Jakarta, TopBusiness — PT Daya Adicipta Mustika atau Daya Group kembali mencatatkan prestasi dalam penerapan tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance/GRC).
Pada acara puncak TOP GRC Awards 2026, Daya Group dianugerahi penghargaan TOP GRC AWARDS 2026 #STAR 5. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip-prinsip GRC secara konsisten dalam menjalankan kegiatan bisnis.
Tak hanya perusahaan, penghargaan juga diberikan kepada Chief Executive Officer (CEO) Daya Group, Krisgianto Lilikwargawidjaja. Ia meraih penghargaan The Most Committed GRC Leader 2026.
Penghargaan tersebut mencerminkan komitmen pimpinan perusahaan dalam mendorong penerapan tata kelola, pengelolaan risiko, serta kepatuhan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan dan operasional perusahaan.
Bagi Daya Group, penerapan GRC tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan aspek kepatuhan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang sehat, berkelanjutan, dan mampu menghadapi berbagai tantangan bisnis.
Penganugerahan TOP GRC AWARDS 2026 #STAR 5 sekaligus The Most Committed GRC Leader 2026 kepada Krisgianto menjadi pengakuan atas peran kepemimpinan dalam memperkuat budaya GRC di lingkungan perusahaan.
Melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko, perusahaan diharapkan mampu menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.
Prestasi tersebut juga mempertegas posisi GRC sebagai salah satu fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan. Dengan kepemimpinan yang kuat dan penerapan tata kelola yang baik, Daya Group terus berupaya memastikan aktivitas bisnis berjalan secara bertanggung jawab, transparan, dan sesuai dengan prinsip kepatuhan.
Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2026 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah TOP Business, M.Lutfi Handayani, MM., MBA, menegaskan karakter penting dari TOP GRC Awards, terletak pada perpaduan antara kegiatan penilaian, penghargaan, dan pembelajaran GRC. Peserta tidak hanya memperoleh pengakuan atas capaian implementasi GRC, tetapi juga ruang untuk merefleksikan praktik yang telah berjalan, memperoleh masukan dari Dewan Juri, melakukan benchmarking, serta mengidentifikasi area yang masih perlu diperkuat.
“Penghargaan merupakan bentuk apresiasi atas capaian. Namun, proses penilaian dan penjurian harus memberikan nilai tambah berupa insight dan agenda improvement. Kami berharap peserta tidak hanya bertanya ‘berapa bintang yang kami peroleh’, tetapi juga ‘di mana posisi kematangan GRC kami, apa gap-nya, dan apa yang perlu ditingkatkan berikutnya’,” ujar Lutfi.
Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, Dr. Antonius Alijoyo, ERMCP., CERG., menekankan bahwa Intelligent GRC bukan sekadar digitalisasi dokumen atau proses GRC. Intelligent GRC diarahkan pada pemanfaatan data, teknologi, analitik, dan Artificial Intelligence secara tepat untuk memperkuat kualitas informasi, mempercepat deteksi risiko, meningkatkan efektivitas kontrol, serta membantu manajemen mengambil keputusan yang lebih cepat, akurat, beretika, dan bertanggung jawab.
“Perjalanan menuju Intelligent GRC adalah perjalanan menjadikan GRC semakin terintegrasi dengan bisnis—dari sekadar memenuhi kewajiban, menuju GRC yang memberi insight, mendukung keputusan strategis, memperkuat resiliensi, dan menciptakan sustainable value.”
Rangkaian TOP GRC Awards 2026 juga menghadirkan empat keynote speaker dari KNKG, Kementerian Keuangan RI, BPI Danantara, dan Badan Pemeriksa Keuangan RI. Keempat perspektif tersebut memperkaya tema besar acara dari sisi governansi korporat, pengelolaan keuangan negara, investasi dan ketahanan portofolio, serta akuntabilitas dan assurance.
Dari perspektif Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Ph.D., Ketua Umum KNKG, melalui tema “Sustainability by Design” mengharapkan perusahaan untuk menanamkan keberlanjutan dan aspek ESG secara fundamental ke dalam DNA bisnis inti sebagai katalis inovasi, bukan sekadar pelengkap pemenuhan regulasi. Untuk mengeksekusi visi ini, organisasi membutuhkan Intelligent GRC yang proaktif, integratif, dan berwawasan ke depan (forward-looking) guna menyeimbangkan kepatuhan dengan akselerasi bisnis. Transformasi ini mengharuskan perusahaan meruntuhkan batasan “silo” antar departemen dengan menyinergikan tiga standar global utama: ISO 37000 sebagai penentu arah governansi yang berbasis tujuan, ISO 31000 sebagai radar manajemen risiko yang strategis, dan ISO 37301 sebagai fondasi bagi budaya kepatuhan organisasi.
Sejalan dengan upaya internalisasi GRC tersebut, KNKG tengah memutakhirkan Pedoman Umum Governansi Korporat Indonesia (PUG-KI) dengan menitikberatkan pada empat nilai dasar ETAK (Perilaku Beretika, Akuntabilitas, Transparansi, dan Keberlanjutan). Pemutakhiran ini membawa perluasan strategis, seperti etika pemanfaatan AI pada aspek perilaku, outcome-based governance pada akuntabilitas, kewajiban pengungkapan isu keberlanjutan pada transparansi, serta integrasi aspek ESG (Environment, Social, Governance) hingga ke skema remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi. Perpaduan antara desain keberlanjutan dan kecerdasan eksekusi GRC ini akan membentuk ketahanan jangka panjang yang memastikan perusahaan tetap relevan dan dipercaya oleh pasar global.
Sementara itu, mewakili Wakil Menteri Keuangan adalah Dr. Nur Achmad, SE, MSi, dari Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan membawa perspektif penguatan GRC dalam menjaga kredibilitas pengelolaan keuangan, akuntabilitas, pengendalian intern, dan transformasi digital. Arah pesannya menempatkan GRC sebagai bagian dari keputusan strategis: strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance perlu dibaca dalam satu kesatuan. Risk dashboard perlu berkembang dari sekadar reporting menuju early warning dan decision intelligence, sedangkan pemanfaatan data dan Artificial Intelligence harus dibangun di atas digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas.
Dari BPI Danantara, Effendi Hengki, Managing Director, Risk & Sustainability, dalam keynote speech bertajuk “Breaking Free from Snapshot GRC: Membangun Fondasi Continuous Assurance di Era Turbulensi Digital”, ia menegaskan bahwa GRC kini tidak lagi cukup dipandang sebagai fungsi kepatuhan semata, tetapi harus menjadi strategic enabler dan instrumen penciptaan nilai bagi perusahaan. GRC yang efektif membantu pimpinan mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi dari risiko yang tidak diinginkan, sekaligus menangkap peluang strategis dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis. Dengan pendekatan tersebut, GRC pada akhirnya harus mampu mendukung terciptanya nilai perusahaan yang berkelanjutan (sustainable value).
Di tengah risiko digital yang bergerak dalam hitungan menit, menurut Effendi, perusahaan juga perlu meninggalkan pola GRC yang bersifat “snapshot” atau sekadar sibuk ketika menjelang audit, menuju pendekatan continuous assurance. Pengawasan dan pengujian kontrol perlu berjalan secara terus-menerus dengan dukungan data real-time, otomatisasi, serta sistem yang terintegrasi. Transformasi ini tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi harus dibangun melalui tiga fondasi utama, yakni people & culture, process & control, serta technology. Dengan demikian, fungsi GRC dan audit dapat bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan mendeteksi risiko lebih dini, memperkuat ketahanan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat.
Adapun Dr. Syamsudin, S.E., M.Si., Sekretaris Jenderal BPK RI, menyoroti pentingnya GRC yang terintegrasi dan terukur untuk memperkuat transparansi, akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, kualitas tata kelola, pengendalian intern, dan tindak lanjut perbaikan. Dalam perspektif BPK, nilai tertinggi pemeriksaan tidak berhenti pada opini atau penyelesaian administratif, melainkan pada perbaikan yang nyata, penyelesaian akar masalah, pencegahan temuan berulang, dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Pengukuran maturity GRC dapat menjadi baseline dan roadmap peningkatan, namun tidak menggantikan pemeriksaan, opini, maupun independensi BPK sebagai pemeriksa eksternal.
Benang merah dari keempat keynote tersebut mempertegas arah TOP GRC Awards 2026: GRC harus bergerak dari compliance menuju capability dan value; dari reporting menuju early warning dan decision intelligence; serta dari sistem yang berdiri sendiri menuju kapabilitas yang terintegrasi dengan strategi, kinerja, investasi, sustainability, teknologi, assurance, dan continuous improvement.
