Jakarta, TopBusiness – Ekosistem seni rupa Indonesia dinilai memiliki peluang semakin besar untuk berkembang di tingkat regional dan global seiring menguatnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, institusi seni, akademisi, media, hingga lembaga keuangan.
Konektivitas tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Art Talks bertajuk “Industri Seni Indonesia Dalam Peta Seni Dunia” yang digelar UOB Indonesia, Kamis (24/9/2026), di Flix Cinema Ashta, Jakarta. Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan tur pameran karya para peserta 16th UOB Painting of the Year (UOB POY).
Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Dadam Mahdar, mengatakan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun ekosistem seni rupa yang berkelanjutan. Menurutnya, diperlukan kolaborasi berbagai pihak yang disebutnya sebagai pendekatan hexahelix.
“Hexahelix itu kami singkat dengan A-B-G-C-M-L. A itu akademisi, B bisnis, G government atau pemerintah, C komunitas, M media, dan yang terakhir lembaga keuangan,” ujar Dadam dalam acara tersebut.
Menurut Dadam, kolaborasi tersebut dibutuhkan karena perkembangan industri kreatif, termasuk seni rupa, berlangsung dalam rantai yang saling berhubungan, mulai dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi hingga konservasi.
Pada tahap kreasi, pemerintah dapat berperan melalui inkubasi dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas seniman. Sementara pada tahap produksi, dukungan diperlukan agar karya dapat diproduksi dengan baik, dikemas dan memiliki nilai yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pada tahap distribusi, kata Dadam, keterlibatan sektor swasta seperti UOB menjadi penting untuk mempertemukan seniman dengan pasar, buyer maupun kolektor.
“Pemerintah tidak sendiri. Kami yakin dengan bantuan teman-teman UOB, jadi ketemulah antara seniman dan buyer,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem juga diperlukan pada tahap konsumsi. Pameran seni bukan hanya menjadi ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga dapat menjadi tempat terjadinya interaksi antara seniman dengan pengunjung, kolektor maupun pembeli.
“Bagaimana produksi yang kita ciptakan itu bertemu dengan pasar. Pemerintah juga ada di situ,” ujar Dadam.
Tantangan Menuju Panggung Global
Dadam mengatakan, seniman yang ingin menembus panggung seni regional maupun global tidak cukup hanya mengandalkan kualitas karya. Karya tersebut juga membutuhkan ekosistem yang mampu mendukung pengembangan karier secara berkelanjutan.
Menurut dia, eksposur, kurator, storytelling dan jejaring dengan kolektor menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang seniman.
“Senimannya karyanya bagus, tetapi membutuhkan juga eksposur. Ketika karya itu ada maknanya, ada cerita, storytelling-nya, harus kita hubungkan dengan para kurator,” katanya.
Kurator, lanjut Dadam, dapat membantu mengangkat kualitas serta narasi sebuah karya. Setelah itu, koneksi dengan kolektor juga menjadi bagian penting untuk memberikan nilai tambah sekaligus mempertemukan karya dengan pasar.
Ia menyebut perkembangan kolektor saat ini juga semakin beragam. Selain kolektor yang membeli karya dengan nilai tinggi, terdapat kolektor kelas menengah hingga kolektor muda yang mulai masuk ke pasar seni rupa.
Dari sisi pemerintah, dukungan untuk membawa seniman Indonesia ke luar negeri juga mulai dilakukan melalui berbagai showcase. Dadam mencontohkan dukungan terhadap seniman Indonesia yang mengikuti showcase di Osaka, Jepang.
Menurutnya, penguatan ekosistem seni juga harus didukung oleh basis data yang memadai. Pemerintah, kata dia, tengah mendorong pendataan pelaku ekonomi kreatif melalui Ekraf Hub.
Melalui platform tersebut, seniman dapat mendaftarkan diri sekaligus menampilkan profil dan rekam jejaknya, termasuk pengalaman berpameran di luar negeri maupun mengikuti program internship.
“Ini menjadi etalase juga karyanya. Bahkan ketika dibutuhkan oleh kolektor atau buyer, itu bisa langsung di situ bertransaksi,” jelas Dadam.
Pendataan tersebut, lanjutnya, juga penting untuk melihat kontribusi subsektor seni rupa terhadap perekonomian, termasuk dari sisi tenaga kerja, PDB dan ekspor.
Dadam mengatakan, pemerintah mencatat ekonomi kreatif memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional disebut mencapai 6,86%, sementara kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekspor nonmigas mencapai 12%.
Ia juga menyebut jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2025 telah mencapai sekitar 27,40 juta orang, melampaui target 2026 sebesar 26,06 juta orang.
“Ini salah satu yang disumbangkan dari teman-teman subsektor seni rupa,” katanya.
UOB Painting of The Year
Sementara itu, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia, Luke Ariefiandi, mengatakan dukungan UOB terhadap seni merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan dampak kepada masyarakat, khususnya di negara-negara tempat UOB beroperasi.
Luke mengatakan, UOB memiliki kehadiran yang kuat di Asia Tenggara. Sejalan dengan purpose perusahaan untuk “building the future of ASEAN”, UOB tidak hanya mendukung perekonomian, tetapi juga berkontribusi terhadap komunitas, termasuk melalui bidang seni.
Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui UOB Painting of the Year yang telah diselenggarakan secara konsisten selama puluhan tahun.
“Kompetisi ini sudah dilakukan secara konsisten. Di regional sendiri, awalnya di Singapura dan sekarang sudah 45 tahun,” ujar Luke.
Di Indonesia, UOB Painting of the Year tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-16. Menurut Luke, karakter regional dari kompetisi tersebut memberikan kesempatan kepada seniman Indonesia untuk tidak berhenti pada kompetisi di dalam negeri.
Pemenang dari Indonesia dapat melanjutkan perjalanan ke tingkat regional dan berkompetisi dengan pemenang dari negara-negara lain di Asia Tenggara.
“Kalau kita bisa mendapatkan sebagai pemenang dari Indonesia, tentunya itu selain mengharumkan nama senimannya sendiri, tapi juga mengharumkan nama Indonesia sendiri,” katanya.
Selama 16 tahun penyelenggaraan UOB Painting of the Year di Indonesia, Luke menyebut telah ada tujuh pemenang dari Indonesia yang berhasil meraih predikat Southeast Asian Winner.
Namun, Luke menegaskan bahwa UOB Painting of the Year tidak semata-mata diposisikan sebagai kompetisi.
“Kita selalu menyebutnya sebagai beyond competition. Karena kita melihatnya sebagai sebuah platform,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, UOB berupaya membangun komunitas dan alumni network yang dapat mendukung perkembangan seniman dalam jangka panjang.
Dukungan tersebut antara lain berupa recognition atau pengakuan terhadap karya seniman, pengembangan kapasitas, koneksi dengan ekosistem seni, serta eksposur regional dan global.
“Recognition ini penting sekali buat seniman, terutama dalam membangun karier mereka,” kata Luke.
Selain memberikan eksposur melalui kompetisi, UOB juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pengembangan seperti art talk dan pembekalan. Menurut Luke, kebutuhan seniman untuk berkembang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan karya.
UOB juga melihat pentingnya kemampuan lain seperti literasi keuangan, personal branding dan komunikasi.
“Kita juga ingin melengkapi dengan skill-skill lain yang dibutuhkan oleh seniman untuk berkembang,” ujarnya.
Membangun Jejaring Seniman
Luke mengatakan, alumni network UOB Painting of the Year juga menjadi bagian dari upaya membangun konektivitas antarseniman dan pelaku dalam ekosistem seni.
Para finalis, menurut dia, tidak hanya mendapatkan pengalaman mengikuti kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari komunitas yang dapat memberikan hubungan dan peluang baru.
“Para finalis ini sudah termasuk dari alumni network? Termasuk tentunya,” kata Luke.
UOB juga memberikan dukungan kepada seniman alumni untuk mengembangkan eksistensi mereka melalui berbagai kesempatan, termasuk pameran tunggal.
Dukungan tidak hanya diarahkan pada kegiatan di Indonesia. UOB juga membuka peluang bagi seniman untuk memperoleh pengalaman pameran maupun eksposur di luar negeri.
Luke menyebut aspek regional dan global exposure menjadi salah satu bagian penting yang dapat ditawarkan melalui ekosistem UOB Painting of the Year.
“Ini yang kita bisa hadirkan dari sisi kompetisi Painting of the Year. Dan tidak cuma dari sisi kompetisi, kita juga biasanya melakukan support dalam bentuk mereka bisa pameran, bisa exhibition di luar negeri,” ujarnya.
Tren Karya Semakin Beragam
Sementara itu, Ketua Dewan Juri 16th UOB Painting of the Year, Melati Suryodarmo, melihat adanya sejumlah kecenderungan menarik dalam karya yang dihasilkan para seniman peserta tahun ini.
Melati yang dipercaya menjadi Ketua Dewan Juri UOB Painting of the Year untuk ketiga kalinya mengatakan, proses penjurian dilakukan dengan perspektif yang beragam karena melibatkan tiga juri dengan latar belakang berbeda.
Perbedaan perspektif tersebut dinilai memperkaya proses diskusi dalam melihat karya para peserta.
Dari karya yang masuk, Melati melihat kecenderungan penggunaan warna yang lebih berani dan colorful. Selain warna dan komposisi, terdapat pula karya yang mengeksplorasi perspektif lensa dan persoalan psikologis manusia.
Tema lingkungan dan alam juga muncul dalam sejumlah karya peserta.
“Kebanyakan lukisannya sangat colorful. Kemudian juga main warna, komposisi, terus perspektif lensa. Ada yang lebih bersifat psikologis, jadi berani mengutarakan problem psikologi manusia. Juga lingkungan alam,” katanya.
Melati menilai keberagaman tema dan pendekatan tersebut menunjukkan luasnya eksplorasi yang dilakukan para seniman dalam kompetisi tahun ini.
Salah satu bagian dari ekosistem pengembangan talenta UOB Painting of the Year juga terlihat melalui program residency. Pada kesempatan tersebut hadir Aurora Arazzi, peraih Gold Award UOB POY 2025 kategori Established Artist, yang terpilih mengikuti UOB-NAFA Studios Residency di Cité Internationale des Arts, Paris.
Program residency tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana perjalanan seniman dapat berlanjut setelah kompetisi, melalui kesempatan memperoleh pengalaman dan konektivitas dengan ekosistem seni internasional.
Bagi pemerintah, swasta dan para pelaku ekosistem seni, keberlanjutan konektivitas semacam itu menjadi bagian penting agar talenta seni rupa Indonesia tidak berhenti pada pencapaian di tingkat lokal, tetapi memiliki jalur untuk memperluas eksposur dan jejaringnya ke tingkat regional hingga global.
