TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ketika Bank Berburu Likuiditas

Nurdian Akhmad
6 August 2026 | 08:16
rubrik: Featured
Ini Mekanisme Pengucuran Subsidi Bunga

Foto: Rendy MR

Bank-bank nasional kini mengubah strategi dari mengejar kredit menjadi memperkuat likuiditas, digitalisasi, dan mengedepankan kualitas pembiayaan.

Meredanya konflik di Timur Tengah membawa angin segar bagi para pelaku pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Harga minyak yang sempat menembus level tinggi mulai bergerak turun, volatilitas pasar mereda, dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang perlahan berkurang.

Namun bagi industri perbankan Indonesia, berakhirnya fase terburuk konflik Timur Tengah belum serta-merta menghapus dampak ekonomi yang ditinggalkannya.

Bagi Indonesia, dampak paling nyata terlihat pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Untuk meredam gejolak tersebut, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate secara agresif hingga 100 basis poin dalam waktu satu bulan menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (saat tulisan ini ditayangkan di situs berita ini Destry menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI-Red.) menegaskan fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan likuiditas tetap memadai. “Dalam situasi ketidakpastian global yang masih sangat tinggi, Bank Indonesia perlu mengambil kebijakan jangka pendek untuk menjaga stabilitas ekonomi. Fokus utama kami adalah stabilitas nilai tukar dan likuiditas,” kata Destry kepada media, Senin (29/6/2026).

Untuk itu, Bank Indonesia memperbesar ekspansi likuiditas dari sekitar Rp 600 triliun pada akhir Mei menjadi Rp 1.000 triliun pada akhir Juni 2026. Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) berhasil menarik aliran modal asing sekitar US$ 9 miliar hingga 26 Juni 2026.

Upaya menjaga likuiditas juga dilakukan pemerintah dengan kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), sehingga nilainya mencapai Rp 400 triliun.

BACA JUGA:   Dan...Para Bankir Tetap Optimis

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan langkah tersebut diambil setelah pemerintah melihat kondisi likuiditas perbankan yang lebih ketat dibandingkan perkiraan akibat penarikan sebagian dana SAL dalam beberapa bulan terakhir.

Digitalisasi dan Penguatan Ekosistem

Di tengah BI Rate 5,75 persen dan tingginya suku bunga global, isu utama perbankan kini bukan lagi ekspansi kredit semata, melainkan kemampuan menjaga likuiditas dan efisiensi biaya dana.

Dalam situasi seperti ini, bank-bank dengan basis dana murah (CASA) yang besar memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan bank yang masih mengandalkan deposito berjangka.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjadi salah satu contoh bagaimana bank besar merespons perubahan tersebut. Alih-alih mengerek bunga simpanan secara agresif, BRI memilih memperbesar aktivitas transaksi nasabah melalui digitalisasi dan penguatan ekosistem keuangan. Strategi ini diarahkan untuk meningkatkan dana murah sekaligus menekan biaya dana.

SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih mengatakan, pertumbuhan dana pihak ketiga kini tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan menarik simpanan baru. “Cara kita menumbuhkan DPK adalah dengan membangun CASA yang lebih bagus. Kita juga memperbaiki komposisi special rate deposito dan menggesernya ke yang lebih murah,” ujar Trilaksito.

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada kuartal I 2026, tabungan BRI tumbuh 11,5 persen secara tahunan menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi

Memperkuat Value Chain

Bagi Bank Mandiri, tantangan pasca-konflik Timur Tengah tidak hanya soal likuiditas, tetapi juga bagaimana menjaga momentum pertumbuhan kredit di tengah ketidakpastian global.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menilai kenaikan BI Rate merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas rupiah.

Namun di level bisnis, Mandiri memilih memperkuat strategi value chain ecosystem. Pendekatan ini memungkinkan bank tidak hanya menjadi penyedia pembiayaan, tetapi juga bagian dari rantai bisnis nasabah. Strategi tersebut diperkuat melalui digitalisasi Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri yang terus meningkatkan aktivitas transaksi nasabah sekaligus memperkuat dana murah.

BACA JUGA:   Semoga Perbankan Aman-Terkendali

Hingga Mei 2026, DPK Bank Mandiri tumbuh 22 persen menjadi Rp 1.716 triliun, sementara kredit meningkat 20,6 persen menjadi Rp1.580 triliun. Di saat yang sama, laba bersih mencapai Rp23,3 triliun atau tumbuh 18,6 persen secara tahunan.

Jaga Intermediasi Secara Selektif

Berbeda dengan BRI yang fokus pada dana murah dan Mandiri yang memperkuat ekosistem value chain, BNI memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dalam menghadapi era bunga tinggi saat ini.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan stabilitas makroekonomi menjadi syarat utama agar fungsi intermediasi bank dapat berjalan secara sehat. “Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Dalam menghadapi era bunga tinggi, BNI mengedepankan tiga fokus utama: menjaga kualitas aset, memperkuat tata kelola risiko, dan mempercepat transformasi digital.

*Tulisan Ini Sebelumnya Ditayangkan di Majalah TopBusiness versi E-Magz

Tabel Strategi Bank Nasional Hadapi Era Suku Bunga Tinggi Pascakonflik Timur Tengah

BankFokus StrategiImplementasi UtamaTujuan
 Memperkuat dana murah (CASA) dan menjadi bank transaksionalPengembangan ekosistem digital melalui BRImo, peningkatan aktivitas transaksi nasabah, optimalisasi jaringan mikro dan pedesaanMenekan cost of fund, menjaga likuiditas, dan meningkatkan dana murah
BRIEfisiensi pendanaanMengurangi ketergantungan pada deposito berbunga tinggi dan menggeser komposisi dana ke sumber yang lebih murahMenjaga profitabilitas di tengah kenaikan BI Rate
 Memperkuat ekosistem UMKMMemanfaatkan dominasi kredit mikro yang mencapai 72% portofolio kreditMenjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan berkelanjutan
 Penguatan ekosistem value chainIntegrasi pembiayaan dengan rantai pasok nasabah korporasi, komersial, dan UMKMMemperdalam hubungan nasabah dan meningkatkan transaksi
Bank MandiriTransformasi digitalPenguatan platform Livin’ by Mandiri dan Kopra by MandiriMeningkatkan dana murah, transaksi, dan efisiensi operasional
 Fokus sektor produktifPembiayaan hilirisasi industri, UMKM, infrastruktur, dan sektor strategis nasionalMenjaga pertumbuhan kredit berkualitas
 Intermediasi selektif dan prudentPenyaluran kredit secara lebih ketat berdasarkan profil risiko dan prospek sektorMenjaga kualitas aset dan menghindari kenaikan NPL
BNIPenguatan manajemen risikoMonitoring portofolio kredit, likuiditas, dan risiko pasar secara berkelanjutanMemperkuat ketahanan bisnis di tengah volatilitas global
 Transformasi digitalDigitalisasi proses layanan, kredit, dan pengalaman nasabahMeningkatkan efisiensi dan produktivitas
 Menjaga keseimbangan likuiditas dan kreditPenyesuaian strategi pendanaan sesuai kondisi pasar dan likuiditasMenjaga stabilitas pertumbuhan bisnis
BCAKredit berkualitasPenyaluran kredit dengan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risikoMempertahankan kualitas aset
 Pengelolaan suku bunga yang adaptifEvaluasi berkala terhadap bunga simpanan dan kreditMenjaga daya saing dan profitabilitas

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Tags: likuiditas perbankan 2026
Previous Post

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat

Next Post

Analis Sarankan Enam Saham Ini: BRMS, TINS, TPIA, PTRO, IATA, dan CUAN untuk Trading

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR