Jakarta, TopBusiness — PT Nindya Karya (Persero) terus memperkuat tata kelola perusahaan melalui penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) yang terintegrasi dengan agenda keberlanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya perusahaan menuju pertumbuhan berkelanjutan, sekaligus mendukung visi Nindya Karya untuk menjadi perusahaan global di bidang konstruksi dan investasi berbasis engineering yang terpercaya, terkemuka, dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan SVP Manajemen Risiko, Sistem dan ESG PT Nindya Karya Taufik Hidayat dalam Penjurian TOP GRC Awards 2026 secara daring di Jakarta (24/8/2026). Hadir pula dalam penjurian, VP Sistem Korporasi & ESG Ameliasary Safina Padmariny serta Staf ESG Muhammad Arraf Rezkia.
Menurut Taufik Hidayat kembali, arah tersebut diperkuat melalui misi meningkatkan nilai tambah bagi stakeholders secara berkelanjutan berbasis excellence engineering dengan inovasi serta human capital yang unggul dan berakhlak, sekaligus mengembangkan industri konstruksi dan investasi berstandar global dan berdaya saing tinggi dengan mengutamakan kepuasan pelanggan, kesehatan dan keselamatan kerja, serta kelestarian lingkungan.
Tempatkan GRC Jadi Arsitektur Pendukung Sustainable Growth
Dalam menjalankan bisnisnya, Nindya Karya menempatkan GRC sebagai arsitektur yang mendukung sustainable growth. Arsitektur tersebut mencakup GCG & Ethics, Risk Management, Compliance, ESG, serta Digital Enablement.
“Pendekatan tersebut dilakukan agar tata kelola, pengelolaan risiko, kepatuhan, keberlanjutan, dan pemanfaatan teknologi ditempatkan sebagai bagian yang saling terhubung dalam pencapaian tujuan perusahaan”, kata Taufik Hidayat.
Di dalam struktur tata kelola perusahaan, Dewan Komisaris dan Direksi menjalankan peran dalam memberikan arah strategis, pengawasan, dan komitmen. Fungsi GRC melibatkan Corporate Secretary, MRSE, SPI, dan QHSE, sementara risk owners berada pada unit kerja, unit bisnis, hingga proyek. Keseluruhan mekanisme tersebut diperkuat dengan tone at the top serta pendekatan Three Lines of Defense.
Jalankan Pengelolaan Risiko dan Kepatuhan Secara Sistematis
Pengelolaan risiko di Nindya Karya dijalankan secara sistematis mulai dari penetapan risk strategy, risk appetite, key risk indicator (KRI), dan risk limit. Proses pengelolaan risiko berlangsung sebelum, selama, dan setelah kegiatan berjalan. Pada tahap awal dilakukan identifikasi, analisis dan evaluasi, serta mitigasi. Selanjutnya dilakukan monitoring dan pelaporan, kemudian ditutup dengan lessons learned. Pola ini memperlihatkan bahwa manajemen risiko tidak berhenti pada upaya mengenali potensi risiko, tetapi menjadi siklus berkelanjutan untuk memastikan risiko dapat dikelola dan menjadi pembelajaran bagi perusahaan.
Di sisi kepatuhan, integritas, dan anti-penyuapan, Nindya Karya menerapkan pendekatan Prevent, Detect, Respond, dan Improve. Pada tahap prevent, perusahaan menjalankan risk assessment, pengendalian internal, monitoring, dan whistleblowing system. Ketika terdapat indikasi yang perlu ditindaklanjuti, mekanisme detect dilakukan melalui investigasi, eskalasi manajemen, serta mekanisme sanksi. Tahap improve diperkuat melalui audit internal, management review, dan capacity building. Kerangka tersebut dilandasi kewajiban kepatuhan, Code of Conduct, dan kebijakan perusahaan.
Terapkan GRC dan ESG Secara Beriringan
Nindya Karya dalam menerapkan GRC, juga beriringan dengan penerapan ESG. Hal ini karena tone at the top dari Direksi dan Dewan Komisaris, juga menjadi bagian dari ESG Governance. Khusus dalam implementasi ESG, perusahaan mendasarkan pada IWA 48:2024.
Adapun pelaksanaannya mencakup tahapan planning melalui sasaran dan program, execution pada unit kerja, unit bisnis, dan proyek, kemudian evaluation melalui monitoring dan assurance, serta reporting melalui Sustainability Report. Kerangka ESG tersebut juga diintegrasikan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Gunakan Standar Internasional
Untuk menopang pelaksanaan ESG dan GRC, Nindya Karya dicatat menggunakan sejumlah standar internasional. Di antaranya ISO 14001:2015 untuk Environmental Management System dan ISO 45001:2018 untuk Occupational Health & Safety Management System.
Selain itu, ISO 31000:2018, ISO 37001:2016, ISO 37301:2021, dan ISO 27001:2013 sebagai bagian dari standar internasional yang mendukung ESG dan GRC perusahaan.
“Kehadiran berbagai standar tersebut memperlihatkan upaya Nindya Karya membangun sistem pengelolaan perusahaan yang selaras dengan praktik dan kerangka standar internasional,” kata Taufik Hidayat.
Perkuat GRC dan ESG dengan Digitalisasi
Untuk memperkuat pelaksanaan GRC dan ESG, Nindya Karya membangun digitalisasi perusahaan. Digital enablement perusahaan bahkan ditempatkan secara eksplisit bersama GCG & Ethics, Risk Management, Compliance, dan ESG dalam arsitektur GRC. Posisi digitalisasi tersebut penting karena GRC diterapkan pada lingkup yang melibatkan unit kerja, unit bisnis, dan proyek.
Dengan demikian, penguatan tata kelola, pengelolaan risiko, kepatuhan, dan ESG tidak hanya mengandalkan kebijakan dan proses manual, tetapi juga diarahkan untuk didukung oleh kemampuan digital perusahaan.
“Dengan kerangka tersebut, Nindya Karya berupaya menjaga agar pertumbuhan perusahaan tetap berjalan seiring dengan peningkatan nilai tambah bagi stakeholders, inovasi, keunggulan engineering, keselamatan kerja, dan kelestarian lingkungan,” pungkas Taufik Hidayat.*
