Jakarta, TopBusiness – ABB menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi industri pulp, kertas, dan fiber menuju ekonomi sirkular melalui pemanfaatan teknologi digital, otomatisasi, serta optimalisasi sumber daya. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi emisi, sekaligus memperkuat daya saing industri di tengah tuntutan keberlanjutan global.
Cluster Manager Pulp, Paper, Fiber Asia & Oceania, ABB Process Industries, Liew WeiMing, mengatakan bahwa industri pulp dan kertas saat ini tengah mengalami perubahan signifikan. Transformasi tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga bagaimana perusahaan mampu memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan menciptakan nilai tambah dari setiap proses produksi.
Menurutnya, prinsip ekonomi sirkular sebenarnya telah mulai diterapkan di berbagai pabrik pulp dan kertas. Salah satunya melalui pemanfaatan biomassa dan residu produksi sebagai sumber energi alternatif.
Selain itu, perkembangan teknologi biorefinery membuka peluang bagi industri pulp untuk menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi tinggi, seperti bahan biokimia yang dapat dimanfaatkan oleh sektor industri lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, limbah maupun produk sampingan tidak lagi dipandang sebagai material yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan nilai ekonomi.
“Kita juga melihat semakin banyak orang mencoba mencari cara untuk mendaur ulang polyester,” ujar WeiMing kepada TopBusiness.
Ia menjelaskan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konsep ekonomi sirkular semakin relevan dalam mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dorong Produk Bernilai Tambah Tinggi
Lebih lanjut, WeiMing menyoroti pentingnya modernisasi industri pulp dan kertas, terutama dalam menghadapi perubahan kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi material.
Selama ini, sebagian masyarakat masih memandang kertas sebatas produk untuk kebutuhan menulis, mencetak, maupun kemasan. Padahal, industri berbasis serat kini telah berkembang jauh melampaui fungsi konvensional tersebut.
Salah satu peluang pertumbuhan baru berasal dari pengembangan kemasan berkelanjutan atau sustainable packaging, yang semakin dibutuhkan seiring meningkatnya perhatian terhadap penggunaan material ramah lingkungan.
Di samping itu, industri pulp dan fiber juga mulai memperluas pemanfaatan produknya ke sektor tekstil, termasuk pengembangan serat viscose yang dapat diproduksi dari bahan baku seperti bambu.
Material tersebut memiliki karakteristik yang lebih lembut dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan tekstil.
Inovasi lainnya adalah pengembangan nanoselulosa, yakni material berbasis selulosa dengan karakteristik serat khusus yang membuka peluang penggunaan di berbagai sektor industri.
WeiMing menilai perkembangan ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri pulp dan kertas global.
Menurutnya, Indonesia perlu mulai menggeser orientasi industri dari sekadar mengejar volume produksi menuju pengembangan produk inovatif dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Sebagai salah satu pemain utama, Indonesia perlu mulai mengarahkan fokusnya pada pengembangan produk-produk bernilai tinggi daripada hanya memproduksi dalam jumlah besar,” tegas WeiMing.
Ia menambahkan, industri pulp dan kertas masa depan tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi kertas, tetapi juga pengembangan material berkelanjutan, inovasi serat untuk tekstil, hingga teknologi produksi berbasis hayati atau bio-based.
Karena itu, transformasi industri perlu dilakukan secara terencana dengan memanfaatkan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang bisnis baru.
“Hal utama yang dapat disimpulkan adalah bahwa sebagian besar pabrik yang sedang bertransformasi menjadi pabrik modern yang menghadapi masa depan dan siap mengadopsi teknologi perlu melakukan pendekatan ini secara bertahap. Dan kita harus merangkul teknologi AI seiring kita bergerak maju bersama,” katanya.
ABB Perkuat Elektrifikasi dan Otomatisasi Industri
Dalam mendukung transformasi tersebut, ABB telah menjalin kerja sama dengan industri pulp, kertas, dan fiber selama beberapa dekade melalui penyediaan teknologi elektrifikasi, otomatisasi, dan digitalisasi.
WeiMing menjelaskan, secara umum ABB membagi pendekatan teknologinya ke dalam dua aspek utama, yakni sistem yang menggerakkan operasional pabrik dan sistem kecerdasan yang mendukung pengendalian serta optimalisasi proses produksi.
Pada aspek pertama, ABB menghadirkan berbagai solusi yang mencakup gardu listrik, sistem elektrifikasi, motor listrik, hingga teknologi penggerak atau drives.
Seluruh solusi tersebut dapat dipadukan dengan sistem manajemen energi untuk membantu perusahaan meningkatkan efisiensi penggunaan energi sekaligus mengurangi emisi dari aktivitas operasional.
Sementara itu, pada aspek kecerdasan, ABB memperkenalkan solusi Automation Extended yang dirancang untuk mendukung pengembangan sistem otomasi industri melalui pendekatan teknologi yang lebih terintegrasi.
Dengan menggabungkan pengendalian proses dan optimalisasi operasional, solusi tersebut diharapkan mampu membantu pabrik meningkatkan kualitas produk, menjaga stabilitas produksi, serta memaksimalkan penggunaan sumber daya.
Pendekatan ini menjadi semakin penting mengingat industri pulp dan kertas merupakan sektor yang membutuhkan pengelolaan energi, bahan baku, dan proses produksi secara efisien.
Melalui integrasi elektrifikasi dan otomatisasi, ABB berupaya membantu pelaku industri membangun sistem produksi yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan.
Konektivitas, Data, dan AI Jadi Kunci Pabrik Masa Depan
Selain efisiensi energi, WeiMing menekankan bahwa konektivitas digital merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun pabrik pulp dan kertas modern.
Hal ini terutama relevan bagi industri yang memiliki fasilitas produksi di wilayah terpencil, sehingga membutuhkan sistem komunikasi dan pemantauan operasional yang andal.
Dengan konektivitas yang baik, perusahaan dapat menghubungkan berbagai fasilitas produksi, meningkatkan koordinasi internal, serta memperoleh dukungan teknis dari pemasok teknologi secara lebih efektif.
Konektivitas tersebut juga memungkinkan pengumpulan data operasional secara berkelanjutan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Menurut WeiMing, pabrik masa depan harus semakin mengandalkan data sebagai dasar dalam meningkatkan kinerja operasional.
Salah satu implementasinya adalah pemeliharaan prediktif atau predictive maintenance, yang memungkinkan perusahaan memanfaatkan informasi kondisi peralatan untuk mengantisipasi potensi gangguan sebelum berdampak terhadap proses produksi.
Lebih jauh, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai akan memainkan peran penting dalam mendorong industri menuju sistem operasional yang semakin otonom.
Teknologi AI dapat membantu operator menganalisis informasi dalam jumlah besar, mengidentifikasi potensi permasalahan, serta mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.
Dengan demikian, pabrik diharapkan mampu menjaga stabilitas operasional, meningkatkan kualitas produksi, dan mengoptimalkan penggunaan energi maupun bahan baku secara berkelanjutan.
“Pabrik juga harus sangat berbasis data. Kita perlu mengumpulkan banyak informasi agar dapat melakukan berbagai peningkatan pada pabrik, misalnya melalui pemeliharaan prediktif,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semakin banyak perusahaan kini berupaya mengembangkan pabrik yang lebih otonom dengan memanfaatkan analitik tingkat lanjut dan teknologi AI.
“Selanjutnya, sebagian besar pabrik kini berupaya menjadi lebih otonom. Untuk mencapainya, kita perlu menerapkan wawasan berbasis data dan AI guna membantu operator mengambil keputusan dengan cepat, sehingga dapat mencapai operasi yang stabil dan optimal secara berkelanjutan,” jelas WeiMing.
Menurutnya, ketersediaan data yang semakin lengkap juga akan memungkinkan perusahaan mengembangkan analitik yang lebih canggih untuk mendorong peningkatan efisiensi secara berkesinambungan.
“Tentunya, dengan tambahan data dan informasi yang tersedia, kita dapat menerapkan analitik tingkat lanjut dan terus bergerak menuju pabrik yang lebih efisien,” pungkasnya.
Melalui pendekatan tersebut, ABB optimistis transformasi digital, elektrifikasi, dan penerapan ekonomi sirkular dapat berjalan beriringan dalam mendukung modernisasi industri pulp dan kertas.
Bagi Indonesia, transformasi ini sekaligus menjadi peluang untuk memperkuat posisi industri nasional dalam rantai nilai global, tidak hanya sebagai produsen pulp dan kertas dalam volume besar, tetapi juga sebagai penghasil material inovatif dan produk berbasis serat bernilai tambah tinggi.
Dengan dukungan konektivitas, pengelolaan data, otomatisasi, dan kecerdasan buatan, industri pulp dan kertas diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan industri yang lebih berkelanjutan.
