pemantauan Real Time
Penguatan GRC juga didukung pengembangan sistem digital melalui platform SAP HANA beserta berbagai perangkat pendukung yang memungkinkan manajemen melakukan pemantauan proyek secara lebih akurat.
Wiwi menjelaskan perusahaan menerapkan mekanisme evaluasi berkala pada progres proyek di titik 25 persen, 50 persen, dan 75 persen sebagai sistem peringatan dini terhadap potensi risiko.
“Melalui pengembangan SAP HANA yang diperkuat berbagai tools, manajemen dapat melihat perkembangan setiap proyek pada posisi 25 persen, 50 persen, maupun 75 persen sehingga dapat meminimalisir terjadinya time overrun maupun cost overrun tanpa mengabaikan kualitas proyek yang dikerjakan,” katanya.
Menurutnya, pendekatan digital tersebut memungkinkan perusahaan mengambil langkah korektif lebih cepat sehingga risiko proyek dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Dengan menjadikan GRC sebagai bagian dari transformasi bisnis, Waskita Karya berharap seluruh proses restrukturisasi perusahaan dapat berjalan lebih terukur, transparan, serta mendukung terciptanya perusahaan konstruksi yang semakin sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.
