Jakarta, TopBusiness—PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) terus mengintesifkan praktik GRC (governance, risk, and compliance) untuk operasional atau pun antisipasi masa depan. Termasuk di situ adalah mengintensifkan praktik sebagai kawasan yang berkelanjutan.
Dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top GRC Awards 2026 (13/8/2026), Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Batang, Marfan Trihartiko, mengatakan bahwa perusahaan tersebut mengupayakan pengadaan listrik secara internal. “Jadi, kalau kini kan 50% dari kebutuhan listrik kami dipasok PLN. Ke depan, kami akan pasok yang 50% lagi,” kata Marfan.
Ke depan, untuk area non-kawasan industri pun, KITB akan memasok listrik secara internal itu. Untuk itulah KITB akan berkolaborasi dengan pihak lain.
Saat ini, Marfan mengatakan lebih lanjut, KITB sudah menggunakan panel solar untuk sebagian kebutuhan listrik. “Selain panel solar, kami akan menggunakan PLTG (pembangkit listrik tenaga gas) yang operasionalnya lebih bersih lingkungan.”
KITB, papar Marfan, sedang memproses peizinan untuk bisa memasok listrik secara internal tersebut.
Di kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Kawasan Industri Terpadu Batang, Angga Arie Saputra, menjelaskan bahwa agar tenant/investor lebih tertarik datang, kawasan industri tersebut menghadirkan dan menjamin kepastian bisnis. “Misalnya, kami mem-branding sebagai ‘kawasan industri pemerintah Indonesia’,” kata Angga.
Angga pun menjelaskan bahwa status sebagai KEK (kawasan ekonomi khusus) dan merupakan PSN (proyek strategis nasional) memermudah KITB untuk menarik tenant. “Status tersebut pun membuat KITB memercepat akselerasi bisnis,” kata Angga.
Adapun Kepala Divisi Manajemen Risiko dan ESG (Environment, Social, and Governance) Kawasan Industri Terpadu Batang, Agung Gunawan, menjelaskan bahwa di perusahaan tersebut, governance model dirancang untuk memastikan penerapan GRC berjalan secara terstruktur. “Dan itu mencakup tingkat Dewan Komisaris/Dewan Pengawas, Direksi, komite, fungsi GRC, unit bisnis, hingga internal audit,” kata Agung.
Agung pun memaparkan bahwa GRC telah berdampak nyata ke performa bisnis KITB. Sebagai contoh, Pefindo memberikan predikat BBB+ untuk rating kredit KITB.
Kemudian, di kelompok Holding Danaeraksa, KITB merupakan peraih laba bersih tertinggi untuk tahun pembukuan 2025. Dalam hal tersebut, laba bersih 2025 di Rp387,86 miliar. Sedangkan di tahun sebelumnya, angka itu di Rp291,83 miliar.
“Kami pun punya kompetensi dan program untuk tumbuh berkelanjutan. Hal itu melalui berbagai program ESG,” demikianlah Agung menjelaskan.
