Jakarta, TopBusiness — PT PLN Icon Plus terus memperkuat penerapan Governance, Risk and Compliance (GRC) sebagai bagian dari transformasi bisnis perusahaan. Penerapan GRC tidak hanya ditempatkan sebagai fungsi administratif, tetapi diintegrasikan ke dalam proses bisnis untuk memperkuat tata kelola, mengendalikan risiko, serta memastikan kepatuhan perusahaan.
Sekretaris Perusahaan PT PLN Icon Plus, Takuma Dewi, mengatakan penerapan GRC menjadi bagian penting dalam mendukung visi perusahaan sebagai pemimpin penyedia solusi konektivitas, digital, dan energi hijau yang terintegrasi. Visi tersebut sekaligus menjadi arah transformasi PLN Icon Plus sebagai subholding Beyond kWh.
“GRC kami tempatkan dalam proses bisnis, bukan sebagai lapisan administratif di luar bisnis,” kata Takuma saat memaparkan penerapan GRC PLN Icon Plus di hadapan dewan juri Top GRC Award 2026, Kamis (27/8/2026).
Menurut dia, model bisnis Beyond kWh membuka peluang pertumbuhan baru sekaligus memperluas area risiko yang harus dikelola perusahaan. Karena itu, pengelolaan risiko dan kepatuhan perlu terintegrasi dengan berbagai lini bisnis.
Pada aspek konektivitas, misalnya, perusahaan memantau keandalan layanan (reliability), kualitas layanan, serta infrastruktur. Sementara pada bisnis digital, perhatian diarahkan pada keamanan siber, data, privasi, dan ketersediaan layanan.
Di sektor energi hijau, pengelolaan risiko mencakup teknologi, regulasi, perubahan iklim, serta berbagai klaim terkait produk dan layanan. Sementara dari sisi pelanggan, perusahaan memperhatikan pengalaman, kepercayaan, dan keberlanjutan layanan. Risiko pihak ketiga juga mencakup aspek integritas, kinerja, dan konsentrasi. Adapun dari sisi permodalan, perhatian diberikan pada investasi, tingkat pengembalian, dan pelaksanaan proyek.
Penguatan tata kelola tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan data yang disampaikan PLN Icon Plus, pendapatan perusahaan pada 2024 tercatat sebesar Rp6,974 triliun dan meningkat menjadi Rp8,139 triliun pada 2025. Pada tahun yang sama, laba bersih mencapai Rp1,016 triliun dengan total aset sebesar Rp12,309 triliun.
Pertumbuhan tersebut, menurut perusahaan, tidak hanya tercermin dari peningkatan pendapatan, tetapi juga dari kualitas laba dan penguatan ketahanan perusahaan.
Takuma menjelaskan PLN Icon Plus juga membentuk sejumlah komite untuk memperkuat pengawasan, pengambilan keputusan, serta pengelolaan risiko. Komite tersebut berada dalam pemantauan Komisaris Utama.
Beberapa di antaranya adalah Komite Audit, Komite Investasi dan Manajemen Risiko, serta Komite Nominasi dan Remunerasi.
Selain komite, terdapat sejumlah fungsi yang mendukung penerapan GRC, antara lain fungsi manajemen risiko, hukum, kepatuhan, audit, sekretariat perusahaan, Business Process Owner (BPO), Komite ESG, serta bidang pendukung lainnya.
“Struktur tersebut dibangun agar strategi bisnis dapat berjalan secara optimal sekaligus mampu menekan berbagai risiko dan ancaman yang dihadapi perusahaan,” ujar Takuma.
Penerapan tata kelola tersebut juga tercermin dalam hasil penilaian Good Corporate Governance (GCG). Berdasarkan data perusahaan, skor GCG PLN Icon Plus tercatat 92,7 persen pada 2021, 91,2 persen pada 2022, 93,3 persen pada 2023, dan 93,6 persen pada 2024. Pada 2025, skor GCG tercatat sebesar 89,79 persen.
GRC sebagai Sistem Pengendali dan Integrator
Dalam penerapannya, GRC di PLN Icon Plus diwujudkan melalui pembentukan kebijakan, standar operasional prosedur (SOP), dan surat keputusan yang mengintegrasikan penilaian risiko strategis, kepatuhan terhadap regulasi, serta pelaporan berbasis pengendalian internal.
Pengelolaan tersebut mencakup kepatuhan terhadap berbagai ketentuan yang relevan, termasuk regulasi BUMN, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Kementerian Keuangan.
Salah satu implementasinya adalah integrasi risk register dengan proyek transformasi dan digitalisasi perusahaan. Dengan demikian, potensi risiko dapat diidentifikasi dan dikelola sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek.
Takuma mengatakan penguatan GRC juga berjalan beriringan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari arah strategis perusahaan.
“ESG kami masukkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan RKAP,” katanya.
Di bidang lingkungan, PLN Icon Plus mengembangkan investasi pada energi hijau, termasuk photovoltaic rooftop (PVR) dan battery energy storage system (BESS). Sementara pada aspek sosial, perusahaan menjalankan berbagai inisiatif digital inklusif untuk masyarakat, seperti pengembangan jaringan serat optik dan WiFi publik di wilayah perdesaan.
Dari sisi tata kelola, perusahaan juga mengembangkan sistem berbasis teknologi digital dan transparansi, antara lain melalui penerapan Single Source of Truth (SSOT) dan e-Procurement.
Penerapan prinsip keberlanjutan juga dilakukan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program tersebut diarahkan berdasarkan pemetaan potensi dan kebutuhan sosial di berbagai daerah.
Sejumlah program yang dijalankan antara lain digitalisasi sekolah, pelatihan bagi pelaku UMKM, pengembangan desa digital, serta pemasangan penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya di daerah terpencil.
Menurut Takuma, program TJSL juga diselaraskan dengan kerangka ESG melalui sistem pelaporan indikator kinerja utama (KPI) TJSL yang terhubung dengan indikator ESG perusahaan.
Untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan risiko, PLN Icon Plus juga mendorong pejabat dan pengelola risiko mengikuti sertifikasi manajemen risiko dari lembaga yang kredibel.
Sertifikasi yang diikuti antara lain melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), ERMA, dan LSP LPK MKS. Jenis sertifikasi disesuaikan dengan tingkat kewenangan dan peran masing-masing, mulai dari QRMA, CRMO, CRMP, ERMAP, ERMCP, hingga GRCP.
Selain itu, PLN Icon Plus telah menerapkan Business Continuity Management System (BCMS) dan Business Continuity Plan (BCP) untuk memastikan keberlangsungan layanan dalam menghadapi kondisi krisis.
Penerapan BCMS mengacu pada Keputusan Direksi Nomor 102201/SK/001/PUSAT/ICON+/2017. Sementara pelaksanaan BCP mengacu pada Kebijakan dan Prosedur BCP No. ICON-SMKU-PRO-003.
“Dengan mekanisme tersebut, perusahaan memiliki kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan yang terstandar untuk menjaga keberlangsungan bisnis,” ujar Takuma.
Melalui integrasi GRC, ESG, manajemen risiko, dan keberlanjutan bisnis, PLN Icon Plus berupaya memastikan transformasi menuju model Beyond kWh tidak hanya menghasilkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga ditopang tata kelola, pengendalian risiko, dan ketahanan perusahaan yang berkelanjutan.