Jakarta, TopBusiness – PT PLN Indonesia Power (PLN IP) mulai mengembangkan aset karbon dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak. Potensi pengurangan emisi yang dihasilkan dari peningkatan kapasitas pembangkit tersebut akan dikembangkan menjadi aset karbon yang memiliki nilai ekonomi.
Pengembangan aset karbon tersebut ditandai dengan penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia.
Kerja sama ini melanjutkan kolaborasi antara PLN Indonesia Power dan South Pole AG dalam mengembangkan aset karbon yang berasal dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak.
Aset karbon yang dihasilkan dari pengurangan emisi tersebut nantinya dapat dimonetisasi dan diperdagangkan, sehingga membuka peluang bagi pembangkit energi bersih untuk memperoleh sumber nilai ekonomi tambahan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan pengembangan aset karbon menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan nilai ekonomi dari pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
“Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan,” kata Bernadus dalam keterangan resmi, dikutip Senin (7/9/2026).
Menurut dia, pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak menunjukkan adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia.
“Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” tegasnya.
Langkah tersebut juga memperkuat pemanfaatan potensi pengurangan emisi dari sektor pembangkitan energi. Dengan meningkatnya kapasitas pembangkit panas bumi, PLN Indonesia Power tidak hanya memperoleh tambahan pasokan listrik dari sumber energi bersih, tetapi juga berupaya mengoptimalkan manfaat ekonomi dari penurunan emisi yang dihasilkan.
Pengembangan aset karbon ini menjadi salah satu bentuk integrasi antara agenda transisi energi dan penciptaan nilai ekonomi. Melalui mekanisme perdagangan karbon, pengurangan emisi dari proyek energi bersih dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan secara berkelanjutan.
