Bank-bank nasional kini mengubah strategi dari mengejar kredit menjadi memperkuat likuiditas, digitalisasi, dan mengedepankan kualitas pembiayaan.
Meredanya konflik di Timur Tengah membawa angin segar bagi para pelaku pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Harga minyak yang sempat menembus level tinggi mulai bergerak turun, volatilitas pasar mereda, dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang perlahan berkurang.
Namun bagi industri perbankan Indonesia, berakhirnya fase terburuk konflik Timur Tengah belum serta-merta menghapus dampak ekonomi yang ditinggalkannya.
Bagi Indonesia, dampak paling nyata terlihat pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Untuk meredam gejolak tersebut, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate secara agresif hingga 100 basis poin dalam waktu satu bulan menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (saat tulisan ini ditayangkan di situs berita ini Destry menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI-Red.) menegaskan fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan likuiditas tetap memadai. “Dalam situasi ketidakpastian global yang masih sangat tinggi, Bank Indonesia perlu mengambil kebijakan jangka pendek untuk menjaga stabilitas ekonomi. Fokus utama kami adalah stabilitas nilai tukar dan likuiditas,” kata Destry kepada media, Senin (29/6/2026).
Untuk itu, Bank Indonesia memperbesar ekspansi likuiditas dari sekitar Rp 600 triliun pada akhir Mei menjadi Rp 1.000 triliun pada akhir Juni 2026. Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) berhasil menarik aliran modal asing sekitar US$ 9 miliar hingga 26 Juni 2026.
Upaya menjaga likuiditas juga dilakukan pemerintah dengan kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), sehingga nilainya mencapai Rp 400 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan langkah tersebut diambil setelah pemerintah melihat kondisi likuiditas perbankan yang lebih ketat dibandingkan perkiraan akibat penarikan sebagian dana SAL dalam beberapa bulan terakhir.
Digitalisasi dan Penguatan Ekosistem
Di tengah BI Rate 5,75 persen dan tingginya suku bunga global, isu utama perbankan kini bukan lagi ekspansi kredit semata, melainkan kemampuan menjaga likuiditas dan efisiensi biaya dana.
Dalam situasi seperti ini, bank-bank dengan basis dana murah (CASA) yang besar memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan bank yang masih mengandalkan deposito berjangka.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjadi salah satu contoh bagaimana bank besar merespons perubahan tersebut. Alih-alih mengerek bunga simpanan secara agresif, BRI memilih memperbesar aktivitas transaksi nasabah melalui digitalisasi dan penguatan ekosistem keuangan. Strategi ini diarahkan untuk meningkatkan dana murah sekaligus menekan biaya dana.
SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih mengatakan, pertumbuhan dana pihak ketiga kini tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan menarik simpanan baru. “Cara kita menumbuhkan DPK adalah dengan membangun CASA yang lebih bagus. Kita juga memperbaiki komposisi special rate deposito dan menggesernya ke yang lebih murah,” ujar Trilaksito.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada kuartal I 2026, tabungan BRI tumbuh 11,5 persen secara tahunan menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi
Memperkuat Value Chain
Bagi Bank Mandiri, tantangan pasca-konflik Timur Tengah tidak hanya soal likuiditas, tetapi juga bagaimana menjaga momentum pertumbuhan kredit di tengah ketidakpastian global.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menilai kenaikan BI Rate merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas rupiah.
Namun di level bisnis, Mandiri memilih memperkuat strategi value chain ecosystem. Pendekatan ini memungkinkan bank tidak hanya menjadi penyedia pembiayaan, tetapi juga bagian dari rantai bisnis nasabah. Strategi tersebut diperkuat melalui digitalisasi Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri yang terus meningkatkan aktivitas transaksi nasabah sekaligus memperkuat dana murah.
Hingga Mei 2026, DPK Bank Mandiri tumbuh 22 persen menjadi Rp 1.716 triliun, sementara kredit meningkat 20,6 persen menjadi Rp1.580 triliun. Di saat yang sama, laba bersih mencapai Rp23,3 triliun atau tumbuh 18,6 persen secara tahunan.
Jaga Intermediasi Secara Selektif
Berbeda dengan BRI yang fokus pada dana murah dan Mandiri yang memperkuat ekosistem value chain, BNI memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dalam menghadapi era bunga tinggi saat ini.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan stabilitas makroekonomi menjadi syarat utama agar fungsi intermediasi bank dapat berjalan secara sehat. “Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Dalam menghadapi era bunga tinggi, BNI mengedepankan tiga fokus utama: menjaga kualitas aset, memperkuat tata kelola risiko, dan mempercepat transformasi digital.
*Tulisan Ini Sebelumnya Ditayangkan di Majalah TopBusiness versi E-Magz
Tabel Strategi Bank Nasional Hadapi Era Suku Bunga Tinggi Pascakonflik Timur Tengah
| Bank | Fokus Strategi | Implementasi Utama | Tujuan |
| Memperkuat dana murah (CASA) dan menjadi bank transaksional | Pengembangan ekosistem digital melalui BRImo, peningkatan aktivitas transaksi nasabah, optimalisasi jaringan mikro dan pedesaan | Menekan cost of fund, menjaga likuiditas, dan meningkatkan dana murah | |
| BRI | Efisiensi pendanaan | Mengurangi ketergantungan pada deposito berbunga tinggi dan menggeser komposisi dana ke sumber yang lebih murah | Menjaga profitabilitas di tengah kenaikan BI Rate |
| Memperkuat ekosistem UMKM | Memanfaatkan dominasi kredit mikro yang mencapai 72% portofolio kredit | Menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan berkelanjutan | |
| Penguatan ekosistem value chain | Integrasi pembiayaan dengan rantai pasok nasabah korporasi, komersial, dan UMKM | Memperdalam hubungan nasabah dan meningkatkan transaksi | |
| Bank Mandiri | Transformasi digital | Penguatan platform Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri | Meningkatkan dana murah, transaksi, dan efisiensi operasional |
| Fokus sektor produktif | Pembiayaan hilirisasi industri, UMKM, infrastruktur, dan sektor strategis nasional | Menjaga pertumbuhan kredit berkualitas | |
| Intermediasi selektif dan prudent | Penyaluran kredit secara lebih ketat berdasarkan profil risiko dan prospek sektor | Menjaga kualitas aset dan menghindari kenaikan NPL | |
| BNI | Penguatan manajemen risiko | Monitoring portofolio kredit, likuiditas, dan risiko pasar secara berkelanjutan | Memperkuat ketahanan bisnis di tengah volatilitas global |
| Transformasi digital | Digitalisasi proses layanan, kredit, dan pengalaman nasabah | Meningkatkan efisiensi dan produktivitas | |
| Menjaga keseimbangan likuiditas dan kredit | Penyesuaian strategi pendanaan sesuai kondisi pasar dan likuiditas | Menjaga stabilitas pertumbuhan bisnis | |
| BCA | Kredit berkualitas | Penyaluran kredit dengan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko | Mempertahankan kualitas aset |
| Pengelolaan suku bunga yang adaptif | Evaluasi berkala terhadap bunga simpanan dan kredit | Menjaga daya saing dan profitabilitas |
Sumber: diolah dari berbagai sumber
