Jakarta, TopBusiness – Kabar menggembirakan datang dari Lapangan Banyu Urip, Cepu. Sumur yang sebelumnya berstatus shut-in atau tidak berproduksi, A-10, kini kembali mengalirkan minyak dengan tambahan produksi sekitar 4.500 barel minyak per hari (BOPD).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan keberhasilan tersebut melalui unggahan pada Rabu (9/9/2026). Ia menyebut sumur idle A-10 berhasil dihidupkan kembali dan memberikan tambahan produksi sekitar 4.500 BOPD.
“Alhamdulillah, Sumur Idle A-10 Banyu Urip bisa berproduksi lagi 4.500 BOPD. Terima kasih atas doa bapak ibu, Aamiin YRA,” kata Djoko.
Keberhasilan menghidupkan kembali sumur tersebut menjadi kabar positif di tengah upaya pemerintah bersama pelaku usaha hulu migas untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi minyak nasional.
Informasi mengenai keberhasilan A-10 sebelumnya disampaikan President ExxonMobil Indonesia Wade Floyd kepada Djoko Siswanto. Dalam pesannya pada Rabu pagi, Wade menjelaskan bahwa pemulihan produksi sumur tersebut dilakukan melalui kombinasi formulasi GWSO dan teknologi new straddle packer.
Menurut Wade, teknologi straddle packer yang digunakan merupakan teknologi baru yang sebelumnya belum pernah diterapkan di Indonesia.
“Good news this morning. We restored shut-in well A10 in Cepu with the GWSO formulation and a new straddle packer technology that we had not applied before in Indonesia,” ujar Wade.
Sumur A-10 kemudian kembali dioperasikan pada Selasa (8/9/2026). Saat laporan tersebut disampaikan, sumur telah kembali mengalir dengan tambahan produksi bersih lapangan sekitar 4.500 barel minyak per hari.
Wade mengatakan tim ExxonMobil masih akan melakukan optimalisasi untuk meningkatkan produksi sumur tersebut.
Djoko menyambut positif keberhasilan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya menilai penggunaan bahan kimia saja tidak akan mampu menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan produksi pada sumur tersebut.
Menurut Djoko, teknologi packer memiliki keunggulan karena mampu menghadapi kondisi temperatur dan tekanan tinggi di dalam sumur.
“Since the beginning I told you that chemical cannot work long time, packer more better because very tough fight with temperature and pressure,” tegas Djoko.
Keberhasilan menghidupkan kembali sumur A-10 menunjukkan pentingnya inovasi teknologi dan pengalaman teknis dalam mengoptimalkan potensi sumur yang sebelumnya tidak berproduksi. Kolaborasi antara operator dan regulator juga menjadi faktor penting dalam upaya mengembalikan produksi dari sumur-sumur yang berstatus shut-in.
Tambahan produksi sekitar 4.500 BOPD dari satu sumur menjadi kontribusi signifikan bagi produksi minyak nasional. Di tengah tantangan mempertahankan produksi minyak dalam negeri, pengaktifan kembali sumur-sumur idle dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga pasokan energi.
Bagi SKK Migas, keberhasilan A-10 juga menunjukkan bahwa sumur yang sempat berhenti berproduksi masih memiliki peluang untuk dioptimalkan melalui pendekatan teknologi yang sesuai dengan kondisi bawah permukaan.
Keberhasilan di Lapangan Banyu Urip tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa penerapan teknologi baru dapat membuka kembali potensi produksi dari sumur yang sebelumnya dinilai tidak berproduksi. Sumur A-10 yang sempat shut-in kini kembali memberikan tambahan produksi sekitar 4.500 BOPD bagi lapangan.
