Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). IHSG terkoreksi 21,27 poin atau 0,33% ke level 6.441,15.
Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih bertahan hingga akhir perdagangan, setelah IHSG sempat dibuka menguat cukup signifikan pada awal sesi perdagangan. Pada pembukaan Jumat pagi, IHSG tercatat naik 50,14 poin atau 0,78% ke posisi 6.512,57.
Namun, penguatan tersebut tidak mampu dipertahankan. Pada sesi pertama, IHSG bahkan telah berbalik melemah 0,35% ke level 6.439,75. Sepanjang sesi pertama, indeks bergerak pada rentang 6.433,37 hingga 6.521,02.
Hingga penutupan perdagangan, aktivitas transaksi saham di BEI tercatat cukup tinggi. Total volume perdagangan mencapai 30,92 miliar saham dengan nilai transaksi Rp18,94 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 442 saham mengalami penurunan harga, sedangkan 204 saham menguat dan 144 saham lainnya stagnan.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual berlangsung cukup luas. Jumlah saham yang turun lebih dari dua kali lipat dibandingkan saham yang menguat.
Tekanan terhadap IHSG juga terlihat dari pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan.
Pada perdagangan sesi pertama, saham Bank Mandiri (BMRI) tercatat terkoreksi sekitar 2,1%, Bank Central Asia (BBCA) turun sekitar 2,0%, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah sekitar 1,8%.
Saham-saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar besar sehingga perubahan harganya dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan IHSG.
Di sisi lain, aktivitas transaksi juga terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Pada sesi pertama, BBCA menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar, disusul BUMI, PTRO, BBRI, dan BMRI.
Sementara itu, pada awal perdagangan, saham Bayan Resources (BYAN) sempat menjadi salah satu penggerak utama pasar setelah melonjak hampir 20% ke kisaran Rp13.825.
Pergerakan IHSG pada Jumat memperlihatkan perubahan sentimen yang cukup cepat. Indeks yang pada pembukaan mampu menguat hingga 6.512,57 akhirnya berbalik ke zona merah dan ditutup pada 6.441,15.
Artinya, dari level pembukaan hingga penutupan, IHSG kehilangan sekitar 71,42 poin. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual pada saham-saham utama lebih kuat dibandingkan dorongan beli yang muncul pada awal perdagangan.
Kondisi tersebut juga tercermin dari breadth pasar. Dengan 442 saham melemah dan hanya 204 saham menguat, investor cenderung melakukan aksi jual atau mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang akhir pekan.
Sentimen The Fed Masih Membayangi
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve pada keputusan FOMC 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu sumber perhatian investor karena kenaikan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal global, imbal hasil aset keuangan, serta nilai tukar negara berkembang.
ANTARA sebelumnya melaporkan bahwa proyeksi terbaru The Fed juga menunjukkan masih adanya anggota FOMC yang melihat ruang untuk kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar global sebenarnya relatif membaik pada awal perdagangan Jumat. Bursa Wall Street pada Kamis ditutup menguat, sementara sejumlah bursa Asia juga bergerak positif pada pagi hari. Harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membantu sentimen risiko global.
Namun, penguatan sentimen global tersebut belum cukup untuk mempertahankan IHSG di zona positif hingga akhir perdagangan.
Secara teknikal, level 6.400 menjadi area yang perlu diperhatikan setelah IHSG kembali berada di sekitar level tersebut. Sebelumnya, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut area 6.431-6.377 sebagai support. Apabila area tersebut tidak mampu dipertahankan, tekanan koreksi dapat berlanjut menuju 6.290.
Sebaliknya, dari sisi atas, area 6.511-6.523 menjadi level yang perlu dilewati IHSG untuk kembali memperoleh momentum penguatan. Setelah itu, area 6.552-6.591 menjadi resistance berikutnya berdasarkan analisis tersebut.
Dengan posisi penutupan di 6.441,15, IHSG masih berada sangat dekat dengan area support 6.431-6.377. Karena itu, pergerakan indeks pada perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan pasar mempertahankan area tersebut serta arah transaksi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Data AI
