TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Jamkrida Jakarta Jadikan GRC Kunci Membangun Perusahaan Tangguh-Terpercaya-Adaptif-Berkelanjutan

Fauzi
14 August 2026 | 10:02
rubrik: Event, GCG
Jamkrida Jakarta Jadikan GRC Kunci Membangun Perusahaan Tangguh-Terpercaya-Adaptif-Berkelanjutan

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — PT Jamkrida Jakarta (Perseroda) terus berupaya menerapkan Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi pertumbuhan sekaligus keberlanjutan perusahaan. Bagi perusahaan penjaminan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, GRC tidak sekadar diterapkan untuk memenuhi regulasi, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun perusahaan yang tangguh, terpercaya, adaptif, dan berkelanjutan.

Direktur Utama PT Jamkrida Jakarta (Perseroda) Agus Supriadi mengatakan, penerapan GRC diarahkan untuk memastikan pertumbuhan bisnis tetap berjalan dalam koridor risiko yang dapaat dikendalikan.

“GRC tidak hanya diterapkan untuk mematuhi regulasi tetapi juga digunakan dalam membangun lembaga penjaminan yang tangguh, terpercaya, adaptif, dan berkelanjutan,” ujar Agus saat sesi penjurian TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Majalah TopBusiness, Kamis (13/8/2026).

Jamkrida Jakarta merupakan BUMD Pemprov DKI Jakarta yang bergerak di bidang penjaminan kredit dan pembiayaan, khususnya bagi UMKM dan koperasi. Melalui visi dan misinya, perusahaan berkomitmen menjadi mitra utama bagi UMKM sekaligus memberikan manfaat berkesinambungan kepada pemegang saham, karyawan, mitra kerja, dan masyarakat.

GRC Jaga Pertumbuhan Tetap Terkendali

Menurut Agus, GRC menjadi fondasi penting dalam memastikan ekspansi bisnis tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga memperhatikan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko.

“GRC ini memastikan ekspansi perusahaan tetap berada dalam risk appetite dan tidak sekadar mengejar pertumbuhan volume. Jadi risk appetite-nya bisa kita kendalikan,” tegasnya.

Peran GRC semakin penting setelah Jamkrida Jakarta memperoleh izin OJK pada 9 Mei 2025 untuk beroperasi dalam skala nasional. Dengan izin tersebut, perusahaan dapat memberikan penjaminan di seluruh wilayah Indonesia.

Perluasan skala usaha tersebut diikuti dengan penguatan tata kelola. Struktur perusahaan didukung Dewan Komisaris, Direksi, Dewan Pengawas Harian, dan Sekretaris Perusahaan yang memiliki fungsi saling melengkapi dalam pengurusan, pengawasan, kepatuhan syariah, dan komunikasi perusahaan.

“Struktur ini menjadi bagian penting dalam memastikan prinsip check and balance berjalan secara efektif,” kata Agus.

Dari sisi manajemen risiko, Jamkrida Jakarta menerapkan tiga lini pertahanan. Lini pertama adalah unit bisnis dan operasional sebagai pemilik risiko, lini kedua fungsi manajemen risiko dan kepatuhan sebagai pengawas, sedangkan lini ketiga adalah Satuan Pengawasan Intern (SPI) sebagai pemberi assurance independen.

BACA JUGA:   SMF Perkuat Implementasi GRC untuk Dukung Pembiayaan Perumahan Berkelanjutan

Model tersebut diintegrasikan dengan kerangka COSO ERM dan ISO 31.000, serta didukung risk register, pemantauan kepatuhan, pengawasan Dewan Komisaris, dan whistleblowing system.

Perusahaan juga menetapkan risk appetite dan risk tolerance untuk menentukan batas risiko yang dapat diterima. Analisis risiko diterapkan dalam proses bisnis penjaminan, mulai dari pengajuan, analisis kelayakan, keputusan penjaminan, pengajuan dan pembayaran klaim hingga penagihan dan subrogasi.

“Pendekatan ini tentu memastikan setiap keputusan bisnis melalui proses identifikasi, analisis, mitigasi, dan pengendalian risiko,” ujar Agus.

Hadapi Tantangan Industri dengan Strategi Bisnis

Penerapan GRC juga menjadi bagian dari strategi Jamkrida Jakarta menghadapi tantangan industri penjaminan. Agus menyebut tiga tantangan utama, yakni peningkatan NPL perbankan, gearing ratio, dan perkembangan P2P lending.

Untuk merespons tantangan tersebut, perusahaan melakukan pengembangan kerja sama dengan mitra baru, digitalisasi sertifikat penjaminan, dan pemeliharaan mitra existing. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas portofolio sekaligus menjaga hubungan dengan mitra.

Dalam jangka panjang, Jamkrida Jakarta mendorong diversifikasi produk dan sistem layanan terintegrasi, termasuk host to host dari penjaminan hingga subrogasi. Perusahaan juga mempersiapkan spin off unit usaha syariah pada 2031.

Strategi tersebut ditopang empat unsur utama, yakni kepatuhan, pengendalian dan batas risiko, layanan pelanggan yang responsif dan solutif, serta dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Di sisi lain, Agus menempatkan sumber daya manusia dan teknologi informasi sebagai modal penting perusahaan dalam menghadapi perkembangan bisnis.

“Human capital dan IT menjadi kompetensi, integrasi proses data dan digitalisasi di era ke depan SDM kami,” ujarnya.

Kinerja Bertumbuh, Pengendalian Klaim Diperkuat

Penerapan GRC berjalan seiring dengan perkembangan kinerja perusahaan. Hingga 31 Desember 2025, Jamkrida Jakarta memiliki modal dasar Rp1,6 triliun dengan modal disetor Rp600 miliar. Total aset mencapai sekitar Rp1,5 triliun, sedangkan volume penjaminan 2025 mencapai Rp31,85 triliun.

BACA JUGA:   Bank NTB Syariah, Nominator Peraih TOP Human Capital Awards 2024

Outstanding penjaminan dan Imbal Jasa Penjaminan juga meningkat. Namun, pertumbuhan tersebut diikuti kenaikan klaim yang berdampak terhadap laba perusahaan.

Agus menjelaskan, laba 2025 tercatat Rp16,001 miliar, turun dibandingkan 2024 yang mencapai Rp27,402 miliar.

“Kenapa? Kami labanya menurun di sini, Rp16,001 miliar. Di 2024 Rp27,402 miliar karena memang klaim yang luar biasa dari mitra kami juga di sini,” ungkapnya.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk terus memperkuat efisiensi, kualitas underwriting, dan pengendalian klaim. Pada saat yang sama, Jamkrida Jakarta tetap berupaya menumbuhkan aset, pendapatan, ekuitas, dan investasi serta mempertahankan tingkat kesehatan perusahaan.

Dari sisi kemitraan, Jamkrida Jakarta juga memperluas sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta dan BUMD di lingkungan pemerintah daerah, terutama dalam penjaminan bank garansi dan pengadaan untuk surety bond. Perusahaan juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga keuangan dan mitra bisnis.

Digitalisasi Perkuat Transparansi

Transformasi digital menjadi bagian penting dalam penguatan GRC. Jamkrida Jakarta mengembangkan Portal Mitra untuk pengajuan, penjaminan, dan klaim, serta mengintegrasikan Host to Host API dan dashboard monitoring kinerja.

Perusahaan juga mulai memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung pengelolaan teknologi informasi, pengendalian internal, pemantauan sistem, dan otomasi proses.

“Digitalisasi ini meningkatkan kecepatan, transparansi, akurasi, dan efektivitas pengendalian,” kata Agus.

Portal Klaim menjadi salah satu contoh penerapan digital GRC. Melalui platform tersebut, proses klaim menjadi lebih transparan, cepat, terdokumentasi, dan mudah dipantau.

Digitalisasi juga mendukung aspek keberlanjutan melalui pengurangan penggunaan kertas dan emisi karbon. Di sisi sosial, perusahaan mendorong penjaminan inklusif bagi UMKM, sedangkan pada aspek tata kelola fokus diarahkan pada penguatan GCG, keamanan data, kualitas underwriting, pengurangan klaim, subrogasi, dan penjaminan ulang.

GRC Menjadi Budaya Perusahaan

Penerapan GRC Jamkrida Jakarta diperkuat melalui budaya perusahaan. Nilai BETAWI yang terdiri dari Building Trust, Excellent Service, Teamwork, Accountability, Wise, dan Innovative telah dibangun sejak 2014. Nilai tersebut kemudian diperkuat melalui MK5JJ, yakni Militansi, Komunikasi, Kesehatan, Kolaborasi, Koordinasi, dan Berkontribusi untuk Jamkrida Jakarta.

BACA JUGA:   Siap Jadi Perseroda, Bank Madiun Perkuat Keberlanjutan Bisnis Lewat Intelligent GRC

Budaya integritas juga diperkuat melalui sistem manajemen anti penyuapan ISO 37001, whistleblowing system, serta internalisasi nilai budaya.

“Tagline ‘GRC is Everyone’s Business’. Jadi GRC itu adalah nafas, ruh kita untuk bisa melakukan bisnis di penjaminan bagi setiap insan Jamkrida Jakarta,” tegas Agus.

Budaya risiko dibangun melalui empat unsur, yakni Tone at the Top, Risk Culture, Training, dan Ownership. Kompetensi SDM diperkuat melalui sertifikasi dan pelatihan, termasuk CRMO, Future-Ready Board, GCG Excellence, dan Qualified Risk Management.

“Sasarannya akhirnya adalah agar setiap unit menjadi pemilik risiko yang mampu mengenali, mengendalikan, memantau, dan mengeskalasi risiko sesuai kewenangannya,” ujar Agus.

GRC Ciptakan Nilai Nyata

Konsistensi penerapan GRC turut mengantarkan Jamkrida Jakarta mempertahankan penghargaan TOP GRC selama dua tahun berturut-turut pada 2024-2025. Namun, bagi perusahaan, GRC bukan sekadar tentang penghargaan, melainkan bagaimana prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan menghasilkan dampak nyata.

Penerapan GRC diarahkan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas, memastikan prinsip kehati-hatian dan mitigasi risiko, serta memperkuat kepatuhan, kontrol, dan integritas. Pada akhirnya, pendekatan tersebut diharapkan menjaga reputasi dan kepercayaan pemangku kepentingan.

Agus menegaskan, keberhasilan penerapan GRC tercermin dari semakin terintegrasinya GRC dalam pengelolaan perusahaan, pertumbuhan kinerja yang sehat, penguatan budaya risiko, serta peningkatan kualitas layanan melalui digitalisasi.

“Yang terakhir kuncinya (bagi) kami adalah semakin terintegrasinya GRC (berdampak) dalam pengelolaan perusahaan, pertumbuhan kinerja yang sehat, implementasi Portal Klaim, penguatan budaya risiko, perluasan nilai operasional, serta konsistensi dapat penghargaan (bidang) bisnis dan GRC,” katanya di hadapan dewan juri yang hadir antara lain Kusuma Prabandari (Dwika Consulting), Satya Arinanto (Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Bobby Hamzah (PaGI).

Ke depan, Jamkrida Jakarta berkomitmen terus meningkatkan maturitas GRC, memperkuat budaya risiko, mengembangkan teknologi, serta menjaga kepercayaan seluruh pemangku kepentingan.

Bagi Jamkrida Jakarta, transformasi GRC merupakan proses berkelanjutan untuk memastikan pertumbuhan perusahaan tetap sehat, risiko terkendali, kepatuhan terjaga, dan setiap keputusan bisnis mampu menciptakan nilai jangka panjang.

Tags: PT Jamkrida JakartaTOP GRC Awards 2026
Previous Post

Ada di Setiap Keputusan Strategis, GRC Dorong Pertumbuhan Bisnis PT Pelayaran Bahtera Adhiguna

Next Post

Menyimak GRC di Kawasan Industri Terpadu Batang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR