Jakarta, TopBusiness – Hingga September 2026 atau sampai kuartal III ini, penerbitan surat utang tercatat realisasinya mengalami penurunan cukup besar dibanding periode yang sama tahun lalu mencapai 12,75%. Hal ini seperti data yang disampaikan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Dalam acara konferensi pers secara daring, Rabu (14/10/2026), Pefindo mencatat, untuk periode Januari—September 2026, total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp139,6 triliun atau turun 12,75% year on year (yoy). Meski begitu, hingga akhir tahun diproyeksi mencapai Rp180 triliun. Hal itu berarti masih sesuai proyeksi Pefindo.
Dengan potensi refinancing mencapai Rp43,56 triliun, total penerbitan hingga akhir tahun, disebut Pefindo, berpotensi mencapai Rp183,16 triliun.
“Jadi, dengan kondisi penerbitan yang sudah mencapai sekitar Rp140 triliun, maka ada potensi untuk penerbitan di sisa tahun ini akan bertambah,” tutur Head of Economic Research Division Suhindarto.
“Sehhingga akhirnya akan mencapai sekitar Rp180 triliun. Ini masih sesuai dengan mid-upper projection kami yang telah kami sampaikan sejak awal tahun kemarin,” tandas Suhindarto.
Selanjutnya, Pefindo sendiri mengantongi mandat pemeringkatan surat utang korporasi mencapai Rp56,19 triliun sampai bulan kesembilan itu.
“Mandat pemeringkatan obligasi korporasi itu berasal dari 40 perusahaan. Jadi hingga September 2026, mandat yang masuk berjumlah Rp56,19 triliun,” jelas Suhindarto.
Adapun, dari total mandat tersebut, terdapat Rp33,73 triliun berasal dari perusahaan non-BUMN dan Rp22,46 triliun dari perusahaan BUMN dan/atau anak usaha.
Sedangkan untuk tiga perusahaan dengan mandat terbesar berasal dari sektor entitas terkait pemerintah, perbankan, dan telekomunikasi, dengan masing-masing tiga perusahaan.
Sektor entitas terkait pemerintah memberikan mandat penerbitan surat utang senilai Rp9,40 triliun, sektor perbankan senilai Rp6,10 triliun, dan sektor telekomunikasi senilai Rp6 triliun.
Sektor dengan mandat terkecil adalah pelabuhan dengan nilai penerbitan mencapai Rp200 miliar.
Adapun jika dilihat dari kontribusi sumber surat utangnya, terbanyak adalah rencana Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi dengan nilai mencapai Rp25,48 triliun, PUB Sukuk senilai Rp12,50 triliun, penerbitan obligasi Rp7,50 triliun, MTN senilai Rp5,01 triliun, penerbitan Sukuk senilai Rp3,69 triliun, dan sekuritisasi senilai Rp2 triliun. Sejalan dengan mandat yang dikantongi, Pefindo juga mencatat kebutuhan refinancing surat utang yang cukup tinggi di level Rp43,56 triliun pada kuartal akhir 2026 ini.
