Buyback saham, terutama dari perusahan pelat merah menjadi instrumen baru menjaga kepercayaan investor yang sempat rontok seiring ambuknya IHSG.
Di tengah fluktuasi pasar saham yang beberapa bulan terakhir dipenuhi tekanan sentimen global, muncul satu sinyal yang langsung menarik perhatian pelaku pasar. Bukan berasal dari data ekonomi makro, bukan pula dari kebijakan moneter. Sinyal itu datang dari korporasi-korporasi milik negara.
Ya, wacana pembelian kembali atau buyback saham BUMN perlahan berubah menjadi pembicaraan utama di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi yang selama ini identik sebagai strategi meningkatkan nilai perusahaan kini dipandang memiliki arti lebih besar. Yakni, menjadi simbol kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional sekaligus bantalan psikologis bagi pasar yang tengah mencari arah.
Perbincangan mengenai buyback semakin menguat setelah Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menggelar pertemuan dengan jajaran Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, Indonesia Investment Authority (INA), hingga sejumlah perusahaan asuransi.
Dalam diskusi tersebut, DPR menilai banyak saham BUMN diperdagangkan pada valuasi yang belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan. Dari sanalah muncul dorongan agar perusahaan-perusahaan pelat merah mulai mempertimbangkan pembelian kembali saham mereka.
Buyback: Investasi Terbaik
Pandangan tersebut diamini oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Menurut Dony, buyback bukanlah langkah luar biasa, melainkan praktik bisnis yang lazim dilakukan ketika harga saham tidak lagi merefleksikan nilai intrinsik perusahaan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang mengenai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa waktu terakhir yang dikaitkan dengan aksi korporasi perusahaan-perusahaan BUMN.
Lebih jauh, Dony melihat penguatan IHSG bukan sekadar kenaikan indeks semata. Menurutnya, pasar tengah memberikan sinyal meningkatnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Ia menilai investor pada akhirnya akan selalu kembali kepada satu faktor utama, yakni fundamental perusahaan dan fundamental ekonomi nasional.
Tak butuh waktu lama hingga wacana tersebut mulai diterjemahkan menjadi aksi nyata. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menjadi salah satu perusahaan pertama yang mengumumkan program buyback saham.
BRI menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar untuk pembelian kembali saham yang berlangsung sejak 12 Juni hingga 11 September 2026.
Corporate Secretary BRI Dhanny menjelaskan, buyback merupakan bagian dari strategi meningkatkan nilai pemegang saham sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
“Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan,” ujarnya.
Langkah serupa juga mulai dipertimbangkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN). Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan harga saham perseroan saat ini juga dinilai masih undervalued sehingga opsi buyback mulai dikaji.
Namun berbeda dengan BRI, buyback BTN lebih diarahkan untuk mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan melalui skema bonus maupun employee stock option.
“Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan,” kata Nixon, baru-baru ini.
Untuk itu, kata Nixon, pihaknya siap untuk merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB). Sehingga, rencana buyback saham ini bukan semata hanya kajian.
Penyangga IHSG
Bagi analis pasar modal, buyback memang memiliki efek psikologis yang kuat. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai dorongan buyback dari perusahaan-perusahaan BUMN merupakan respons strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar saham.
Menurut David, secara historis buyback sering menjadi jangkar likuiditas ketika pasar mengalami tekanan. “Wacana buyback saham BUMN ini mengirimkan sinyal kuat bahwa otoritas berkomitmen dalam menjaga stabilitas bursa di tengah tekanan pasar,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas. Menurutnya, buyback merupakan sinyal bahwa emiten percaya terhadap prospek bisnisnya sendiri. “Wacana buyback BUMN menjadi sentimen positif karena menunjukkan komitmen emiten menjaga valuasi saham di tengah tekanan pasar,” katanya.
Sukarno melihat sentimen tersebut mulai tercermin pada penguatan sejumlah saham BUMN berkapitalisasi besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBTN hingga TLKM.
Selain meningkatkan kepercayaan investor, buyback juga dapat membantu meredam tekanan jual yang muncul selama pasar berada dalam fase volatilitas tinggi. Namun ia mengingatkan bahwa efektivitas buyback tetap memiliki batas.
Jika tekanan pasar berasal dari faktor eksternal seperti keluarnya dana asing (foreign outflow), konflik geopolitik, maupun ketidakpastian ekonomi global, maka buyback tidak dapat sepenuhnya menjadi solusi.
Fundamental Tetap Penentu
Di balik optimisme tersebut, para pelaku pasar sepakat bahwa buyback bukanlah obat untuk seluruh persoalan. Karena itu, buyback akan lebih efektif ketika dilakukan oleh emiten dengan fundamental yang memang kuat. Dalam konteks itu, kondisi BUMN dinilai masih cukup solid.
Ketua Himbara sekaligus Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyebut pertumbuhan kredit bank-bank Himbara masih berada di kisaran 20 persen, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 20-30 persen.
Likuiditas juga dinilai tetap sehat dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) sekitar 88-90 persen. Di sisi lain, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) rata-rata di bawah 2 persen.
*Tulisan Ini Sebelumnya Juga Dimuat di Majalah TopBusiness
