Jakarta, TopBusiness – SCG, pemimpin bisnis regional ASEAN, mencatat kinerja operasional yang lebih kuat pada semester I 2026, dengan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp24,1 triliun (1,337 juta USD), meningkat 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian ini didorong oleh keberhasilan penerapan strategi proaktif perusahaan, melalui strategi jangka pendek yang mencakup pengelolaan biaya melalui pemanfaatan energi bersih, pengadaan bahan baku secara tepat waktu dari sumber di luar jalur Hormuz, serta disiplin pengelolaan keuangan.
Di Indonesia, SCG mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi secara tahunan di antara pasar ASEAN pada kuartal II 2026, dengan penjualan tumbuh 39% dalam mata uang lokal menjadi Rp6,51 triliun (360 juta USD).
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh penjualan produk petrokimia SCGC yang diproduksi oleh Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam untuk pasar Indonesia.
Thammasak Sethaudom, President and CEO SCG, mengatakan, di tengah dinamika global yang penuh tantangan, SCG terus memperkuat fondasi bisnis, meningkatkan ketangkasan operasional, dan menjaga daya saing perusahaan.
“Keberhasilan penerapan strategi jangka pendek dan menengah turut mendorong perbaikan kinerja di seluruh unit bisnis. Bisnis pengemasan juga menunjukkan perbaikan kinerja, terutama di Indonesia, yang kembali mencatatkan laba. Pemulihan ini didorong oleh integrasi bisnis yang lebih kuat, peningkatan efisiensi operasional, pengelolaan biaya yang efektif, serta peningkatan volume penjualan kemasan domestic,” ujar Thammasak, dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).
Strategi Proaktif
Perbaikan kinerja SCG juga tercermin pada capaian keuangan sepanjang semester I 2026. Perusahaan membukukan pendapatan dari penjualan sebesar Rp146,3 triliun (8.086 juta USD) dan laba sebesar Rp10 triliun (553 juta USD).
Khusus pada kuartal II 2026, SCG membukukan pendapatan dari penjualan sebesar Rp76,8 triliun (4.244 juta USD) dan laba sebesar Rp6,5 triliun (359 juta USD).
Selain itu, SCG juga menerapkan strategi jangka menengah yang difokuskan pada restrukturisasi bisnis, pengembangan produk bernilai tambah tinggi atau High Value-Added Products (HVA), serta pemanfaatan teknologi robotik dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing jaringan manufaktur SCG di ASEAN.
Sejalan dengan itu, pada semester I, SCG di Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi di kawasan ASEAN, yaitu kenaikan 39% (year-on-year), sebesar Rp 6,51 triliun (360 juta USD). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kinerja SCGC, melalui penjualan material petrokimia yang diproduksi oleh Long Son Petrochemicals di Vietnam untuk pasar Indonesia.
Tercatat, berbagai unit bisnis SCG di Indonesia terus memperkuat produk, solusi, serta kapabilitas layanannya. Melalui Jayamix by SCG, perusahaan memperkenalkan Jayamix Advanced Waterproof Concrete, solusi beton yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan terhadap air sekaligus memperkuat durabilitas struktur.
Perusahaan memulai pembangunan batching plant baru di Marunda, Jakarta Utara, guna memperkuat pasokan beton siap pakai dan meningkatkan respons layanan bagi pelanggan di wilayah Jakarta Utara dan Bekasi.
Komitmen Berkelanjutan
Melanjutkan komitmen berkelanjutan di Indonesia, Jayamix by SCG juga telah memperbarui sertifikasi Green Label untuk lima kategori produk beton siap pakai, dengan skor yang meningkat dari 91% menjadi 92,5%.
Jayamix by SCG juga meningkatkan sistem Truck Mixer GPS Tracking dengan pembaruan lokasi secara real-time, sehingga pelanggan dapat memantau proses pengiriman beton secara lebih mudah dan akurat.
Pada sektor logistik, SCG melalui SCG Barito Logistics menjalin kerja sama dengan PT Krakatau Bandar Samudera untuk layanan penyimpanan ISO tank dan kontainer kering, serta layanan lift-on/lift-off di Krakatau International Port.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat kapabilitas layanan logistik terintegrasi di Indonesia.
Di samping pengembangan bisnis, SCG melalui PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi juga melanjutkan berbagai inisiatif untuk mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
Seperti inisiatif SCG MENTARI, yaitu inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas. Program ini mengelola empat Waste Station di Desa Kebonmanggu, Wangunreja, dan Sukamaju, serta menyediakan sarana pendukung untuk pengumpulan dan pengangkutan sampah. Hingga saat ini, sampah yang terkumpul dari berbagai inisiatif SCG MENTARI telah mengumpulkan lebih dari 40.700 kg sampah.
SCG juga melanjutkan program SCG GESARI untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Karangpara dan kewirausahaan lokal. Sejak 2019, program ini telah memberikan manfaat kepada lebih dari 78 UMKM di lima desa sekitar, mencerminkan kolaborasi berkelanjutan antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Outlook Semester II 2026
Memasuki semester II 2026, SCG memperkirakan kondisi ekonomi global masih akan dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik, persaingan harga yang semakin ketat, inflasi, hingga volatilitas biaya energi.
Meski demikian, perusahaan optimistis bahwa strategi yang telah dijalankan dapat menjaga ketahanan bisnis sekaligus mendukung peningkatan EBITDA yang disesuaikan sepanjang 2026 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
SCG akan terus mempercepat transformasi bisnis melalui strategi jangka menengah, termasuk proyek peningkatan penggunaan bahan baku etana di kompleks Long Son Petrochemicals, Vietnam, kolaborasi dengan mitra bisnis baru, optimalisasi jaringan manufaktur di ASEAN, restrukturisasi bisnis, serta pemanfaatan teknologi robotik dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Thammasak Sethaudom, President and CEO SCG, menambahkan, meskipun kondisi ekonomi global pada semester II 2026 diperkirakan tetap penuh tantangan, SCG optimistis dapat menghadapinya dengan tetap tangguh melalui strategi yang telah diterapkan dan akan terus dikembangkan.
“Ke depan, kami akan terus mempercepat transformasi bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan jaringan manufaktur di ASEAN, serta berkolaborasi dengan mitra bisnis baru untuk mendorong pertumbuhan SCG yang berkelanjutan,” pungkasnya.
