Jakarta, TopBusiness — Banyak target strategi bisnis yang telah dihadirkan YBM BRILiaN. Seperti misalnya, menargetkan penghimpunan ZIS digital dengan proses yang sepenuhnya digital pada 2030, pemberdayaan 150.000 mustahik graduate dengan outcome SDGs yang terukur, dan meraih tiga sertifikasi ISO serta audit syariah WTP setiap tahun.
Selain itu, 100 persen amil tersertifikasi BNSP dan memiliki digital skills pada 2030. Terakhir, sedikitnya memiliki 10 kemitraan nasional dan tiga kemitraan internasional untuk kolaborasi SDGs.
Guna mewujudkan target bisnis tersebut, YBM BRILiaN sebagai lembaga sosial kemanusiaan di sektor filantropi/nonprofit kemudian memperkuatnya dengan lima pilar. Yaitu: penghimpunan, beneficiaries, tata kelola, SDM amil, dan kolaborasi mitra. Adapun basis kelima pilar tersebut adalah program Human Capital (HC), baik program pengembangan SDM, penguatan manajemen SDM dan budaya organisasi, penguatan SDM amil, serta kebijakan pengelolaan amil.
Hal tersebut disampaikan Act. Manager of Human Capital & GA Riki Wirahmawan dalam Penjurian TOP HC Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Jumat (25/9/2026). Hadir pula dalam Penjurian, Executive Director Dwi Iqbal Noviawan dan Asst Mgr of Human Capital Indah Yunita.
Menurut Riki kembali, Human Capital (HC) di YBM BRILiaN ditempatkan bukan sekadar sebagai fungsi administratif pengelolaan sumber daya manusia, melainkan sebagai bagian dari transformasi organisasi untuk mendukung pencapaian tujuan lembaga secara berkelanjutan.
Kembangkan HC Terintegrasi
Dalam menjadikan HC sebagai transformasi organisasi, YBM BRILiaN mengembangkan Human Capital Management System (HCMS) yang mencakup sejumlah aspek, mulai dari Strategic Human Capital Leadership, Human Potential & Talent Management, Learning & Future Skills, Employee Experience & High Performance Culture, Digital HC & AI Enablement, hingga Business Impact & Sustainability.
Melalui kerangka tersebut, HC diarahkan terhubung dengan strategi organisasi, pengembangan talenta, pembelajaran, budaya kerja, digitalisasi, serta kontribusi langsung terhadap keberhasilan dan keberlanjutan lembaga.
“Pengelolaan SDM juga memperhatikan aspek kepatuhan, risiko dan pengendalian internal melalui HC Risk Register serta peraturan disiplin. Proses tersebut dilengkapi evaluasi dan improvement plan sebagai bagian dari continuous improvement,” kata Riki.
Khusus pada pengembangan talenta, YBM BRILiaN di antaranya menghadirkan talent management. Perusahaan dicatat menerapkan talent mapping berdasarkan kinerja, kompetensi, potensi, dan kesiapan pengembangan. Hasil pemetaan tersebut digunakan untuk menyusun talent matrix/9-Box, mengidentifikasi kandidat high potential, dan menjadi dasar pengembangan serta succession planning. Kandidat Hi-Po dapat memperoleh stretch assignment, mentoring, coaching, dan keterlibatan dalam proyek strategis.
Hadirkan Digitalisasi HC
Guna memperkuat pengelolaan HC, YBM BRILiaN membentuk Divisi Information & Technology (ITC) sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan strategis lembaga. Divisi ITC tidak lagi hanya berperan sebagai unit pendukung teknis, tetapi ditempatkan sebagai penggerak utama transformasi lembaga berbasis teknologi informasi.
Perusahaan bahkan dicatat berhasil menghadirkan digitalisasi yang mencakup HRIS, Employee Self-Service (ESS), Manager Self-Service (MSS), dan digital workflow. Dimana implementasinya memungkinkan pengajuan cuti dan izin, akses slip gaji, pembaruan data pribadi, pengelolaan benefit, approval cuti, monitoring kehadiran, review kinerja, serta akses data anggota tim secara digital. Sementara itu pada digital workflow, diterapkan untuk proses cuti, lembur, perjalanan dinas, perubahan data, approval nota dinas, hingga recruitment.
Perusahaan pada tahun 2025, juga membentuk Culture Transformation Squad dan IT Squad BRIMO-YBM. Semua kebijakan tersebut, menunjukkan bahwa transformasi budaya dan teknologi telah ditempatkan sebagai bagian penting dari agenda organisasi.
Human Capital Initiatives
Dengan keberhasilan mengembangkan HC terintegrasi dan digitalisasi, YBM BRILiaN kemudian berhasil menghadirkan banyak HC Initiative. Seperti misalnya, Culture Activation Program, sistem remunerasi, YBM Academy, sistem kafala, ED Speech, HRIS, Zikir Pagi, Syaria Insight, Weekly Sport Session, serta Engagement Amil. Adapun 2 diantaranya adalah sebagai berikut.
- YBM Academy
YBM Academy merupakan tempat pembelajaran bagi seluruh amil berdasarkan competency gap dan IDP masing-masing. Di dalamnya terdapat course dan non-course learning, sementara budaya berbagi pengetahuan diperkuat melalui sharing session mingguan, buddy/peer learning bagi amil baru, serta expert talk dari internal maupun eksternal. Program ini tidak hanya berorientasi pada pelatihan, tetapi juga membangun continuous learning, knowledge sharing, dan knowledge transfer
2. Culture Activation Program (CAP)
CAP merupakan program untuk menerjemahkan core values dan budaya YBM BRILiaN menjadi perilaku dalam pekerjaan sehari-hari. Program ini antara lain melibatkan Culture Agent, Culture Leader, dan Culture Champion, serta memberikan apresiasi melalui Amil of The Month dan Divisi of The Month. Khusus bagi amil yang berada di peringkat tiga terbawah mendapatkan happy work, berupa membaca, membuat resume buku, dan mempresentasikannya kepada amil lainnya pada bulan berikutnya.
CAP juga mengarahkan transformasi budaya dari Clan menuju Adhocracy. Program ini secara umum lebih ditujukan untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen seluruh amil terhadap implementasi budaya. Kolaborasi diperkuat melalui cross-functional team, project squad, forum lintas unit, serta kolaborasi dengan mitra program dan fundraising.
Hadirkan Kontribusi Bagi Kinerja Bisnis
Dengan melaksanakan HC, banyak kontribusi bisnis yang berhasil dihadirkan YBM BRILiaN. Beberapa kontribusi tersebut terlihat antara lain melalui otomatisasi berbagai proses administrasi dan payroll yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas.
Pertumbuhan organisasi juga meningkat selepas dihadirkannya Divisi ITC untuk memperkuat efisiensi dan produktivitas berbasis teknologi. Pada sisi efisiensi biaya, sistem dan kebijakan HC berhasil mengoptimalkan biaya tenaga kerja dan proses administrasi tanpa mengurangi kualitas layanan kepada amil maupun organisasi.
“Secara keseluruhan, keberhasilan pelaksanaan HC di YBM BRILiaN pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan atau kelengkapan sistem, tetapi dari kemampuannya menciptakan amil yang semakin kompeten, adaptif, memiliki integritas, mampu bekerja secara kolaboratif dan siap menghadapi kebutuhan organisasi di masa depan,” pungkas Riki.
