TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

IHSG Kokoh di MA20, Analis Saham Indo Premier Rekomendasikan Saham Ini

Achmad Adhito
24 August 2026 | 07:29
rubrik: Capital Market
Hari Ini, Transaksi Saham Bernilai Rp 6,7 Triliun

Bursa Efek Indonesia (Dhi/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness—Sepanjang perdagangan 18–21 Agustus 2026 lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,93% ke level 6.525,69 dan bertahan di atas MA20 menandakan tren jangka pendek masih terjaga positif.

Penguatan tersebut diikuti peningkatan aktivitas pasar dengan rata-rata volume transaksi harian melonjak 47,90% menjadi 50,30 miliar saham, sementara frekuensi dan nilai transaksi masing-masing naik 5,52% menjadi 2,21 juta kali dan 2,36% menjadi Rp15,57 triliun. Di sisi lain, investor asing berbalik mencatat net buy Rp548,6 miliar dari net sell Rp1,58 triliun pada pekan sebelumnya.

“Kombinasi penguatan teknikal, peningkatan likuiditas, dan berbaliknya arus dana asing menjadi katalis yang memperkuat momentum IHSG memasuki pekan berikutnya,” tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot), Brigita Kinari, dalam riset terbaru yang diterima pagi ini oleh Redaksi Majalah TopBusiness.

Secara lebih komprehensif, Brigita memaparkan kondisi market secara global dan domestik, dimana dari sisi global sepanjang 18–21 Agustus Wall Street bergerak volatil dengan yield US Treasury dan harga minyak menjadi faktor utama yang membentuk sentimen pasar.

Kenaikan yield, dengan tenor 10-tahun mendekati 4,70% dan 30-tahun sekitar 5,25%, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta biaya pendanaan korporasi, sementara eskalasi ketegangan AS–Iran turut mendorong kenaikan harga minyak.

Sentimen sempat membaik pada 19 Agustus setelah Departemen Keuangan AS memperluas program buyback Treasury jangka panjang hingga sedikitnya US$4 miliar, yang membantu menekan yield dan memberikan ruang bagi rebound pasar saham.

“Namun, tekanan kembali muncul pada 20 Agustus seiring kenaikan yield, harga minyak, serta penurunan saham Walmart lebih dari 9% yang memicu kekhawatiran terhadap daya beli konsumen dan prospek laba korporasi.”

Ia menambahkan pada 21 Agustus Wall Street kembali rebound dengan Dow Jones naik 0,98%, S&P 500 0,43%, dan Nasdaq 0,44%, ditopang aktivitas bisnis AS yang solid dan penguatan saham ritel.

BACA JUGA:   Wait and See Data Inflasi AS, Ini Rekomendasi Analis Saham Ipot Pekan Ini

“Secara keseluruhan, pergerakan pekan tersebut menunjukkan pasar masih sensitif terhadap arah yield dan harga energi, sehingga meski aktivitas ekonomi AS tetap solid, risiko inflasi, fiskal, dan geopolitik masih menjadi faktor pembatas bagi aset berisiko,” tandasnya.

Sementara itu dari sisi domestik, IHSG mendapat katalis positif dari kebijakan moneter yang tetap akomodatif dan menopang aktivitas intermediasi perbankan. BI mempertahankan BI Rate di 5,75% untuk menjaga ekspektasi biaya pendanaan tetap stabil, sementara perluasan insentif swap lindung nilai bagi pinjaman luar negeri dan FDI memperkuat upaya menjaga stabilitas Rupiah serta mendukung arus modal asing.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,0% YoY pada Juli 2026 dari 12,1% pada Juni, memperkuat ekspektasi terhadap pertumbuhan laba sektor keuangan dan aktivitas ekonomi domestik.

Meskipun pertumbuhan M2 melambat menjadi 8,3% YoY dari 8,7%, ekspansi kredit yang tetap kuat menunjukkan intermediasi perbankan masih terjaga. Dari eksternal, defisit transaksi berjalan pada 2Q26 melebar menjadi 3,3% PDB, namun defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menyempit signifikan menjadi USD0,9 miliar dari USD9,1 miliar pada 1Q26, sehingga tekanan eksternal relatif lebih terkendali.

“Dengan IHSG ditutup di 6.525,69 dan bertahan di atas level 6.500, kombinasi fundamental domestik dan kondisi teknikal masih memberikan ruang bagi penguatan lanjutan, meski stabilitas Rupiah dan arah arus dana asing tetap perlu dicermati,” tegasnya.

Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham

Brigita menjelaskan, secara teknikal momentum bullish masih terjaga dengan IHSG yang berada di atas MA5 hingga MA100 setelah secara time frame weekly berhasil menguat 1,93% dan ditutup di atas MA20. Namun, setelah reli yang cukup kuat, ruang kenaikan jangka pendek mulai terbatas sehingga potensi profit taking perlu diantisipasi.

BACA JUGA:   Saham MINA tak Diperdagangkan

“Kami melihat IHSG berpeluang mengalami konsolidasi atau koreksi sehat terlebih dahulu dengan area 6.429–6.475 sebagai area support penting. Selama mampu bertahan di atas area tersebut, tren penguatan masih berpeluang berlanjut dengan target berikutnya di area 6.628–6.666, sekaligus menguji area gap.”

Ia menambahkan dari sisi fundamental, pertumbuhan kredit yang tetap solid turut memberikan katalis positif bagi pasar domestik dan menjaga ruang penguatan IHSG. Di sisi lain, pergerakan Rupiah, sentimen eksternal, serta potensi aktivitas perdagangan yang lebih terbatas pada awal pekan dapat menjadi faktor yang menahan laju penguatan.

Dari sisi fundamental, pertumbuhan kredit yang menguat menjadi 13,0% YoY pada Juli 2026 turut memberikan dukungan terhadap sentimen pasar domestik.

Merespons dinamika market ini, Brigita merekomendasikan saham dan reksa dana syariah berikut ini:

  1. Buy EXCL (Entry: 2.840, Target Price (TP): 3.150, Stop Loss (SL): 2.690). Secara teknikal, pergerakan EXCL menunjukkan potensi penguatan setelah terbentuknya candlestick Doji, yang didukung oleh skor ADX di atas 20 sebagai konfirmasi tren yang kuat. Dominasi +DI terhadap -DI memperjelas bahwa kekuatan pembeli (bullish) sedang mengungguli tekanan jual, sehingga saham ini berpotensi melanjutkan kenaikan.
  2. Buy DSNG (Entry: 1.440, Target Price (TP): 1.610, Stop Loss (SL): 1.380). Secara teknikal, pergerakan DSNG menunjukkan struktur yang solid setelah berhasil bergerak di atas EMA5 hingga EMA50, yang mengindikasikan tren penguatan kuat. Konfirmasi ini diperkuat oleh trade flow yang mencatat adanya akumulasi dari smart money, sehingga saham ini berpotensi melanjutkan kenaikannya.
  3. Buy on Pullback BBNI (Entry: 3.640-3.700, Target Price (TP): 4.000, Stop Loss (SL): 3.500). Secara teknikal, pergerakan BBNI mengonfirmasi pola bullish continuation setelah berhasil breakout dari pola ascending triangle, yang diperkuat oleh lonjakan volume transaksi (spike volume) serta sinyal golden cross pada indikator MACD. Kondisi ini membuka peluang strategi buy on pullback untuk memanfaatkan penguatan lebih lanjut.
  4. Buy Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD). Power Fund Series berkode XGLD ini menawarkan alternatif investasi yang efisien bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa, tanpa perlu membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung. Dengan karakteristik yang sesuai prinsip syariah, XGLD dapat menjadi pilihan diversifikasi portofolio sekaligus sarana untuk memanfaatkan potensi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan volatilitas pasar. Investor juga dapat melakukan transaksi unit penyertaan XGLD melalui aplikasi IPOT layaknya ETF pada umumnya, sehingga memberikan fleksibilitas dan kemudahan dalam mengakses aset emas.
Tags: ipotrekomendasi saham mingguan
Previous Post

Hutama Karya Raih Dua Platinum Award IHCA 2026, Tegaskan Transformasi Human Capital sebagai Penggerak Bisnis

Next Post

Pasar Masih Lanjut Menghijau, Enam Saham Ini Jadi Pilihan: BREN, PTRO, PADI, MDIA, KOTA, dan BRMS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR