Jakarta, TopBusiness — PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) terus memperkuat implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) guna mendorong inovasi, menjaga ketahanan organisasi (resilience), serta mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut dipaparkan tim manajemen BCA Syariah saat mengikuti sesi presentasi penjurian TOP GRC Awards 2026 dengan mengusung tema “Innovate and Resilience”.
Corporate Secretary BCA Syariah, M. Fikri Hudaya, mengatakan bahwa di tengah dinamika industri perbankan, perkembangan teknologi digital, meningkatnya risiko siber, hingga tuntutan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG), perusahaan perlu memiliki tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang kuat sebagai fondasi dalam menjalankan bisnis.
“Bagi kami, inovasi dan resilience merupakan kemampuan yang harus dimiliki perbankan syariah agar dapat terus tumbuh di tengah perubahan industri perbankan, perkembangan teknologi maupun dinamika ekonomi. Seluruh inovasi yang kami lakukan selalu didukung penerapan Governance, Risk, and Compliance yang kuat,” ujar Fikri saat presentasi penjurian TOP GRC Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Kamis (6/8/2026).
Turut hadir pula dalam penjurian ini Maman Hermansyah selaku Vice President Departemen Kepatuhan, Jacqueline Hutagaol selaku Kepala Satuan Kerja Manajemen Risiko, Edy Hartono selaku Kepala Satuan Kerja Audit Internal BCA Syariah, dan Budiari Ariyanto selaku Vice President Corporate Communication BCA Syariah.
Menurutnya, implementasi GRC di BCA Syariah tidak hanya diarahkan untuk memenuhi ketentuan regulator, tetapi telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan. Penerapan tata kelola yang baik dipadukan dengan manajemen risiko, kepatuhan, transformasi digital, serta implementasi keuangan berkelanjutan sehingga mampu mendukung pertumbuhan perusahaan secara sehat dalam jangka panjang.
Fikri menjelaskan, penguatan implementasi GRC berjalan seiring dengan pertumbuhan bisnis BCA Syariah. Hingga Juni 2026, perseroan membukukan total aset sebesar Rp 20,7 triliun, meningkat 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 15,4 triliun atau tumbuh 10,2% secara tahunan. Sementara pembiayaan sebagai motor utama pertumbuhan bisnis meningkat 20,5% menjadi Rp13,6 triliun.
Di sisi profitabilitas, BCA Syariah membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 109 miliar, meningkat 9,2% dibandingkan semester I-2025.
Saat ini BCA Syariah melayani nasabah melalui 80 kantor cabang yang tersebar di 33 kota di Indonesia. Perseroan juga didukung 100 Layanan Syariah Bank Umum (LSBU), jaringan ATM BCA, serta 931 karyawan yang menjadi bagian dari penguatan layanan kepada masyarakat.
Perseroan juga mempertahankan peringkat idAA+/Stable Outlook periode 11 November 2025 hingga 1 November 2026 dari Pefindo yang mencerminkan fundamental perusahaan tetap kuat.
GRC Menjadi Bagian Strategi Bisnis
Fikri menjelaskan, BCA Syariah memandang GRC bukan lagi sekadar fungsi pengawasan maupun kepatuhan terhadap regulasi. Lebih dari itu, GRC telah menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan bisnis, menciptakan inovasi, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
Salah satu implementasinya terlihat dari pengembangan layanan digital melalui aplikasi BSya. Setelah memperoleh izin sebagai Bank Devisa pada Desember 2025, BCA Syariah menghadirkan produk Saku Valas pada aplikasi BSya serta layanan Bank Notes di kantor cabang.
Tidak hanya itu, perusahaan juga memperoleh izin sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) sehingga dapat menghadirkan layanan Cash Wakaf Linked Deposit (CWLD) sebagai salah satu inovasi produk syariah.
“Kami terus memperkaya fitur BSya, mulai dari layanan valuta asing hingga fitur donasi yang memungkinkan masyarakat menyalurkan zakat, infak, sedekah maupun wakaf secara digital. Pengembangan layanan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan pengalaman nasabah sekaligus memperkuat pertumbuhan bisnis,” kata Fikri.
Transformasi Digital dan Penguatan Manajemen Risiko
Di tengah percepatan digitalisasi, BCA Syariah juga memperkuat infrastruktur teknologi informasi. Perseroan melakukan modernisasi core banking berbasis cloud, mengembangkan berbagai aplikasi digital, serta meningkatkan sistem keamanan siber untuk mengantisipasi meningkatnya ancaman kejahatan digital.
Menurut Fikri, seluruh pengembangan teknologi tersebut selalu didampingi fungsi manajemen risiko sehingga inovasi yang dilakukan tetap berada dalam koridor tata kelola yang baik.
BCA Syariah menerapkan kerangka Three Lines of Defense sebagai model pengelolaan risiko. Melalui pendekatan tersebut, setiap unit kerja memiliki tanggung jawab dalam mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko sesuai kewenangannya.
Perseroan juga mengembangkan Operational Risk Management Information System (ORMIS) yang digunakan dalam pelaksanaan Risk Control Self Assessment (RCSA), penyusunan profil risiko, hingga stress testing. Selain itu, fungsi manajemen risiko juga berperan dalam implementasi Business Continuity Plan (BCP), Disaster Recovery Plan (DRP), serta penerapan perlindungan data pribadi.
BCA Syariah telah mengantongi sertifikasi ISO 27001:2022 sebagai standar internasional dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (Information Security Management System/ISMS).
Berdasarkan hasil penilaian tingkat kesehatan bank, BCA Syariah memperoleh Peringkat Komposit 2, yang menunjukkan kondisi bank berada dalam kategori sehat dan mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis maupun faktor eksternal.
Keberhasilan transformasi digital yang dilakukan perusahaan juga tercermin dari meningkatnya aktivitas transaksi melalui aplikasi BSya. Hingga Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi mencapai 236.899 user.
Melalui aplikasi tersebut tercatat 10,9 juta transaksi mobile banking, 4,2 juta transaksi QRIS, dan 1,5 juta transaksi BI-FAST. Selain menghadirkan kemudahan bagi nasabah, digitalisasi juga mendukung efisiensi operasional perusahaan sekaligus menjadi bagian dari implementasi prinsip keberlanjutan melalui pengurangan penggunaan kertas dan proses manual.
Untuk mendukung operasional tersebut, BCA Syariah juga memanfaatkan Robotic Process Automation (RPA), Financing Origination System (FOS) berbasis ABIYA, hingga Operational Risk Management Information System (ORMIS) dalam pengelolaan proses bisnis dan risiko perusahaan.
ESG Terintegrasi dalam Tata Kelola
Selain memperkuat GRC, BCA Syariah juga terus mengembangkan implementasi keuangan berkelanjutan. Sejak tahun 2024, perusahaan membentuk unit khusus yang menangani implementasi Sustainable Finance dan mulai mengintegrasikan aspek ESG ke dalam Key Performance Indicator (KPI) di lingkungan Kantor Pusat.
Perseroan juga menyempurnakan berbagai kebijakan internal, antara lain Whistleblowing System (WBS), Pedoman Anti Korupsi, Anti Penyuapan dan Pengendalian Gratifikasi, Kode Etik Bankir, serta berbagai regulasi internal lainnya yang mendukung penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
Hingga Juni 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan BCA Syariah mencapai Rp 2,95 triliun, atau sekitar 21,7% dari total pembiayaan perusahaan. Sebanyak Rp 1,43 triliun dialokasikan pada sektor green financing, sedangkan Rp 1,52 triliun disalurkan kepada sektor UMKM.
“Keuangan berkelanjutan telah menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Karena itu kami terus memperkuat regulasi internal dan meningkatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan secara bertahap sesuai roadmap yang telah ditetapkan,” ujar Fikri.
Konsistensi penerapan GRC juga tercermin dari berbagai apresiasi yang diterima perusahaan. Dalam dua tahun terakhir, BCA Syariah meraih 28 penghargaan di bidang tata kelola perusahaan, teknologi informasi, layanan perbankan, hingga kinerja perusahaan.
Selain itu, dalam ajang TOP GRC Awards, BCA Syariah berhasil meningkatkan capaian dari predikat 4 Stars pada 2022 dan 2023 menjadi 5 Stars pada 2024 dan 2025.
Fikri menegaskan, ke depan BCA Syariah akan terus memperkuat implementasi GRC sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
“Dengan infrastruktur GRC yang kuat, kami optimistis BCA Syariah mampu terus berinovasi, menjaga ketahanan organisasi, memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, serta tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” tutup Fikri.
