Jakarta, TopBusiness – Penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) menjadi fondasi penting bagi PT BPR Sukawati Pancakanti atau Bank BPR Kanti dalam menjaga keberlanjutan usaha, memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, serta mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Direktur Utama Made Arya Amitaba, SE., MM., mengatakan bahwa GRC tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kewajiban perusahaan dalam memenuhi berbagai ketentuan dan regulasi. Lebih dari itu, penerapan GRC harus menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi dinamika bisnis yang semakin kompleks.
“GRC bukan sekadar kewajiban, melainkan fondasi untuk menjaga keberlanjutan, kepercayaan, dan pertumbuhan perusahaan,” kata Made kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2026 secara daring dari Jakarta, Rabu (26/08/2026).
Menurut dia, aspek governance, risk, dan compliance harus berjalan secara terintegrasi. Tata kelola yang baik akan membantu perusahaan menjaga kepercayaan dan reputasi melalui penerapan budaya kerja yang sehat, integritas, serta transparansi dalam setiap proses bisnis.
“Kepercayaan merupakan salah satu aset penting bagi perusahaan. Karena itu, penerapan tata kelola yang baik harus mampu menciptakan integritas dan memperkuat kepercayaan dari investor, regulator, maupun masyarakat,” ujarnya.
Selain menjaga reputasi, penerapan GRC juga penting untuk memastikan perusahaan menjalankan seluruh kegiatan bisnis sesuai dengan peraturan, kebijakan internal, dan standar yang berlaku.
“Kepatuhan membantu perusahaan mengurangi potensi pelanggaran dan sanksi. Dengan proses yang tertata dan sesuai ketentuan, perusahaan dapat menjalankan bisnis secara lebih sehat dan berkelanjutan,” tutur Made.
Pada aspek pengelolaan risiko, perusahaan perlu melakukan identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian secara proaktif. Risiko yang dihadapi perusahaan dapat berasal dari berbagai sektor, mulai dari risiko strategis, operasional, hukum, teknologi, hingga reputasi.
“Risiko tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi harus dikelola dengan baik. Melalui pengelolaan risiko yang proaktif, berbagai potensi risiko dapat diidentifikasi lebih dini sehingga perusahaan memiliki langkah mitigasi yang tepat,” jelasnya.
Made menambahkan, penerapan GRC yang terintegrasi juga dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Setiap keputusan bisnis dapat dilakukan dengan pertimbangan yang lebih terukur, bertanggung jawab, dan selaras dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
“GRC membantu manajemen untuk mengambil keputusan yang lebih baik karena setiap kebijakan dan langkah strategis dapat mempertimbangkan berbagai risiko, aspek kepatuhan, serta tujuan keberlanjutan perusahaan,” katanya.
Lebih lanjut, penerapan GRC juga berperan dalam mendorong efisiensi dan memperkuat ketahanan usaha. Proses bisnis yang lebih tertata memungkinkan perusahaan merespons perubahan dengan lebih cepat dan meningkatkan kesiapan dalam menghadapi krisis maupun disrupsi.
“Perusahaan yang memiliki tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang kuat akan memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis,” ujar Made.
Menurut dia, manfaat penerapan GRC pada akhirnya juga berkaitan dengan pertumbuhan perusahaan. Pertumbuhan yang diharapkan bukan hanya berorientasi pada pencapaian jangka pendek, tetapi juga pada penciptaan nilai yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan perusahaan harus dibangun secara sehat dan berkelanjutan. GRC menjadi salah satu fondasi agar perusahaan dapat terus berkembang dengan tetap memperhatikan risiko, kepatuhan, dan kepentingan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Made Arya Amitaba.
Dengan demikian, penerapan Governance, Risk, and Compliance diharapkan dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi perusahaan untuk menciptakan nilai jangka panjang. Melalui tata kelola yang baik, pengelolaan risiko yang efektif, dan kepatuhan yang kuat, perusahaan dapat menjaga keberlanjutan, meningkatkan kepercayaan, serta mendorong pertumbuhan yang berkesinambungan.
Integrated GRC menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan perusahaan mampu menerjemahkan strategi menjadi kinerja yang berkelanjutan. Filosofi ini dirangkum dalam sebuah pendekatan, “Integrated GRC: from Strategy to Sustainable Performance.”
Menurut Made, strategi, manajemen risiko, kepatuhan, audit, serta aspek keberlanjutan hingga kinerja tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Seluruh elemen tersebut harus terintegrasi dalam satu siklus yang saling memperkuat.
“Strategi menentukan arah. Risiko menjaga kewaspadaan, kepatuhan menjaga koridor, audit memberikan assurance, sementara aspek ESG memastikan keberlanjutan. Seluruhnya harus bergerak bersama untuk membuktikan hasil dan mencapai sasaran strategis perusahaan,” ujar Made.
Pendekatan Integrated GRC menghubungkan enam elemen utama dalam sebuah siklus keberlanjutan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi dan feedback. Seluruh proses tersebut pada akhirnya bermuara pada pencapaian sasaran strategis perusahaan tahun 2026.
Sasaran tersebut meliputi pertumbuhan kredit yang berkualitas dan sehat, penguatan likuiditas dan permodalan, transformasi digital dan inovasi layanan, peningkatan efisiensi perusahaan dan produktivitas, penguatan tata kelola serta manajemen risiko, hingga pemberdayaan sumber daya manusia dan penguatan budaya kerja yang berkelanjutan.
“Yang terpenting adalah memastikan seluruh proses tersebut memiliki arah yang sama. GRC bukan sekadar fungsi pengendalian, tetapi menjadi bagian dari proses penciptaan nilai dan pencapaian strategi perusahaan,” kata Made.
Penerapan GRC juga didukung oleh struktur tata kelola yang melibatkan fungsi pengawasan dan pengambilan keputusan, termasuk peran Dewan Komisaris dan Direksi.
Filosofi Manajemen Risiko: Kenali, Ukur, Pantau, dan Bertindak
Dalam pengelolaan risiko, perusahaan mengusung filosofi “Know the Risk, Set the appetite, Monitor the KRI, Stress the Scenario, Take Action.”
Filosofi tersebut menekankan pentingnya mengenali risiko sejak awal, menetapkan pengendalian yang efektif, memantau Key Risk Indicator (KRI), menguji berbagai skenario tekanan, serta mengambil tindakan yang tepat secara cepat dan terukur.
Sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan, perusahaan menetapkan sejumlah parameter, termasuk risk appetite, risk tolerance, dan risk limit. Parameter tersebut menjadi acuan bagi Direksi dan Dewan Komisaris dalam memastikan setiap keputusan tetap berada dalam tingkat risiko yang dapat diterima perusahaan.
“Risk appetite, risk tolerance, dan risk limit membantu kami menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Pertumbuhan tetap penting, tetapi harus dilakukan secara sehat dan berkelanjutan,” jelas Made.
Berdasarkan risk profile yang dipaparkan, tingkat risiko komposit perusahaan berada pada level 2, dengan perhatian utama pada pengendalian risiko kredit dan kepatuhan. Pendekatan yang diterapkan pun diarahkan secara lebih konservatif untuk menjaga ketahanan perusahaan.
Untuk memastikan kondisi perusahaan tetap sehat, sejumlah indikator risiko dipantau secara berkala. Indikator tersebut antara lain Non-Performing Loan (NPL) gross, konsentrasi kredit, Loan to Deposit Ratio (LDR), rasio kecukupan likuiditas, BOPO, Return on Assets (ROA), serta Capital Adequacy Ratio (CAR).
Pemantauan tersebut memungkinkan manajemen untuk mendeteksi perubahan kondisi sejak dini dan mengambil langkah mitigasi sebelum risiko berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar.
“Early warning menjadi sangat penting. Kami tidak hanya melihat posisi risiko saat ini, tetapi juga berupaya memahami potensi risiko yang dapat muncul ke depan,” ujar Made.
Selain pemantauan indikator, perusahaan juga melakukan analisis skenario atau stress testing untuk mengukur ketahanan terhadap berbagai kondisi yang tidak diharapkan.
Pengujian dilakukan terhadap empat area utama, yaitu:
- Credit Quality Stress, untuk mengukur dampak penurunan kualitas kredit.
- Liquidity Stress, untuk menguji ketahanan likuiditas dalam kondisi tekanan.
- Sector Concentration Stress, untuk mengantisipasi risiko akibat konsentrasi pada sektor tertentu.
- Operational and Digital Disruption, untuk mengukur kesiapan menghadapi gangguan operasional dan risiko disrupsi digital.
Menurut Made, stress testing merupakan bagian penting dalam membangun organisasi yang tangguh.
“Kami ingin memastikan bahwa perusahaan tidak hanya siap menghadapi kondisi normal. Melalui berbagai skenario tekanan, kami dapat mengidentifikasi titik kerentanan, menyiapkan langkah mitigasi, dan memastikan kemampuan perusahaan untuk tetap bertahan serta tumbuh,” tuturnya.
Ke depan, Integrated GRC diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengawasan dan pengendalian, tetapi menjadi bagian yang melekat dalam setiap proses bisnis dan pengambilan keputusan.
Dengan mengintegrasikan strategi, risiko, kepatuhan, audit, tata kelola, dan keberlanjutan, perusahaan berupaya membangun fondasi pertumbuhan yang lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan.
“Pada akhirnya, seluruh elemen GRC harus bermuara pada satu tujuan, yaitu mendukung pencapaian sasaran strategis dan menciptakan kinerja yang berkelanjutan. Karena itu, Integrated GRC bukan hanya tentang menghindari risiko, tetapi tentang bagaimana mengelola risiko secara tepat untuk menciptakan nilai bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Made.
