TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

DMAS Perkuat GRC, Siapkan Land Bank dan Utilitas untuk Tangkap Peluang Bisnis Data Center

Nurdian Akhmad
31 July 2026 | 11:35
rubrik: Business Info, Event, GCG
DMAS Perkuat GRC, Siapkan Land Bank dan Utilitas untuk Tangkap Peluang Bisnis Data Center

Jakarta, TopBusiness – PT Puradelta Lestari Tbk (IDX: DMAS) terus memperkuat implementasi Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) sebagai fondasi dalam menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus mengantisipasi berbagai risiko yang muncul seiring pesatnya perkembangan kawasan industri.

Bagi pengembang kawasan industri Kota Deltamas tersebut, penerapan GRC tidak hanya menjadi instrumen kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi korporasi dalam menciptakan pertumbuhan yang sehat, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

Komitmen tersebut dipaparkan Investor Relations Staff PT Puradelta Lestari Tbk, Natalia Putri Ninda Budi dalam presentasi perusahaan pada sesi penjurian TOP GRC Awards 2026, yang dilakukan secara daring, Kamis (30/7/2026).

Dalam kesempatan itu, Natalia menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat tata kelola perusahaan yang baik melalui penguatan sistem pengendalian internal, penerapan Enterprise Risk Management (ERM), kepatuhan terhadap berbagai regulasi, serta integrasi aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam proses bisnis perusahaan.

Menurut Natalia, penerapan GRC di DMAS dilaksanakan secara terintegrasi mulai dari level Dewan Komisaris, Direksi hingga seluruh unit kerja. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berupaya memastikan setiap keputusan bisnis telah mempertimbangkan aspek tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan sehingga mampu menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Perusahaan juga menempatkan manajemen risiko sebagai bagian penting dalam penyusunan strategi bisnis. Setiap risiko strategis, operasional, keuangan maupun kepatuhan dipetakan secara berkala untuk menentukan langkah mitigasi yang tepat.

“Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mampu meminimalkan potensi risiko, tetapi juga dapat menangkap berbagai peluang bisnis yang muncul dari perkembangan industri,” ujar Natalia.

Upaya Mitigasi Risiko

Usai presentasi, Dewan Juri melakukan pendalaman terhadap berbagai aspek implementasi GRC di DMAS. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah strategi perusahaan dalam mengelola risiko meningkatnya permintaan kawasan industri, khususnya dari sektor data center yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu motor pertumbuhan bisnis perseroan.

BACA JUGA:   TOP GRC Awards 2026 Siap Digelar 3 September, Angkat Tema Sustainability

Menanggapi hal tersebut, Department Head of Investor Relations & Corporate Sustainability PT Puradelta Lestari Tbk, Esther Meilia Natanael, menjelaskan bahwa salah satu risiko strategis yang saat ini menjadi perhatian utama perusahaan adalah berkurangnya cadangan lahan industri atau land bank. Seiring tingginya penjualan lahan kepada investor, perusahaan harus memastikan ketersediaan lahan pengganti agar pertumbuhan bisnis tetap terjaga.

Menurut Esther, risiko tersebut telah masuk dalam profil risiko perusahaan dan terus dimonitor oleh manajemen. Berbeda dengan aset lainnya, pengadaan lahan membutuhkan proses yang panjang sehingga strategi mitigasi harus disiapkan sejak dini.

“Mitigasi yang saat ini kami lakukan adalah melakukan konversi sebagian lahan komersial dan residensial menjadi kawasan industri. Proses tersebut kami targetkan dapat selesai pada pertengahan hingga akhir 2027 sebagai upaya menjaga keberlanjutan land bank di tengah tingginya permintaan investor,”ujar Esther.

Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan sekaligus memenuhi tingginya permintaan investor yang terus meningkat.

Selain aspek ketersediaan lahan, perusahaan juga mengidentifikasi meningkatnya kebutuhan utilitas sebagai risiko strategis yang harus diantisipasi. Pertumbuhan investasi data center menyebabkan kebutuhan air bersih dan pasokan listrik meningkat secara signifikan dibandingkan jenis industri lainnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DMAS telah mengoperasikan Recycle Water Treatment Plant (RWTP) yang mampu menyediakan pasokan air daur ulang bagi tenant kawasan industri. Fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi perusahaan dalam mendukung efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus memenuhi kebutuhan operasional tenant, khususnya data center yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.

Tidak hanya itu, perusahaan juga mulai mengembangkan sumber pasokan air baru melalui kerja sama dengan pihak yang memiliki izin pemanfaatan air dari Kali Cibeet. Strategi tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber air eksisting sekaligus memperkuat ketahanan pasokan air di masa mendatang.

BACA JUGA:   Puradelta Siapkan Zona Industri Khusus Data Center

Dari sisi kelistrikan, Esther menjelaskan bahwa DMAS terus berkoordinasi dengan PLN untuk memastikan ketersediaan daya listrik yang memadai bagi tenant. Saat ini perusahaan juga menyiapkan pembangunan infrastruktur pendukung berupa gardu induk tambahan guna mengantisipasi meningkatnya kebutuhan listrik dari investasi data center yang terus berkembang.

Implementasi GRC di DMAS juga diperkuat melalui pengelolaan aspek ESG. Untuk itu perusahaan telah membentuk unit khusus Environmental, Community and Management (ECM) yang berada di bawah Direktur Operasional. Unit tersebut bertanggung jawab mengelola berbagai aspek lingkungan, sosial, serta operasional kawasan, termasuk pengelolaan fasilitas pengolahan air yang kini menjadi salah satu infrastruktur strategis perusahaan.

Dalam aspek tata kelola, perusahaan juga memperkuat mekanisme pengendalian konflik kepentingan. Setiap transaksi yang berpotensi mengandung benturan kepentingan melibatkan penilai independen dan dilaporkan kepada regulator sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara dalam proses pengadaan barang dan jasa, perusahaan menerapkan seleksi vendor secara ketat melalui verifikasi dokumen dan proses tender yang transparan sebagai bagian dari penerapan prinsip good corporate governance.

Menurut Esther, transformasi bisnis yang saat ini berlangsung juga mendorong perusahaan melakukan penyesuaian strategi pengembangan kawasan. Jika sebelumnya permintaan terbesar berasal dari sektor manufaktur dan pergudangan, kini investasi data center menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kawasan industri Deltamas.

Pengembangan Kawasan Data Center

Karena itu, perusahaan memutuskan untuk lebih memprioritaskan pengembangan kawasan data center dibandingkan pergudangan. Saat ini sekitar 300 hektare kawasan telah dialokasikan untuk pengembangan data center dengan sekitar 15 hingga 16 tenant internasional yang sebagian besar telah memulai pembangunan fasilitasnya.

Melihat tren permintaan yang terus meningkat, perusahaan juga menyiapkan tambahan sekitar 200 hektare lahan yang akan dikonversi menjadi kawasan industri khusus untuk mengakomodasi investasi data center pada masa mendatang.

BACA JUGA:   DMAS Targetkan Prapenjualan Sebesar Rp1,81 Triliun di Tahun 2025

Tidak hanya mengandalkan penjualan lahan, DMAS juga mulai memperkuat sumber recurring income melalui penyediaan utilitas bagi tenant. Penyediaan air bersih, air daur ulang, hingga layanan infrastruktur kawasan diproyeksikan menjadi sumber pendapatan berulang yang akan memperkuat ketahanan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Selain itu, perusahaan terus meningkatkan kualitas infrastruktur kawasan melalui pembangunan akses Tol KM 42 dan akses Tol Jakarta–Cikampek Selatan II yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas kawasan industri sekaligus memperlancar arus logistik investor.

Untuk mendukung operasional tenant yang membutuhkan tingkat keandalan tinggi, terutama sektor data center, DMAS juga telah mengoperasikan Security Fire and Command Center (SFCC) yang dilengkapi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem tersebut memungkinkan perusahaan melakukan pemantauan kawasan secara real time serta mempercepat respons terhadap berbagai potensi keadaan darurat.

Melalui berbagai langkah tersebut, DMAS menunjukkan bahwa implementasi GRC tidak hanya berfungsi sebagai alat pengendalian risiko, tetapi juga menjadi enabler bagi strategi pertumbuhan perusahaan.

Integrasi tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, dan keberlanjutan diyakini menjadi modal penting bagi perseroan untuk menjaga daya saing kawasan industri Deltamas sekaligus menjawab kebutuhan investor di tengah pesatnya perkembangan industri digital dan data center.

Tags: DMASPT Puradelta Lestari TbkTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Menjaga Kehidupan Laut, United Tractors Bersama dengan Yayasan Ori Ma Fala Lepasliarkan Tukik Penyu di Ternate

Next Post

Pertamina Dukung 50 UMKM ke Sertifikasi Halal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR