TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Lewat GRC Terintegrasi, Semen Baturaja Bangun Ketahanan Bisnis di Tengah Ketatnya Industri Semen

Busthomi
7 August 2026 | 11:06
rubrik: Event, GCG
Lewat GRC Terintegrasi, Semen Baturaja Bangun Ketahanan Bisnis di Tengah Ketatnya Industri Semen

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) terus memperkuat implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah persaingan industri semen nasional yang semakin kompetitif. Bagi perseroan, GRC tidak lagi dipandang sebagai sekadar instrumen kepatuhan terhadap regulasi, melainkan telah menjadi bagian integral dari strategi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing jangka panjang.

Komitmen tersebut dipaparkan jajaran manajemen PT Semen Baturaja saat mengikuti sesi penjurian TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness. Dalam kesempatan itu, Direktur Utama PT Semen Baturaja Suherman Yahya menegaskan bahwa penerapan GRC telah ditempatkan sebagai salah satu enabler utama dalam peta jalan (roadmap) perusahaan.

“Bagi kami, GRC bukan sekadar pemenuhan regulasi. Governance, Risk Management, dan Compliance merupakan bagian dari strategi perusahaan dan menjadi komitmen manajemen dalam roadmap jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan perusahaan sekaligus memperkuat fondasi seluruh pilar strategi bisnis,” ujar Suherman, Kamis 6/8/2026).

Menurutnya, implementasi GRC kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengambilan keputusan strategis perusahaan. Seluruh aspek tata kelola, manajemen risiko, hingga kepatuhan telah diintegrasikan dalam satu sistem operasional agar setiap keputusan bisnis mampu memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, Semen Baturaja juga terus memperkuat penerapan tata kelola melalui integrasi fungsi governance, risk management, dan compliance ke dalam satu lini organisasi. Langkah tersebut diperkuat melalui penerapan Three Lines Model, optimalisasi teknologi digital dalam sistem pengawasan, serta penguatan budaya integritas melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).

“Kami terus memperkuat integrasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan dalam satu lini operasional melalui penerapan Three Lines Model, optimalisasi teknologi digital dalam pengawasan, serta komitmen penuh terhadap budaya integritas, termasuk penguatan Sistem Manajemen Anti Penyuapan. Dengan demikian, setiap keputusan bisnis yang kami ambil selaras dengan penciptaan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Suherman.

BACA JUGA:   PDSI Andalkan GRC untuk Mendorong Efisiensi, Profitabilitas, dan Ekspansi Bisnis

GRC Menjadi Benteng Pengelolaan Risiko

Di tengah dinamika industri semen yang menghadapi tekanan permintaan, kompetisi harga, hingga meningkatnya tuntutan efisiensi operasional, Semen Baturaja menempatkan manajemen risiko sebagai salah satu instrumen penting dalam menjaga kesinambungan usaha.

Perusahaan memetakan lima tantangan strategis yang kemudian diintegrasikan langsung ke dalam proses mitigasi berbasis GRC. Sejumlah strategi dijalankan, mulai dari memperkuat penetrasi pasar yang selaras dengan strategi induk usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), meningkatkan pendapatan melalui penjualan groundstone dan clay, hingga melakukan continuous improvement terhadap implementasi GRC.

Dalam sistem tersebut, fungsi manajemen risiko tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga menjadi enabler yang secara aktif memantau profil risiko perusahaan, melakukan stress testing, mengevaluasi risiko inheren maupun residual, serta menyusun laporan risiko secara berkala kepada Direksi.

Sementara itu, fungsi Internal Audit menjalankan peran sebagai independent assurance melalui pelaksanaan audit berbasis risiko (risk based audit) untuk memastikan seluruh proses mitigasi berjalan sesuai dengan tingkat risiko (risk appetite) yang telah ditetapkan perusahaan.

Setiap unit kerja juga memiliki Risk Owner yang bertanggung jawab mengidentifikasi dan mengelola risiko di unit masing-masing. Untuk memperkuat implementasinya, perusahaan membentuk Risk Management Officer (RMO) sebagai perpanjangan tangan fungsi manajemen risiko di seluruh departemen.

Mengandalkan Three Lines Model

Penguatan tata kelola di Semen Baturaja juga dilakukan melalui implementasi Three Lines Model, yang menjadi kerangka utama dalam pengelolaan risiko perusahaan.

Pada lini pertama terdapat Risk Owner yang bertanggung jawab langsung terhadap pengelolaan risiko operasional. Lini kedua diisi oleh fungsi Manajemen Risiko yang berperan sebagai fasilitator dan pendamping implementasi manajemen risiko. Sementara lini ketiga dijalankan oleh Internal Audit yang memberikan penilaian independen terhadap efektivitas sistem pengendalian internal.

BACA JUGA:   Terapkan GRC, Perumda Tirta Moico Siap Jadi BUMD Air Minum Sehat dan Profesional

Kolaborasi antarlini tersebut diwujudkan melalui berbagai forum seperti Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi penyusunan profil risiko, monitoring berkala, hingga evaluasi efektivitas penerapan manajemen risiko melalui proses audit.

Selain itu, perusahaan juga menerapkan RACI Matrix untuk memastikan pembagian peran dan tanggung jawab setiap pihak berjalan secara jelas, sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan maupun kekosongan fungsi dalam setiap tahapan pengelolaan risiko.

Empat Pilar Tata Kelola

Salah satu kekuatan implementasi GRC di Semen Baturaja adalah integrasi empat pilar utama yang membentuk satu ekosistem tata kelola perusahaan.

Keempat pilar tersebut terdiri atas Governance, Risk Management, Compliance, dan Internal Control.

Melalui integrasi tersebut, seluruh aktivitas bisnis perusahaan dijalankan dalam koridor tata kelola yang bersih, transparan, terukur, dan patuh terhadap regulasi.

Perseroan juga memiliki Risk Appetite Statement yang ditetapkan Direksi dan dikaji secara berkala sesuai perkembangan kondisi internal maupun eksternal perusahaan. Dokumen tersebut menjadi acuan dalam menentukan tingkat risiko yang dapat diterima perusahaan dalam mencapai sasaran bisnis.

Pada 2026, Semen Baturaja mulai mengadopsi pengelompokan risiko (taksonomi risiko) yang mengacu pada formulasi PT Danantara Asset Management dan SIG, khususnya dalam penetapan risiko strategis perusahaan.

Kepatuhan dan Pengendalian Internal

Aspek kepatuhan menjadi bagian penting dalam implementasi GRC di Semen Baturaja.

Perusahaan memastikan seluruh aktivitas bisnis berjalan sesuai ketentuan melalui berbagai perangkat regulasi internal, mulai dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB), SOP Layanan Hukum, hingga berbagai kebijakan perusahaan lainnya.

Di sisi lain, penguatan Internal Control terus dilakukan melalui implementasi Control Self Assessment (CSA).

Dalam evaluasi terakhir, perusahaan melakukan pengujian terhadap 73 key control, dengan hasil mayoritas kontrol dinyatakan berjalan efektif. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk melakukan penyempurnaan sistem pengendalian internal secara berkelanjutan.

BACA JUGA:   Lewat GRC, BCA Syariah Perkuat Inovasi dan Ketahanan Bisnis

Selain memperkuat pengendalian internal, Semen Baturaja juga menjalankan konsep Sustainability by Design, yaitu mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam strategi bisnis perusahaan melalui penguatan organisasi, tata kelola, dan implementasi GRC secara menyeluruh.

Mendukung Ketahanan Bisnis

PT Semen Baturaja merupakan produsen semen yang berdiri sejak 14 November 1974. Perseroan kini menjadi bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) setelah resmi bergabung pada 2022.

Selain memasarkan semen di wilayah Sumatera Selatan dan Lampung, perusahaan juga memproduksi berbagai jenis semen seperti OPC Tipe I, Portland Composite Cement (PCC), white clay, dan limestone. Perseroan juga mengembangkan bisnis pengelolaan limbah B3 maupun non-B3.

Di tengah ketatnya persaingan industri semen, perusahaan terus mendorong peningkatan efisiensi operasional dan profitabilitas. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif, tercermin dari pertumbuhan laba bersih dan profitabilitas perusahaan pada 2025.

Suherman menegaskan, penguatan implementasi GRC akan terus menjadi salah satu prioritas perusahaan dalam mendukung transformasi bisnis sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.

“Kerangka GRC yang kami bangun menjadi benteng dalam melindungi aset perusahaan sekaligus menjadi faktor utama yang mendorong terciptanya perusahaan yang tangguh, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Suherman.

Sejumlah penghargaan nasional yang diraih perusahaan dalam bidang tata kelola dan manajemen risiko, lanjutnya, menjadi bukti bahwa implementasi GRC di Semen Baturaja terus bergerak menuju level yang semakin matang.

Ke depan, perseroan berkomitmen untuk terus menyempurnakan praktik tata kelola, memperkuat budaya integritas, serta meningkatkan kualitas pengelolaan risiko agar mampu menghadapi berbagai tantangan bisnis secara adaptif dan berkelanjutan.

Tags: PT Semen Baturaja TbkTOP GRC Awards 2026
Previous Post

BSI Umumkan 50 Pemenang Tabungan Haji Berhadiah Umrah

Next Post

IGHE 2026 Kembali Digelar di Jakarta, Menjadi Gerbang Inovasi dan Peluang Bisnis Industri Gifts dan Housewares Asia Tenggara

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR