Jakarta, TopBusiness — PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) menjadikan penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai bagian penting dalam memastikan pertumbuhan bisnis berjalan prudent, terukur, dan berkelanjutan. Bagi perusahaan, GRC tidak sekadar menjadi instrumen pengelolaan risiko dan kepatuhan, tetapi telah ditempatkan sebagai fondasi dalam setiap pengambilan keputusan strategis.
Direktur Utama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna, Tri Susanto, mengatakan penerapan GRC di BAg diarahkan agar selaras dengan strategi, sasaran, dan risiko bisnis perusahaan. Pendekatan tersebut dinilai penting karena dinamika bisnis menuntut perusahaan untuk tetap prudent dalam menjalankan proses bisnis sekaligus mampu menangkap peluang pertumbuhan.
“Penerapan GRC di BAg selaras dengan strategi, sasaran dan Risiko bisnis Perusahaan,” ujar Tri saat sesi penjurian TOP GRC Awards yang digelar secara daring, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, setiap keputusan bisnis yang bersifat strategis di BAg senantiasa mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian. Dengan demikian, keputusan yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada peluang, tetapi juga didukung informasi yang akurat, prudent, dan akuntabel.
“Keputusan Bisnis yang bersifat strategis selalu mempertimbangkan Risiko dan ketidakpastian guna memberikan informasi yang akurat, prudent dan akuntabel sehingga dapat menangkap peluang-peluang bisnis yang lebih akurat,” katanya.
Jadi Fondasi Pengambilan Keputusan
Sekretaris Perusahaan PT BAg, Aditya Yudanto, menjelaskan penerapan GRC telah diintegrasikan ke dalam proses pengambilan keputusan perusahaan. BAg menempatkan governance, risk, dan compliance dalam satu kerangka yang saling terhubung untuk mendukung pengelolaan perusahaan.
“GRC juga bukan sekadar mengelola risiko, tetapi juga fondasi bagi PT BAg dalam pengambilan keputusan,” ujar Aditya di hadapan dewan juri antara lain Kusuma Prabandari (Dwika Consulting), Wahyudin Zarkasyi (Guru Besar Universitas Padjadjaran), Wahyu Setiaji (Dewan Pakar Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET)), dan Sentot Baskoro (Asosiasi GRK Indonesia).
Fondasi tersebut diarahkan untuk memastikan keputusan perusahaan mampu mendukung pertumbuhan sekaligus keberlanjutan dengan tetap berpegang pada nilai dan integritas.
Dalam praktiknya, aspek governance dan compliance dikelola melalui Sekretariat Perusahaan, sementara pengelolaan risiko berada di Direktorat Perencanaan dan Niaga. Sekretaris Perusahaan berperan memastikan pelaksanaan GRC berjalan dalam setiap pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan aset korporat maupun kegiatan operasional.
Di sisi pengawasan, Dewan Komisaris juga didukung Komite Risiko dan Komite Tata Kelola. Komite Risiko berperan meningkatkan kualitas pengawasan dan memberikan nasihat kepada Dewan Komisaris dalam manajemen risiko, sedangkan Komite Tata Kelola membantu mengkaji kebijakan tata kelola atau GRC yang disusun Direksi sekaligus mengevaluasi penerapannya.
Setiap Keputusan Strategis Harus Melewati GRC
Penguatan GRC juga terlihat dari mekanisme pengambilan keputusan di BAg. Setiap usulan keputusan strategis terlebih dahulu melalui proses GRC sebelum dibawa ke rapat Direksi. “Usulan keputusan strategis itu harus melewati GRC. Kemudian setelah lengkap semuanya baru dilaksanakan rapat direksi,” kata Aditya.
Dalam proses tersebut, risk owner, risk controller, dan risk management saling berkoordinasi untuk memastikan usulan keputusan telah memenuhi aspek GRC yang ditetapkan perusahaan.
Mekanisme itu berlaku baik untuk keputusan operasional maupun keputusan yang bersifat strategis. Selanjutnya, keputusan dibawa ke rapat Direksi dengan mempertimbangkan batas kewenangan masing-masing organ, baik Direksi, Komisaris, maupun pemegang saham.
“Dari alur ini kami berusaha untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan untuk baik yang sifatnya operasional maupun yang sangat strategis harus berdasarkan dengan prinsip Good Corporate Governance dengan fungsi dari masing-masing organ harus terpenuhi,” ujar Aditya.
Penerapan GRC
Dalam penerapan GRC, BAg juga memperkuat manajemen risiko melalui sejumlah instrumen. Perusahaan tidak hanya melakukan identifikasi risiko, tetapi juga mengukur risiko terhadap risk appetite, melakukan pemantauan melalui Key Risk Indicators (KRI), serta menguji berbagai kemungkinan melalui scenario analysis.
Risk appetite digunakan untuk menetapkan batas risiko yang dapat diterima sesuai dengan strategi, target bisnis, dan kapasitas perusahaan. Sementara risk profile digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memetakan, dan memonitor risiko utama perusahaan secara keseluruhan.
Adapun KRI berfungsi sebagai indikator peringatan dini untuk mendeteksi perubahan tingkat eksposur risiko sehingga tindakan korektif dapat dilakukan lebih awal.
Sementara itu, scenario analysis dilakukan melalui analisis dan simulasi terhadap skenario risiko strategis maupun operasional. Pendekatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi kondisi ekstrem, perubahan pasar, maupun gangguan operasional.
“Untuk Risk Management Excellence PT BAg memastikan risiko tidak hanya diidentifikasi, tetapi diukur terhadap risk appetite, dimonitor melalui KRI, diuji melalui scenario analysis, dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan,” kata Aditya.
Selain risiko, aspek compliance dan integrity menjadi bagian penting dalam penerapan GRC di BAg. Perusahaan menjalankan sistem manajemen kepatuhan yang dikoordinasikan oleh PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) kepada entitas anak.
Sejumlah kebijakan telah menjadi bagian dari sistem manajemen kepatuhan BAg, mulai dari Kebijakan Pengelolaan Pengaduan Pelanggaran atau Whistle Blowing System (WBS), kebijakan anti-fraud, Pedoman Perilaku dan Etika Bisnis (Code of Conduct), pedoman pelaporan LHKPN, pengendalian gratifikasi, hingga konflik kepentingan.
Penguatan kepatuhan tersebut juga didukung internal control assurance melalui empat pilar, yakni Risk Control Matrix (RCM), audit, control testing, dan follow-up.
Melalui RCM, perusahaan melakukan pemetaan dan identifikasi risiko, menyusun aktivitas kontrol, mengumpulkan evidence, serta berkoordinasi dengan control owner pada proses bisnis. Sementara audit dilakukan untuk menilai efektivitas governance, risk management, dan internal control.
Control testing kemudian memastikan kontrol yang telah ditetapkan tidak hanya tersedia secara prosedural, tetapi benar-benar berjalan efektif. Adapun follow-up diarahkan untuk menutup control gaps, mencegah temuan berulang, serta meningkatkan efektivitas pengendalian.
Integrasikan ESG Sejak Perencanaan
Penerapan GRC di BAg juga tidak berdiri sendiri. Perusahaan mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), efisiensi, lingkungan, keselamatan, dan tanggung jawab sosial sejak tahap perencanaan.
Tri mengatakan integrasi tersebut penting untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan. “BAg mengintegrasikan aspek ESG, efisiensi, lingkungan, keselamatan, dan tanggung jawab sosial sejak tahap perencanaan sehingga dapat menciptakan keberlanjutan bisnis,” ujarnya.
Aditya menambahkan, pertimbangan ESG telah dimasukkan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Salah satu implementasinya dilakukan melalui full monitoring system dan efisiensi bahan bakar.
“Untuk Sustainability by Design, kami juga BAg selalu mengintegrasikan pertimbangan ESG ke dalam setiap proses pengambilan Keputusan,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, aspek keberlanjutan tidak hanya ditempatkan sebagai pelengkap, tetapi menjadi bagian dari proses bisnis dan pengambilan keputusan perusahaan.
Perkuat Transparansi dan Akuntabilitas dengan IT
Transformasi digital turut menjadi bagian dari penguatan GRC di BAg. Perusahaan mengintegrasikan teknologi dan data sebagai fondasi untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, kualitas pengambilan keputusan, serta efektivitas pengelolaan bisnis.
Penerapan teknologi informasi berbasis Enterprise Resource Planning (ERP), misalnya, membuat data keuangan dan penjualan diproses secara digital sesuai peran, transparan, dan terstandarisasi. Sistem keuangan juga memungkinkan proses berlangsung lebih real time dan akuntabel.
Di sisi pengadaan, BAg menggunakan aplikasi E-Procurement untuk membuat proses lebih efektif dan transparan. Perusahaan juga mengembangkan integrasi data dengan konsep Single Source of Truth (SSoT), sementara pengoperasian dan pemeliharaan kapal didukung aplikasi Ship Tracking dan Planned Maintenance System.
Menurut Aditya, integrasi teknologi dan data juga secara langsung mendukung implementasi GRC. “Data yang terintegrasi membantu pengambilan Keputusan yang lebih baik,” katanya.
Selain itu, pemantauan dapat dilakukan secara real time dan keberadaan SSoT memungkinkan data terintegrasi, transparan, serta akuntabel.
Kontribusi GRC pada Kinerja Perusahaan
Penguatan GRC turut berjalan beriringan dengan kinerja BAg yang terus mengalami peningkatan. Berdasarkan kinerja audited 2025 yang disampaikan dalam wawancara, perusahaan membukukan pendapatan Rp6,24 triliun, EBITDA Rp1,94 triliun, dan aset mencapai Rp6,19 triliun.
EBITDA tersebut tercatat 104% dari pencapaian RKAP, sedangkan Nilai Kinerja Organisasi (NKO) mencapai 102,64%.
Tri menilai kinerja tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keberlanjutan perusahaan.
“Ini pertumbuhannya dari tahun ke tahun semakin baik dan juga bisnisnya juga semakin berkembang. Alhamdulillah ini juga untuk memastikan keberlanjutan perusahaan,” ujarnya.
Dari sisi kontribusi, BAg juga mencatat sejumlah capaian. Pada 2025, perusahaan menyumbangkan dividen Rp284 miliar, membukukan profit lebih dari Rp1 triliun, serta menghasilkan sinergi dengan PLN Group sebesar Rp595 miliar.
BAg juga mencatat pendapatan dari luar PLN sebesar Rp751 miliar. Selain itu, perusahaan mulai memperluas jangkauan bisnis melalui aktivitas ocean-going dengan empat kali shipment ke kawasan ASEAN, yakni Vietnam dan Filipina, yang menghasilkan pendapatan Rp27 miliar.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator ekspansi BAg dalam mengembangkan sumber pendapatan di luar penugasan utama.
Maturity GRC Terus Ditingkatkan
Perjalanan penerapan GRC di BAg juga tercermin dari peningkatan maturity tata kelola. Perusahaan melakukan assessment GCG secara eksternal dengan menggunakan parameter PUGKI dan ACGS. Pada 2025, hasil PUGKI BAg mencapai 46 apply, meningkat dibandingkan 41 apply pada 2024. Sementara nilai ACGS mencapai 85,7, meningkat dibandingkan 75,92 pada 2024.
Di sisi WBS, BAg telah terintegrasi dengan PLN Holding. Perusahaan juga menginformasikan mekanisme tersebut kepada internal dan eksternal. Pada 2025, tidak terdapat WBS yang dilaporkan melalui mekanisme tersebut.
Selain itu, Pedoman Hubungan Induk dan Anak Perusahaan telah dibuat, termasuk corporate charter dan sistem pengadaan barang dan jasa melalui E-Procurement. Roadmap penerapan perbaikan manajemen risiko juga telah diimplementasikan dengan skor 102,82 dari target 100.
Capaian tersebut menunjukkan adanya penguatan manajemen risiko yang melampaui target perusahaan.
GRC Dorong BAg Lebih Resilient dan Adaptif
Bagi BAg, penerapan GRC pada akhirnya diarahkan untuk membangun perusahaan yang resilient dan adaptif menghadapi perubahan bisnis. Integrasi governance, risk, dan compliance diharapkan tidak hanya menjaga perusahaan dari risiko dan pelanggaran, tetapi juga menciptakan ruang bagi perusahaan untuk menangkap peluang secara lebih terukur.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi BAg untuk menjadi perusahaan pelayaran global dalam solusi logistik energi primer yang terintegrasi. Perusahaan juga menempatkan pengembangan usaha secara global dan berkelanjutan, penguatan kompetensi shipping practices dan logistik, serta penerapan sistem manajemen berprinsip GCG, ESG, dan kepentingan stakeholder sebagai bagian dari misinya.
Tri menegaskan, integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya BAg menerjemahkan mandat pemegang saham ke dalam langkah bisnis yang terukur.
“Dengan adanya Integrasi Governance, Risk dan Compliance mendorong kinerja yang resilient, adaptif terhadap perubahan bisnis, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang secara berkelanjutan,” kata Tri.
Pada akhirnya, GRC di BAg tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai fungsi pengawasan, melainkan sebagai mekanisme yang menyatukan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, ESG, teknologi, dan budaya kepemimpinan dalam satu proses pengambilan keputusan. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berupaya memastikan pertumbuhan bisnis tetap prudent sekaligus mampu menciptakan nilai jangka panjang secara berkelanjutan.
