Jakarta, TopBusiness — PT Hakaaston (HKA), anak usaha PT Hutama Karya (Persero), terus memperkuat tata kelola perusahaan melalui penerapan prinsip Governance, Risk, and Compliance (GRC) guna mendukung pertumbuhan bisnis operasi dan pemeliharaan (O&M) jalan tol yang berkelanjutan.
Didirikan pada 2010 dengan lini bisnis awal produksi hotmix, HKA kini bertransformasi menjadi perusahaan operasi dan pemeliharaan jalan tol terintegrasi. Saat ini perusahaan mengoperasikan 16 ruas jalan tol sepanjang 989 kilometer, didukung delapan unit produksi Asphalt Mixing Plant dan satu unit produksi pendukung O&M, serta menangani sejumlah proyek pemeliharaan jalan di Sumatra dan Jawa.
Transformasi tersebut menjadikan HKA sebagai salah satu operator jalan tol terbesar di Indonesia sekaligus bagian dari rantai pasok infrastruktur Hutama Karya yang memproduksi hotmix, aspal, precast, readymix, agregat, hingga produk industri baja. Integrasi bisnis tersebut dinilai mendukung efisiensi biaya operasional dan ketersediaan material infrastruktur.
Dalam pengembangan bisnisnya, HKA menempatkan penguatan sumber daya manusia, transformasi digital, dan teknologi informasi sebagai faktor pendukung utama untuk meningkatkan kualitas layanan operasi dan pemeliharaan jalan tol.
Perusahaan juga menetapkan arah pengembangan menuju Indonesia’s Most Valuable Infrastructure Asset Management (IMV-IAM) dengan tiga fokus utama, yakni Operational Excellence, Asset Value Creation, dan Sustainable Capability. Fokus tersebut mencakup penyediaan layanan operasi dan pemeliharaan yang andal dan aman, pengelolaan aset yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi biaya siklus hidup dan pengendalian risiko, serta penguatan kapabilitas organisasi melalui pengembangan SDM, inovasi teknologi, digitalisasi, dan penerapan prinsip ESG.
HKA menyusun peta jalan strategi 2026–2030 yang terdiri atas lima tahap pengembangan, yaitu Assure, Structure, Smart, Enhance, dan Transform. Tahapan tersebut mencakup penguatan layanan berbasis service level agreement (SLA), penyusunan asset register terintegrasi, implementasi predictive maintenance, pengelolaan aset berbasis risiko, hingga transformasi model bisnis menuju perusahaan infrastructure asset management.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko HKA, Devita Rachmawati, mengatakan penerapan GRC menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola perusahaan agar lebih adaptif dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
“HKA membangun manajemen operasi dan pemeliharaan dengan tata kelola perusahaan yang baik serta didukung tim yang solid dan terintegrasi agar perusahaan dapat bergerak lebih lincah,” ujar Devita saat pemaparan kepada Dewan Juri TOP GRC Awards, Kamis (30/7/2026) akhir pekan lalu.
Menurut Devita, perusahaan telah membentuk Komite Audit serta Komite Risiko dan GCG yang berada di bawah Dewan Komisaris. Selain itu terdapat Unit Sistem Manajemen Risiko dan Kepatuhan di bawah Direktur Keuangan, Departemen QHSSE yang membawahi Fungsi Sustainability di bawah Direktur Operasional, serta Satuan Pengawas Internal dan Sekretaris Perusahaan yang menangani tata kelola dan aspek legal di bawah Direktur Utama. Seluruh unit tersebut terintegrasi dengan Direksi.
Ia menegaskan bahwa setiap unit memiliki fungsi pengendalian masing-masing untuk memitigasi risiko yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha perusahaan.
“Kami sangat fokus pada mitigasi risiko. Untuk mendukung keberhasilan bisnis, HKA juga telah menerapkan sistem informasi digital di seluruh operasional sehingga kinerja setiap unit dapat dipantau melalui dashboard yang terhubung langsung dengan Direksi dan Dewan Komisaris,” katanya.
Melalui penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan digitalisasi, HKA menargetkan peningkatan kualitas layanan operasi dan pemeliharaan jalan tol sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap kinerja grup Hutama Karya.
