Jakarta, TopBusiness — Di balik kawasan pegunungan dan aktivitas vulkaniknya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyimpan potensi energi panas bumi yang cukup menjanjikan. Salah satu prospek utama berada di kawasan Cipanas dengan potensi panas bumi yang diperkirakan mencapai sekitar 85 megawatt (MW).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menetapkan kawasan Cipanas sebagai Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) Panas Bumi dengan luas mencapai 3.180 hektare. Potensi yang telah teridentifikasi mencapai 85 MWe dan masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut.
Besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi Cianjur untuk tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata pegunungan, tetapi juga menjadi salah satu daerah penghasil energi bersih di Jawa Barat.
Pemerintah bahkan telah menyiapkan arah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Cipanas. Dalam rencana pengembangannya, proyek tersebut diarahkan memiliki kapasitas sekitar 55 MW dan ditargetkan dapat beroperasi secara komersial pada 2030.
Dengan kapasitas tersebut, PLTP Cipanas berpotensi menambah pasokan listrik dari energi terbarukan sekaligus mendukung kebutuhan sistem kelistrikan di Jawa Barat.
Panas Bumi Dinilai Strategis
Pakar geothermal sekaligus Advisory Board Master Program Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Ali Ashat, menilai pengembangan panas bumi di Indonesia, termasuk di Cianjur, memiliki arti strategis dalam memperkuat bauran energi bersih nasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan besar karena menyimpan sumber daya panas bumi yang melimpah. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal karena panas bumi memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejumlah sumber energi terbarukan lain yang bergantung pada kondisi cuaca.
“Potensi geothermal Indonesia itu terbesar di dunia dan ini berdasarkan data yang terverifikasi. Keunggulannya, geothermal bisa menyediakan listrik stabil sepanjang tahun secara penuh. Pengembangan di Cianjur ini sangat strategis untuk mendukung target energi bersih nasional,” ujar Ali Ashat dalam gelaran Geothermal Fun Day, Minggu (6/9/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan posisi panas bumi sebagai salah satu sumber energi yang dapat menopang kebutuhan listrik secara berkelanjutan. Kemampuan pembangkit panas bumi beroperasi secara stabil juga menjadi keunggulan dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan, terutama ketika porsi energi terbarukan intermiten seperti tenaga surya dan angin terus ditingkatkan.
Leles Ikut Dibidik
Peluang pengembangan panas bumi di Cianjur tidak berhenti di Cipanas. Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2024 melakukan Survei Terpadu Geologi, Geokimia, dan Geofisika di daerah panas bumi Leles.
Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik sistem panas bumi di bawah permukaan, termasuk temperatur reservoir, luas dan dimensi reservoir, serta karakteristik fluida panas bumi.
Hasil kajian menunjukkan bahwa wilayah Leles juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan. Namun, tidak seluruh potensi panas bumi harus diarahkan untuk pembangkitan listrik. Sebagian di antaranya dapat dikembangkan melalui skema pemanfaatan langsung (direct use).
Kajian Badan Geologi memperkirakan total potensi Prospek Leles mencapai sekitar 3,3 MWt untuk pemanfaatan langsung, dengan cadangan terbukti sekitar 2,592 MWt.
Energi panas tersebut berpeluang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, antara lain pemandian air panas, kolam renang, jacuzzi, hingga kegiatan budidaya perikanan secara berjenjang.
Dengan demikian, panas bumi Cianjur tidak hanya berpotensi menjadi sumber listrik, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah prospek.
Eksplorasi Menjadi Tantangan
Besarnya potensi panas bumi di Cianjur sekaligus menunjukkan bahwa pengembangannya membutuhkan tahapan eksplorasi yang matang. Berbeda dengan sejumlah pembangkit energi konvensional, proyek panas bumi memerlukan kepastian mengenai kondisi reservoir di bawah permukaan sebelum investasi pembangkit dapat dilakukan.
Untuk Leles, misalnya, survei Badan Geologi masih diarahkan untuk menentukan karakteristik sumber daya serta kemungkinan pengembangannya, baik sebagai wilayah kerja panas bumi maupun melalui pemanfaatan langsung.
Sementara itu, Cipanas memiliki arah pengembangan yang relatif lebih jelas dengan rencana pembangunan PLTP. Kawasan tersebut berada di lingkungan vulkanik Gunung Gede Pangrango yang mendukung terbentuknya sistem panas bumi.
Jika pengembangan Cipanas berjalan sesuai rencana, ditambah optimalisasi prospek Leles dan wilayah panas bumi lainnya, Cianjur berpeluang memainkan peran lebih besar dalam pengembangan energi terbarukan di Jawa Barat.
Panas yang selama ini muncul dalam bentuk sumber air panas dan berbagai manifestasi geologi perlahan dapat diarahkan menjadi sumber listrik sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar menemukan sumber panas bumi, melainkan memastikan potensi tersebut dapat dikembangkan secara ekonomis, aman, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Cianjur.
