TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Indodana Terapkan Intelligent GRC, Bisnis Tumbuh Kencang dengan Risiko Terukur

Abi Abdul Jabbar Sidik
27 August 2026 | 16:37
rubrik: Business Info, Event, GCG
Indodana Terapkan Intelligent GRC, Bisnis Tumbuh Kencang dengan Risiko Terukur

Jakarta, TopBusiness – PT Indodana Multi Finance memperkuat implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai salah satu fondasi dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkualitas di tengah pesatnya perkembangan industri pembiayaan berbasis digital.

Strategi tersebut tercermin dari pertumbuhan aset perusahaan yang hampir mencapai 100%, dari sekitar Rp 1,4 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,8 triliun pada 2025. Di saat bersamaan, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan Non-Performing Financing (NPF) net sebesar 0,62% pada 2025, dibandingkan 0,82% pada tahun sebelumnya.

Direktur PT Indodana Multi Finance Bambang Iwan Dewanto mengatakan, capaian tersebut tidak terlepas dari transformasi cara perusahaan memandang GRC. Indodana tidak lagi menempatkan GRC hanya sebagai instrumen untuk memastikan kepatuhan, tetapi telah mengarah pada pendekatan intelligent GRC yang turut membantu bisnis berkembang dengan risiko yang tetap terukur.

“Kalau kita bicara GRC yang tradisional, GRC lebih banyak bilang apakah bisnis-bisnis sudah comply atau belum. Kalau kita bicara intelligent GRC, itu biasanya bagaimana bisnis ini dapat tumbuh lebih cepat dengan risiko yang terukur dan tetap compliance. Jadi kita sebagai perusahaan pembiayaan, bagaimana kita bisa tumbuh yang sehat dan berkualitas,” ujar Iwan dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Majalah TopBusiness, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut sekaligus menandai pergeseran paradigma dari GRC yang sebelumnya lebih bersifat reaktif menjadi semakin prediktif. Fungsi GRC juga diarahkan dari sekadar berorientasi pada temuan menjadi lebih berbasis insight, sekaligus mendukung kegiatan bisnis agar tumbuh dalam koridor risiko dan kepatuhan yang telah ditentukan perusahaan.

Dari Compliance Menjadi Business Enabler

Transformasi tersebut semakin penting seiring model bisnis Indodana Multi Finance yang memanfaatkan teknologi secara intensif dalam berbagai tahapan proses pembiayaan.

Perusahaan menjalankan pembiayaan multiguna dan produktif berbasis digital dengan teknologi yang digunakan mulai dari proses akuisisi, credit assessment, pencairan, monitoring, hingga collection. Dalam presentasinya, Iwan menyebut keseluruhan proses dirancang secara seamless dan fleksibel, bahkan proses sejak akuisisi hingga transaksi dapat berlangsung dalam waktu di bawah dua menit.

Kondisi tersebut membuat keseimbangan antara kecepatan pertumbuhan, kualitas pembiayaan, kepatuhan, perlindungan konsumen, serta ketahanan operasional menjadi semakin penting.

Karena itu, Indodana mengintegrasikan fungsi GRC sejak proses awal pengembangan produk maupun aktivitas bisnis. Pendekatan ini berbeda dengan pola tradisional yang cenderung menempatkan fungsi pengawasan setelah aktivitas bisnis berjalan.

BACA JUGA:   Buktikan Efektivitas Penerapan GRC, Perusahaan Perlu Pengukuran Maturity GRC

“Jadi tidak hanya memperkuat fungsi compliance, tapi juga mengubah GRC menjadi business enabler yang mampu memberikan risk intelligence secara tepat kepada bisnis. Kalau GRC yang tradisional bilang apakah bisnis sudah compliant atau belum, kalau intelligent GRC paradigmanya adalah bagaimana bisnis bisa tumbuh lebih cepat dengan risiko yang terukur dan tetap compliance dengan seluruh aturan yang berlaku,” jelas Iwan.

Dalam implementasinya, Indodana mengembangkan sejumlah pendekatan seperti intelligence monitoring, regulatory intelligence, pemanfaatan teknologi dalam GRC, serta menempatkan fungsi GRC sebagai mitra bisnis.

Hal itu membuat proses pengelolaan risiko dan kepatuhan tidak hanya menjadi mekanisme kontrol, tetapi turut memberikan pertimbangan sejak tahap perencanaan hingga eksekusi bisnis.

Setiap pengembangan produk juga diarahkan menggunakan prinsip risk-based dan compliance-based design. Dengan demikian, aspek kepatuhan maupun potensi risiko sudah dipertimbangkan sejak proses desain, sebelum produk sampai pada tahap implementasi.

“Kalau kita bicara GRC sebagai strategic partner, GRC itu memang mengikuti dari awal bisnis. Setiap proses itu pasti akan dilihat bagaimana compliance-nya mengikuti, sehingga dipastikan saat kita sampai ke eksekusinya itu sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” katanya.

Aset Melesat, Kualitas Pembiayaan Tetap Terjaga

Implementasi GRC yang terintegrasi berjalan beriringan dengan ekspansi kinerja Indodana Multi Finance.

Selain total aset yang meningkat sekitar 100%, piutang pembiayaan perusahaan juga disebut tumbuh dari sekitar Rp 1,4 triliun menjadi Rp2,6 triliun. Sementara total penyaluran pembiayaan meningkat dari sekitar Rp 3,5 triliun menjadi Rp 6,3 triliun.

Perusahaan juga mencatat pertumbuhan pendapatan usaha serta laba yang kuat. Dalam presentasi tersebut, Iwan menyampaikan pertumbuhan pendapatan usaha mencapai sekitar 122%, sementara pertumbuhan laba setelah pajak mencapai sekitar 382%.

Pertumbuhan bisnis tersebut tetap dibarengi kualitas pembiayaan yang terjaga. NPF net Indodana tercatat sebesar 0,62% pada 2025, turun dari posisi 0,82% pada 2024.

Menurut Iwan, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam melihat efektivitas penerapan GRC. Sebab, ekspansi yang tinggi perlu berjalan berdampingan dengan kualitas aset yang sehat.

BACA JUGA:   Jaga Kepercayaan di Era Digital, Easycash Perkuat GRC Berbasis Teknologi

“Ujung-ujungnya penerapan GRC itu bagaimana, Anda tumbuhnya sehat atau tidak. NPF net kita di 2024 sebesar 0,82%, sementara di 2025 sebesar 0,62%. Kalau kita bicara dengan ketentuan OJK, NPF net itu maksimal 5%, dan kita 0,6%. Berarti memang kita bisa tumbuh sangat sehat, pertumbuhannya hampir 90% dan kualitasnya masih terjaga di 0,6%,” ungkapnya.

Indodana juga mengimplementasikan prinsip four eyes principle dalam proses pengambilan keputusan. Prinsip tersebut menjadi salah satu mekanisme untuk memperkuat kualitas kontrol dengan melibatkan fungsi berbeda dalam proses review maupun approval.

Struktur pengawasan perusahaan turut diperkuat melalui pembagian fungsi yang mengacu pada konsep lini pertahanan. Fungsi bisnis menjadi pemilik risiko, sementara fungsi risk dan compliance menjalankan kontrol serta pemantauan, yang kemudian diperkuat melalui internal audit.

GRC Masuk Level Optimization

Seiring penguatan berbagai aspek tersebut, Indodana Multi Finance menilai tingkat kematangan implementasi GRC perusahaan telah mencapai tahap tertinggi dalam kerangka lima level yang digunakan perusahaan.

Menurut Iwan, perusahaan saat ini berada pada level 5, yakni tahap ketika GRC telah bersifat proaktif, prediktif, menjadi bagian dari continuous improvement, serta berperan sebagai mitra strategis bisnis.

“Kalau kita bicara dari level satu sampai level lima, kita sudah menerapkan di level lima. GRC itu lebih besar proaktif, prediktif, sebagai continuous improvement dan menjadi strategic partner di bisnis kita. Kalau kita bicara dari foundation, strengthening, integration, kita sudah di optimization,” kata Iwan.

Penguatan tersebut juga tercermin pada hasil penilaian tingkat kesehatan perusahaan.

Indodana berada pada peringkat komposit satu atau sangat sehat. Penilaian tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari tata kelola, profil risiko, rentabilitas, hingga permodalan.

Iwan mengatakan hasil tersebut menjadi salah satu keluaran dari penguatan tata kelola dan pengelolaan risiko yang dilakukan perusahaan secara berkelanjutan.

“Ujungnya memang kalau kita bicara indikator perusahaan pembiayaan, tingkat kesehatan perusahaan itu menjadi komposit satu, sangat sehat. Penguatannya ada empat, yaitu tata kelola yang mencakup struktur, proses dan hasil penerapan, kemudian profil risiko, rentabilitas atau kemampuan menghasilkan laba, serta permodalan,” jelasnya.

Digitalisasi Jadi Pengungkit GRC

Implementasi GRC Indodana juga ditopang digitalisasi secara end-to-end dan penguatan data governance.

Pemanfaatan teknologi memungkinkan perusahaan mengintegrasikan proses bisnis, pengelolaan risiko, serta kepatuhan ke dalam satu ekosistem yang lebih cepat dan berbasis data.

BACA JUGA:   BTN Buktikan GRC Jadi Penggerak Pertumbuhan Kinerja dan Bisnis Berkelanjutan

Perusahaan menempatkan penguatan aspek people, process, dan technology sebagai tiga fondasi dalam memastikan implementasi GRC dapat berjalan konsisten di berbagai lini organisasi.

Selain itu, pembentukan budaya GRC dilakukan dengan mendorong ownership pada masing-masing fungsi. Dengan pendekatan tersebut, GRC tidak hanya menjadi tanggung jawab unit risk atau compliance, melainkan menjadi bagian dari cara kerja seluruh organisasi.

Setiap fungsi tetap mempertahankan independensinya, namun berada dalam mekanisme saling mengawasi dan mengoreksi sehingga proses check and recheck dapat berlangsung.

Perluas GRC ke ESG dan Green Financing

Komitmen tata kelola Indodana juga diperluas ke aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).

Pada aspek sosial, perusahaan menjalankan berbagai inisiatif yang terkait dengan inklusi dan literasi keuangan. Indodana juga mendorong konsumen untuk memahami produk keuangan berikut kewajibannya serta menyesuaikan pembiayaan dengan kemampuan pembayaran.

Sementara pada aspek lingkungan, perusahaan menjalankan program daur ulang, penanaman pohon, dan sejumlah kegiatan sosial-lingkungan lainnya.

Indodana turut mendukung pembiayaan hijau melalui pembiayaan kendaraan listrik. Dalam presentasinya, Iwan menyebut perusahaan pernah membiayai sekitar 600 unit motor listrik dalam salah satu program yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengintegrasikan tujuan bisnis dengan prinsip keberlanjutan.

Dengan pendekatan itu, GRC bagi Indodana Multi Finance tidak lagi berdiri sebagai fungsi yang bekerja di belakang proses bisnis. GRC telah bergerak menjadi bagian dari mesin pertumbuhan perusahaan—mulai dari pengembangan produk, keputusan bisnis, pengendalian risiko, kepatuhan hingga penerapan prinsip keberlanjutan.

Kombinasi antara pertumbuhan aset hampir 90%, NPF net yang terjaga di 0,62%, status kesehatan perusahaan pada komposit satu, serta tingkat kematangan GRC yang telah masuk tahap optimization menjadi sejumlah indikator yang ditampilkan Indodana dalam menunjukkan keterkaitan antara penguatan tata kelola dan kinerja bisnis.

“Dari sisi pertumbuhan aset yang cukup tinggi, pertumbuhan profit yang hampir 300%, kemudian kualitas yang memang cukup baik di 0,6%, kita membuktikan bahwa dari sisi numbers, performance tinggi kita dibarengi dengan intervention GRC yang kuat dan menghasilkan performance yang sangat baik,” pungkas Iwan.

Tags: TOP GRC Awards 2026
Previous Post

IHSG Ditutup Menguat, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Hijau

Next Post

tiket.com Terapkan Adaptive GRC di Tengah Industri dan Lingkungan Bisnis yang Terus Berubah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR