Jakarta, TopBusiness – Di tengah dinamika industri perjalanan dan gaya hidup yang bergerak cepat, penerapan GRC menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis PT Global Tiket Network (tiket.com).
Bagi perusahaan, GRC tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengawasan, tetapi juga menjadi fondasi agar inovasi dan pertumbuhan dapat berjalan secara adaptif tanpa mengabaikan aspek kepatuhan dan tata kelola.
Hal tersebut disampaikan Sekto Arief, Assistant Manager GRC PT Global Tiket Network (tiket.com), dalam presentasinya di hadapan dewan juri TOP GRC Awards 2026 yang pada sesi ini mengangkat tema “Sustainability by Design: A Journey Through Adaptive GRC”. Menurutnya, karakter industri dan lingkungan bisnis yang terus berubah menuntut perusahaan untuk mampu menyesuaikan diri, termasuk dalam aspek operasional maupun regulasi.
“Kalau tadi intelijensi kita adaptif, karena kita sebagai perusahaan, terutama anak perusahaan dari PT Global Digital Niaga, atau BliBli, itu kita menghadapi berbagai macam dinamika yang memang secara operasional itu akan berubah, kemudian regulasi juga mungkin terus di-update, sampai hingga akhirnya kita terus mengikuti perubahan-perubahan itu dengan menyesuaikan diri,” ujar Sekto, Rabu (26/8/2026) yang pada sesi penjurian ini ditemani oleh Yosie Rifayani, Senior Manager GRC dan Yosua Sugianto, Manager Infosec GRC di perusahaan yang sama.
Menurutnya, tantangan utama bukan sekadar mengikuti perubahan, melainkan memastikan perusahaan tetap produktif dan mampu berkembang tanpa mengesampingkan tata kelola serta ketentuan yang berlaku.
“Bagaimana caranya supaya perusahaan tetap berjalan, perusahaan tetap bisa produktif, namun dengan kondisi yang cukup dinamis ini, tidak mengenyampingkan tata kelola dan peraturan yang ada,” katanya.
Menjaga Pertumbuhan Tetap Etis dan Patuh
Sebagai platform perjalanan dan gaya hidup, tiket.com memiliki visi menjadi platform travel dan gaya hidup terdepan yang paling dicintai serta dipercaya masyarakat Indonesia. Sementara misinya adalah mengakomodasi akses online travel booking melalui web dan aplikasi mobile.
Dalam menjalankan visi tersebut, perusahaan juga membangun nilai-nilai budaya kerja yang terangkum dalam akronim HAPPY, yakni Hungry, Agile, Performance, People, dan Yourself-centric. Nilai-nilai tersebut menjadi relevan dengan pendekatan adaptive GRC yang dikembangkan tiket.com. GRC ditempatkan bukan semata sebagai fungsi kontrol, melainkan bagian dari proses bisnis yang membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih terukur.
Sekto menjelaskan, setidaknya terdapat tiga nilai utama yang membuat GRC penting bagi tiket.com, yakni Principled Performance, Sustainable Resilience, dan Stakeholder Trust. Melalui Principled Performance, perusahaan memastikan pertumbuhan bisnis dan pencapaian target OKR maupun KPI tetap dilakukan secara etis dan sesuai ketentuan. Termasuk di dalamnya kepatuhan terhadap Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
“Target-target kita itu harus dicapai, harus melalui proses, misalnya apakah ini melanggar, atau ini sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk di antaranya sekarang, adalah terkait dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi,” ujar Sekto.
Sementara Sustainable Resilience diarahkan untuk memperkuat daya tahan perusahaan menghadapi gejolak industri travel, serangan siber, fraud transaksi, hingga ketidakpastian ekonomi makro.
Dinamika tersebut dapat memengaruhi industri perjalanan secara langsung. Perubahan kondisi ekonomi dan harga dolar, misalnya, dapat berdampak pada biaya perjalanan dan pada akhirnya memengaruhi konsumen.
“Gejolak industri travel yang sekarang mulai berkembang, terus masuk juga beberapa entity-entity di dunia travel ini yang mungkin datangnya enggak cuma dari regional, atau mungkin bukan cuma dari Indonesia secara nasional, tapi juga ada datang yang sifatnya dari competitor-kompetitor dari luar. Kemudian bagaimana kita bisa berkompetisi dan bisa berkolaborasi,” tuturnya.
Adapun Stakeholder Trust diarahkan untuk mempertahankan kepercayaan jutaan konsumen, ribuan mitra maskapai dan hotel, serta regulator. Kepercayaan tersebut juga dibangun melalui transparansi dan kesiapan perusahaan dalam menjalani proses due diligence dari mitra eksternal, termasuk dengan menunjukkan implementasi serta sertifikasi yang dimiliki.
Penerapan GRC
Untuk memastikan fungsi GRC berjalan efektif, tiket.com menerapkan struktur governance dengan pendekatan Three Lines Model. Pada tingkat pertama terdapat Direksi sebagai organ utama yang menentukan strategi makro perusahaan sekaligus menetapkan risk appetite dan keputusan strategis tertinggi. Selanjutnya, line pertama diisi Business & Tech yang menjalankan operasional utama, menerapkan kontrol harian, melakukan mitigasi risiko produk, serta menjaga keamanan sistem secara langsung.
Pada line kedua terdapat Risk, Data Protection Officer (DPO), dan Compliance. Fungsi ini berperan sebagai pengawas sekaligus penyusun kerangka kerja, pemantauan Key Risk Indicator (KRI), pengawalan kepatuhan data pribadi, serta pengujian kepatuhan, termasuk ketika perusahaan menjalani assessment dari pihak eksternal.
Sementara line ketiga adalah Internal Audit yang memberikan assurance secara independen terhadap efektivitas pengendalian internal pada lini pertama dan kedua.
Selain itu, tiket.com juga memiliki special task force yang bersifat lintas fungsi dan dibentuk untuk merespons insiden kritis, investigasi khusus, maupun proyek lintas divisi. Beberapa area yang menjadi perhatian antara lain cyber incident, AI dan data privacy, serta ESG.
Penerapan GRC di tiket.com juga diarahkan pada integrasi antara strategi, risiko, kepatuhan, dan kinerja. Salah satunya melalui Strategy & Risk Alignment, dengan penetapan Risk Appetite Statement yang terhubung langsung dengan penyusunan peta strategi produk dan anggaran operasional perusahaan.
Perusahaan juga menerapkan Unified Risk & Control Matrix, yakni matriks risiko tunggal yang menghubungkan pengujian kontrol internal, pemantauan audit, dan kepatuhan regulasi secara simultan.
Selain itu, terdapat ESG & Performance Linkage, di mana metrik keberlanjutan dijadikan sebagai indikator kinerja utama di tingkat manajerial.
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam penetapan risk appetite. Keamanan siber dan privasi data ditempatkan sebagai risiko kritis dengan zero tolerance terhadap kebocoran data pribadi atau material breach.
Keandalan sistem melalui Business Continuity Management System (BCMS) juga menjadi perhatian utama. Tiket.com menetapkannya sebagai risiko tinggi dengan low tolerance serta menetapkan Service Level Agreement (SLA) berupa ketersediaan sistem hingga 99,99 persen, termasuk ketika memasuki periode peak season.
“Sebagai PSA, kalau sistem kita terkendala tentunya, ibaratnya warung tutup ya, jadi kita tidak bisa produksi,” kata Sekto.
Untuk kepatuhan regulasi, terutama UU PDP, perusahaan menetapkannya sebagai risiko kritis dengan target 100 persen kepatuhan dan zero sanksi hukum. Sementara inovasi produk dan fitur baru ditempatkan pada tingkat moderate, dengan ruang eksperimentasi selama melewati GRC Clearance.
Mendukung Inovasi
Transformasi GRC tiket.com juga didukung pemanfaatan teknologi digital, analytics, dan AI. Salah satu instrumennya adalah Centralized GRC Dashboard yang menyediakan visibilitas terpusat untuk memantau profil risiko korporat, KRI, serta status penyelesaian temuan audit.
Perusahaan juga mengembangkan Automated AI Gatekeeping untuk mendigitalisasi pengujian risiko terpadu atau Joint Risk Assessment serta Data Protection Impact Assessment (DPIA). Mekanisme tersebut dilakukan untuk mengevaluasi keamanan siber dan kepatuhan terhadap UU PDP sebelum suatu fitur dirilis.
Sementara Resilience Engine digunakan untuk memantau indikator resiliensi kelangsungan bisnis dan memetakan dinamika regulasi guna mendeteksi potensi penyimpangan kepatuhan secara lebih dini.
Transformasi ini sejalan dengan visi manajemen risiko tiket.com yang bergeser dari pendekatan reaktif menuju Proactive Risk Control. Dengan pendekatan tersebut, potensi gangguan diupayakan dapat terdeteksi secara real-time dan sejak dini.
Di sisi lain, perusahaan juga memperkuat etika dan mekanisme Whistleblowing System (WBS). Kanal WBS independen disiapkan untuk menjamin kerahasiaan pelapor fraud atau kecurangan, dengan laporan yang dapat diterima secara anonim dan rahasia, kemudian ditindaklanjuti melalui investigasi independen serta perlindungan terhadap pelapor.
GRC sebagai Enabler Inovasi AI
Salah satu tantangan baru yang menjadi perhatian tiket.com adalah pemanfaatan artificial intelligence (AI). Pengembangan fitur dan tools AI membutuhkan pemrosesan big data berupa riwayat transaksi serta profil pengguna dalam skala besar. Kondisi ini membuat aspek keamanan data dan privasi harus menjadi bagian dari desain inovasi sejak awal.
Tiket.com meresponsnya melalui tata kelola lintas fungsi dengan mengintegrasikan GRC, Information Security (InfoSec), dan Developer. Perusahaan juga menerapkan Joint Assessment sebagai security and compliance gatekeeping sebelum inovasi diluncurkan.
Pendekatan tersebut memungkinkan ekspansi AI di platform tiket.com dilakukan dengan prinsip secure-by-design. Dengan demikian, GRC tidak ditempatkan sebagai penghambat inovasi, tetapi menjadi mekanisme yang memastikan inovasi berkembang dalam koridor yang aman dan sesuai ketentuan.
“GRC menjadi enabler yang mendukung inovasi bisnis, sekaligus lapis pertahanan profitabilitas melalui harmonisasi risiko & agility,” ujar Sekto.
Pendekatan tersebut menghasilkan apa yang disebut perusahaan sebagai controlled agility, yakni kemampuan bergerak cepat dalam berinovasi dengan tetap mempertahankan kontrol terhadap risiko dan perlindungan data pribadi konsumen.
Dampak Penerapan GRC
Implementasi GRC memberikan sejumlah dampak terhadap kinerja dan penciptaan nilai bagi tiket.com. Dalam aspek keandalan operasional dan resiliensi, kelancaran platform dijaga secara konsisten, termasuk ketika terjadi lonjakan transaksi pada periode peak season. Kondisi tersebut membantu mempertahankan kepercayaan pengguna sekaligus mengamankan potensi pendapatan tanpa gangguan teknis.
Pada sisi inovasi, penerapan privacy governance memungkinkan peluncuran fitur digital dan tools AI dilakukan dengan asesmen risiko terpadu serta kepatuhan terhadap UU PDP. Dengan demikian, perusahaan dapat mempercepat inovasi tanpa mengorbankan privasi data pribadi konsumen.
Di bidang kepatuhan, pemantauan regulasi secara proaktif serta penerapan transparansi antarmuka transaksi membantu meminimalkan risiko sanksi hukum sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai platform digital yang tepercaya.
Sementara dalam pengendalian internal, integrasi alur persetujuan antara GRC, InfoSec, dan Developer membantu mengurangi duplikasi pengujian, memangkas birokrasi, dan meningkatkan efektivitas pengawasan.
Perjalanan tersebut juga tercermin dalam roadmap maturitas GRC tiket.com. Pada 2023, perusahaan berfokus membangun fundamental GRC. Tahap berikutnya pada 2024 diarahkan pada integrasi. Memasuki 2026, fokus berkembang menuju Responsible AI, termasuk tata kelola penggunaan AI yang aman dan etis, kepatuhan PDP, otomatisasi, serta integrasi ESG.
Selanjutnya pada 2027, perusahaan menargetkan tahap Ecosystem, dengan tujuan menjadi rujukan penerapan GRC dan resiliensi terpadu antar-entitas dalam grup ekosistem. Kemudian pada 2028, arah pengembangannya menuju Value Multiplier, dengan GRC diposisikan sebagai strategic business partner yang mendukung data-driven governance dan sustainable value creation.
Sejumlah capaian pun telah dibangun, antara lain penguatan risk ownership melalui integrasi risiko ESG ke dalam risk taxonomy, penerapan compliance-gated sprint release pada rilis aplikasi, digitalisasi penuh siklus kebijakan, serta dynamic regulatory radar untuk pemantauan regulasi dan adaptasi SOP.
Dengan pendekatan tersebut, tiket.com menempatkan keberlanjutan bukan hanya sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai bagian dari cara perusahaan mendesain proses bisnis dan inovasinya. Adaptive GRC menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan pertumbuhan, kebutuhan inovasi, ketahanan operasional, perlindungan data, dan kepatuhan.
Pada akhirnya, penerapan GRC di tiket.com diarahkan untuk memastikan perusahaan tetap agile menghadapi perubahan, namun memiliki fondasi tata kelola yang kuat. Inilah yang menjadi esensi dari “Sustainability by Design”—menjadikan keberlanjutan dan pengelolaan risiko sebagai bagian dari desain bisnis sejak awal, bukan sekadar respons setelah risiko terjadi.
