Jakarta, TopBusiness – Langkah perusahaan migas asal Italia, Eni, melepas sebagian hak partisipasi (participating interest/PI) pada sejumlah blok minyak dan gas bumi (migas) di Kalimantan Timur dinilai sebagai strategi pembagian risiko investasi, terutama dalam pengembangan proyek migas laut dalam (deepwater) yang membutuhkan modal besar.
Praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, mengatakan masuknya PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam sejumlah wilayah kerja migas yang dikelola Eni merupakan bentuk kolaborasi strategis antarpelaku industri.
Menurut Hadi, investasi pengembangan migas laut dalam memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi, baik dari sisi teknis, pembiayaan, maupun operasional. Karena itu, keterlibatan sejumlah perusahaan dalam satu proyek menjadi langkah yang wajar untuk memperkuat kemampuan pengembangan sumber daya migas.
“Ini part of sharing risk dari sisi ENI. Namun part of strategic coreporation dari segi Medco dan Pertamina. Walaupun dalam tahap development, resiko di oil and gas selalu ada sehingga perlu kolaborasi,” ujar Hadi kepada TOPBUSINESS.
Investasi Migas Laut Dalam Capai US$15 Miliar
Hadi menjelaskan, pengembangan proyek migas laut dalam Eni di kawasan Cekungan Mahakam, Kalimantan Timur, membutuhkan investasi sekitar US$15 miliar atau setara Rp268,36 triliun dengan asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS.
Investasi tersebut mencakup pengembangan empat lapangan gas utama, yakni Gehem, Geng North, Gendalo, dan Gandang.
Besarnya kebutuhan pendanaan tersebut, menurut Hadi, menjadi salah satu alasan penting bagi perusahaan migas untuk membangun kemitraan strategis. Selain memperkuat struktur pendanaan, kolaborasi juga memungkinkan pembagian risiko dalam proses pengembangan hingga produksi.
“Benar, Eni Development di deepsea Mahakam Basin di 4G: Gehem, Geng North, Gendalo dan Gandang sekitar US$15 miliar. Jumlah yang cukup besar dan perlu kolaborasi dan sinergi,” kata Hadi.
Ia menambahkan, karakteristik proyek migas laut dalam membutuhkan teknologi tinggi, infrastruktur khusus, serta perencanaan investasi jangka panjang. Dengan demikian, pembagian kepemilikan hak partisipasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keberlanjutan proyek.
Bukan Akibat Lesunya Investasi Migas
Lebih lanjut, Hadi menegaskan bahwa pelepasan sebagian hak partisipasi Eni tidak dapat langsung dikaitkan dengan persoalan iklim investasi migas nasional.
Menurutnya, transaksi merger dan akuisisi dalam industri hulu migas merupakan bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk mengoptimalkan portofolio aset sekaligus mengelola risiko investasi.
Meski mengakui iklim investasi migas Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, Hadi menilai aksi korporasi Eni bersama MedcoEnergi dan Pertamina lebih didorong oleh kepentingan strategis masing-masing perusahaan.
“Lesunya investasi migas terkait iklim investasi Indonesia yg belum kondusif sepenuhnya, tidak terkait langsung dengan Merger and Acquicition. Coreporate action ini lebih banyak di drive oleh keinginan para pihak untuk kolaborasi dan sharing risk,” tandasnya.
Pertamina Perkuat Portofolio Hulu Migas
Sebelumnya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengumumkan akuisisi hak partisipasi pada sejumlah wilayah kerja migas yang dikelola Eni di Kalimantan Timur.
Melalui perjanjian jual beli saham atau Sales and Purchase Agreement (SPA) pada Oktober 2026, PHE mengambil alih 10% hak partisipasi Eni di Wilayah Kerja North Ganal dan Rapak.
Selain itu, PHE meningkatkan kepemilikannya di Wilayah Kerja East Sepinggan dari sebelumnya 15% menjadi 25%.
Direktur Utama PHE, Sunaryanto, mengatakan akuisisi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat portofolio bisnis hulu migas sekaligus menjaga keberlanjutan produksi energi nasional.
“Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi PHE untuk terus memperkuat portofolio hulu migas melalui investasi pada aset yang memiliki fundamental kuat, potensi sumber daya yang besar, serta memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan negara,” ujar Sunaryanto dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, keterlibatan Pertamina dalam pengembangan blok-blok migas tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antarpelaku industri, khususnya dalam mengoptimalkan potensi sumber daya gas di Kalimantan Timur.
“Kehadiran Pertamina di wilayah kerja ini juga akan semakin memperkuat sinergi pengembangan migas di Kalimantan Timur,” tambahnya.
MedcoEnergi Akuisisi Empat Blok Migas
Di sisi lain, MedcoEnergi juga menyepakati akuisisi 10% hak partisipasi non-operator dari Eni pada empat Kontrak Bagi Hasil atau Production Sharing Contract (PSC) di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur.
Keempat kontrak tersebut meliputi PSC Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal, yang mencakup penemuan gas di Lapangan Geliga.
Akuisisi tersebut menjadi bagian dari strategi MedcoEnergi untuk memperluas portofolio aset gas bumi sekaligus memperkuat keterlibatan perusahaan dalam rantai pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) nasional.
“Transaksi ini melengkapi portofolio kami di Indonesia, memperluas kehadiran kami dalam rantai pasokan LNG yang telah terbangun dengan dukungan infrastruktur dan operasi berkelas dunia,” ujar Ronald dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (13/10/2026).
Masuknya MedcoEnergi dan Pertamina dalam sejumlah proyek migas yang dikelola Eni diharapkan dapat memperkuat pengembangan sumber daya gas di Cekungan Kutai.
Kawasan tersebut memiliki posisi strategis karena didukung infrastruktur pengolahan dan distribusi LNG, termasuk fasilitas PT Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur.
Selain berpotensi meningkatkan pasokan gas nasional, kolaborasi tersebut juga diharapkan mendukung percepatan pengembangan Proyek Strategis Nasional Kutei North Hub.
Dengan kebutuhan investasi yang mencapai miliaran dolar AS, kerja sama antarkontraktor migas dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat monetisasi cadangan gas, menjaga keekonomian proyek, dan mendukung ketahanan energi nasional.
Dengan demikian, pelepasan sebagian hak partisipasi Eni bukan semata-mata pengurangan kepemilikan aset, melainkan bagian dari strategi berbagi risiko dan memperkuat sinergi investasi dalam pengembangan migas laut dalam Indonesia.
