Jakarta, TopBusiness – PT BPR Bank Daerah Bangli (Perseroda) terus memperkuat penerapan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) untuk memastikan pertumbuhan bisnis berjalan sehat sekaligus berkelanjutan. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT BPR Bank Daerah Bangli (Perseroda), Ir. I Made Astawa, dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 bersama Majalah TopBusiness, Rabu, 26 Agustus 2026.
Bagi Bank Daerah Bangli, GRC bukan sekadar urusan kepatuhan terhadap aturan. Tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan ditempatkan sebagai bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari, mulai dari pengelolaan kredit, pelayanan nasabah, digitalisasi, hingga pengawasan internal.
Astawa menjelaskan, penerapan GRC menjadi salah satu cara bank menjaga bisnis tetap berada di jalur yang sehat. “Penerapan GRC adalah mesin utama yang menggerakkan bisnis berkelanjutan. GRC adalah sistem kerja dan pelindungnya, sedangkan bisnis berkelanjutan adalah hasil akhir yang ingin dicapai,” ujar Astawa.
Penguatan GRC juga terlihat dari penerapan tiga lini pertahanan. Lini pertama berada pada unit bisnis dan operasional sebagai pemilik risiko. Lini kedua menjalankan fungsi kepatuhan dan manajemen risiko, sedangkan lini ketiga dilakukan Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) melalui pemeriksaan dan pemberian assurance secara independen.
Pola tersebut membuat pengelolaan risiko tidak hanya dilakukan ketika muncul masalah. Risiko dipetakan sejak awal dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Dalam aktivitas kredit, misalnya, bank memperkuat analisis, monitoring, early warning system, hingga penyelesaian kredit bermasalah.
Strategi bisnis Bank Daerah Bangli juga diarahkan pada pertumbuhan kredit yang berkualitas, penguatan dana pihak ketiga, digitalisasi proses bisnis, peningkatan pendapatan nonbunga, efisiensi, serta pengembangan UMKM dan ekonomi lokal.
Dari sisi kinerja, langkah tersebut berjalan seiring dengan perbaikan hasil usaha. Pada 2025, aset bank tercatat Rp376,47 miliar, kredit yang diberikan Rp176,51 miliar, pendapatan operasional Rp37,39 miliar, dan laba tahun berjalan mencapai Rp5,96 miliar. Laba tersebut meningkat 21,89 persen dibandingkan 2024.
“Peningkatan kinerja tersebut merupakan hasil dari pengelolaan bisnis yang mengedepankan prinsip Governance, Risk Management dan Compliance, melalui pengendalian operasional, monitoring kualitas transaksi, pengelolaan biaya, serta penguatan proses dan pengawasan internal,” kata Astawa.
Bank juga terus mengembangkan digitalisasi. Sejumlah platform digunakan untuk mendukung proses kredit, transaksi, validasi, pemantauan NPL, hingga pengelolaan kendala teknologi informasi. Pemanfaatan AI mulai diarahkan untuk riset regulasi, penyusunan SOP, dan gap analysis terhadap ketentuan terbaru.
Di sisi keberlanjutan, Bank Daerah Bangli menjalankan pengelolaan sampah secara mandiri, bekerja sama dengan bank sampah, serta mengalokasikan dana CSR hingga 3 persen dari keuntungan bersih tahunan. Keamanan siber dan akses keuangan masyarakat lokal juga menjadi perhatian penting.
Menurut Astawa, penguatan GRC pada akhirnya harus menjadi budaya bersama. “Budaya risiko adalah cara berpikir dan perilaku semua karyawan untuk sadar risiko. Setiap aktivitas bank dan produk dilakukan dengan kajian dari Manajemen Risiko dan Kepatuhan,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Bank Daerah Bangli terus mendorong GRC agar semakin menyatu dengan proses bisnis. Tujuannya bukan hanya memenuhi ketentuan, tetapi membuat bank lebih siap menghadapi perubahan, menjaga kepercayaan nasabah, meningkatkan efisiensi, dan membangun bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
