Jakarta, TopBusiness – PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) menempatkan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) bukan sekadar sebagai fungsi pengawasan dan kepatuhan. Perusahaan menjadikannya sebagai strategic enabler yang terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Director & Chief Financial Officer Lintasarta, Hariyadi Ramelan, mengatakan penguatan GRC menjadi semakin penting seiring meningkatnya kompleksitas persoalan yang dihadapi perusahaan, baik pada tingkat global, regional maupun nasional.
“Bagi kami, GRC bukan satu fungsi yang berdiri sendiri, tetapi lebih merupakan strategic enabler dalam proses pengambilan keputusan di bisnis kami,” ujar Hariyadi dalam penjurian TOP GRC Awards 2026 yang digelar secara daring, Selasa (19/8/2026).
Hadir mendampingi Hariyadi, antara lain, Arief N Kuncoro selaku Head of Enterprise Risk and Compliance, Billy Nikolas Simanjuntak sebagai Head of Corsec, Legal, Regulatory and Sustaianability, dan Rizki Muhammad Ridwan, Head of Strategi and Business Development.
Lintasarta sendiri bergerak di bisnis teknologi informasi dan komunikasi (ICT), dengan empat kapabilitas utama yang menjadi intelligent core perusahaan, yakni connectivity, cloud, cybersecurity, dan collaboration.
Menurut Hariyadi, peran GRC semakin signifikan dalam memastikan proses tata kelola (governance), manajemen risiko (risk management), dan kepatuhan (compliance) menjadi faktor penting dalam menghasilkan keputusan bisnis yang tepat.
Hal itu sekaligus diperlukan untuk menjaga kepercayaan seluruh pemangku kepentingan.
“Peran GRC jelas sangat signifikan. Dari tahun ke tahun semakin berkembang dengan kompleksitas isu dan persoalan, baik yang sifatnya global, regional, ataupun nasional,” katanya.
GRC Terintegrasi dengan Bisnis
Dalam implementasinya, Lintasarta mengintegrasikan GRC dengan berbagai aspek pengelolaan perusahaan, termasuk ESG, audit internal, pengelolaan risiko, hingga pengembangan teknologi.
Perusahaan menerapkan tujuh topik material ESG, yaitu etika dan integritas, tata kelola, keamanan siber, keselamatan dan kesehatan kerja, kesejahteraan karyawan, dampak ekonomi, serta kerahasiaan pelanggan.
Topik-topik tersebut kemudian dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Pengelolaan ESG melibatkan CEO dan Direksi, Internal Audit, serta sejumlah fungsi terkait, termasuk Risk & Compliance, Supply Chain, Strategy & Business Development, dan Corporate Secretary.
Di sisi pengawasan, Lintasarta menjalankan proses internal audit mulai dari persiapan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan, pelaporan, hingga proses pascapemeriksaan.
Perusahaan juga menggunakan standar Global Internal Audit Standards dan pendekatan berbasis ISO dalam proses audit.
Selain itu, Lintasarta memiliki Audit Charter serta Whistleblowing System (WBS) yang memberikan perlindungan terhadap informasi pelapor.
Budaya Risiko Diperkuat
Implementasi GRC juga diperkuat melalui budaya perusahaan yang disebut ICARE, yang terdiri atas Innovation, Collaboration, Agility, Resilience, dan Ethics.
Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam aktivitas sehari-hari perusahaan, termasuk dalam membangun pemahaman karyawan terhadap risiko.
Penguatan budaya tersebut antara lain dilakukan melalui Town Hall Meeting secara berkala.
Lintasarta juga menjalankan sejumlah inisiatif untuk memperkuat penerapan GRC, seperti top management morning call, implementasi ESG, internal audit review, project approval and oversight, implementation review, serta penggunaan sumber eksternal dalam analisis risiko.
Berbagai upaya tersebut turut tercermin dari peningkatan skor kematangan (maturity) Lintasarta.
Berdasarkan pemaparan dalam penjurian, maturity score Lintasarta meningkat dari 3,37 pada 2024 menjadi 3,70 pada 2025. Sementara itu, skor GCG meningkat dari 3,79 menjadi 3,80 pada periode yang sama.
GRC Dukung Pengembangan AI
Penguatan GRC juga berjalan bersamaan dengan pengembangan bisnis berbasis artificial intelligence (AI).
Lintasarta mengembangkan inisiatif yang disebut AI Merdeka, antara lain melalui Laskar AI, Semesta AI, dan berbagai AI use case.
Dalam pengembangan AI tersebut, Lintasarta bekerja sama dengan NVIDIA dan menjadi NVIDIA Cloud Partner di Indonesia. Kemitraan itu dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai use case yang dapat menunjang bisnis Lintasarta.
Pengembangan AI tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah SDGs, antara lain pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, industri dan inovasi, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangan, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.
Bagi Lintasarta, integrasi GRC dengan pengelolaan bisnis, ESG, budaya perusahaan, teknologi, dan manajemen risiko menjadi bagian dari upaya membangun pertumbuhan yang berkelanjutan.
Hariyadi mengatakan Lintasarta terbuka terhadap masukan untuk terus menyempurnakan penerapan GRC di perusahaan.
Ia berharap implementasi tersebut dapat menunjukkan komitmen Lintasarta dalam menciptakan nilai jangka panjang melalui GRC yang efektif dan berintegritas.
“Bagi kami, ini bukan sekadar pengakuan, melainkan momentum untuk berbagi bagaimana pelaksanaan praktik terbaik dan sekaligus merefleksikan komitmen kami di Lintasarta terhadap implementasi GRC yang terintegrasi dan berkelanjutan,” pungkas Hariyadi.
Salah satu contoh konkret penerapan GRC yang dipaparkan Lintasarta adalah pengelolaan sebuah proyek lintas negara yang berkaitan dengan bisnis AI dengan nilai sekitar Rp4,2 triliun.
Proyek tersebut memiliki sejumlah eksposur risiko, antara lain regulasi lintas negara (cross-border regulation), volatilitas mata uang (currency volatility), serta potensi gangguan rantai pasok (supply chain disruption).
