Jakarta, TopBusiness – PT Indonesia Tri Sembilan (ITS) terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai motor penggerak pertumbuhan bisnis berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing industri pengolahan tembakau nasional di pasar internasional.
Melalui strategi Human Capital Management System (HCMS) yang terintegrasi dengan kebutuhan bisnis, perusahaan pengolahan tembakau yang beroperasi di Mojokerto, Jawa Timur, ini membangun sistem pengelolaan SDM yang adaptif, produktif, dan berorientasi pada standar kualitas global.
Komitmen tersebut dipaparkan langsung oleh President Director PT Indonesia Tri Sembilan, Dedy Tirta, dalam penjurian TOP Human Capital (HC) Award 2026, Rabu (21/10/2026).
Menurut Dedy, keunggulan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi produksi dan kualitas bahan baku, tetapi juga oleh kompetensi, produktivitas, keselamatan, serta kesejahteraan tenaga kerja.
“Human Capital merupakan aset strategis perusahaan. Pengembangan kompetensi, kepuasan kerja, pengelolaan beban kerja, dan keselamatan karyawan menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus menghasilkan produk tembakau berkualitas internasional,” ujar Dedy.
Strategi Human Capital Dorong Pertumbuhan Bisnis 35,7 Persen
Salah satu capaian menonjol PT Indonesia Tri Sembilan adalah keberhasilan menyelaraskan strategi pengelolaan SDM dengan dinamika bisnis industri pengolahan tembakau yang memiliki karakteristik produksi musiman.
Melalui penerapan model pengelolaan tenaga kerja musiman yang fleksibel dan berbasis data, perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan produksi, efisiensi operasional, dan produktivitas karyawan.
Strategi tersebut turut menopang pertumbuhan pendapatan perusahaan sebesar 35,7 persen pada 2025 dibandingkan 2024.
Dedy menjelaskan bahwa pengelolaan tenaga kerja dilakukan melalui evaluasi kebutuhan personel, kapasitas produksi, serta distribusi beban kerja, terutama ketika memasuki musim puncak pengolahan tembakau.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan merespons perubahan volume produksi tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan dan keselamatan pekerja.
Selain itu, pengelolaan tenaga kerja musiman juga memperhatikan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 yang mengatur hubungan kerja, termasuk ketentuan terkait pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu.
“Strategi Human Capital harus mampu menjawab kebutuhan bisnis secara nyata. Kami membangun sistem tenaga kerja yang fleksibel, terukur, dan tetap memperhatikan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan,” jelasnya.
President Director Turun Langsung Siapkan Pemimpin Masa Depan
Komitmen pengembangan SDM di PT Indonesia Tri Sembilan juga terlihat dari keterlibatan langsung pimpinan tertinggi perusahaan dalam proses pengelolaan talenta.
Dedy Tirta secara aktif memimpin pelaksanaan Talent Review dan Succession Planning untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan serta kesiapan organisasi menghadapi tantangan bisnis.
Perusahaan menerapkan pendekatan Talent Review 9-Box yang dikombinasikan dengan matriks Risk versus Impact untuk memetakan potensi karyawan, mengidentifikasi talenta unggulan, dan menentukan prioritas suksesi pada posisi-posisi kritikal.
Melalui metode tersebut, perusahaan dapat mengembangkan calon pemimpin secara lebih sistematis berdasarkan kinerja, potensi, dan tingkat kepentingan jabatan terhadap keberlangsungan operasional.
Model ini sekaligus menjadi salah satu praktik unggulan HCMS yang dinilai layak direkomendasikan kepada perusahaan lain, khususnya sektor agroindustri dan manufaktur.
Investasi Pelatihan Melonjak 10 Kali Lipat
Keseriusan PT Indonesia Tri Sembilan dalam membangun organisasi pembelajar juga tercermin dari peningkatan investasi pengembangan kompetensi karyawan.
Pada 2025, investasi pelatihan perusahaan meningkat sekitar 10 kali lipat dibandingkan 2024.
Peningkatan tersebut diarahkan untuk memperkuat keterampilan teknis, kompetensi operasional, kepemimpinan, dan kesiapan karyawan menghadapi perkembangan teknologi industri pengolahan tembakau.
Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah program DDT Level 2 yang diselenggarakan secara internal atau in-house, sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan organisasi dalam mengembangkan kompetensi secara mandiri.
Di samping pengembangan internal, perusahaan juga membangun kolaborasi dengan lembaga pelatihan kerja, termasuk Balai Latihan Kerja (BLK) Mojokerto, untuk mendukung penyediaan tenaga kerja terampil sesuai kebutuhan industri.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan kompetensi antara kebutuhan perusahaan dan kemampuan tenaga kerja yang tersedia.
“Investasi pada pengembangan SDM merupakan investasi jangka panjang. Semakin tinggi kompetensi karyawan, semakin kuat pula kemampuan perusahaan menjaga produktivitas, kualitas, dan daya saing bisnis,” ungkap Dedy.
Cetak Rekor 17,7 Juta Jam Kerja Tanpa Kecelakaan
Tidak hanya berfokus pada produktivitas, PT Indonesia Tri Sembilan juga menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai bagian fundamental dari strategi Human Capital.
Perusahaan mencatat pencapaian 17,7 juta jam kerja tanpa kecelakaan, yang mencerminkan komitmen dalam membangun budaya kerja aman dan disiplin.
Prestasi tersebut diperkuat dengan rekam jejak penghargaan Zero Accident Award sejak 2006.
Menurut Dedy, pencapaian keselamatan kerja tidak dapat dipisahkan dari konsistensi penerapan prosedur operasional, pengawasan lingkungan kerja, serta keterlibatan seluruh karyawan dalam membangun budaya keselamatan.
Perusahaan juga menjalankan program pemeriksaan kesehatan berkala atau Medical Check-Up untuk mendukung kondisi kesehatan pekerja dan menjaga keberlangsungan produktivitas.
Di sisi lain, pengelolaan kepuasan kerja dan beban kerja terus mendapat perhatian agar peningkatan target produksi tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap tenaga kerja.
Pendekatan analitis terhadap hubungan antara kepuasan kerja, beban kerja, dan kinerja menjadi salah satu landasan untuk memperkuat efektivitas pengelolaan SDM.
“Produktivitas yang berkelanjutan harus dibangun di atas lingkungan kerja yang aman, sehat, dan kondusif. Keselamatan karyawan menjadi prioritas yang tidak dapat ditawar,” tegas Dedy.
Human Capital Jadi Kunci Produk Tembakau Nasional Berdaya Saing Global
Penguatan kualitas SDM juga menjadi faktor penting bagi PT Indonesia Tri Sembilan dalam menghasilkan produk tembakau yang memenuhi persyaratan pembeli internasional.
Perusahaan menerapkan model kemitraan bisnis secara end-to-end, mulai dari petani tembakau, proses pengolahan, pengendalian mutu, hingga pengapalan produk kepada pelanggan.
Dalam proses tersebut, kompetensi tenaga kerja menjadi elemen penting untuk menjamin konsistensi mutu, efisiensi proses, dan ketertelusuran produk.
Sistem ketertelusuran perusahaan didukung teknologi ToPS, Q-Tracs, dan SAP, sehingga pengelolaan informasi produksi dan kualitas dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Operasional perusahaan juga mengacu pada standar internasional, antara lain ISO 9001, ISO 14001, dan pedoman CORESTA, guna mendukung kualitas produk, pengelolaan lingkungan, serta pemenuhan persyaratan pasar global.
Dengan demikian, strategi Human Capital tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga memperkuat daya saing keseluruhan rantai pasok industri tembakau nasional.
Integrasikan ESG dalam Kebijakan Human Capital
Aspek lain yang menjadi keunggulan PT Indonesia Tri Sembilan adalah integrasi kebijakan Human Capital dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Perusahaan mengembangkan pendekatan keberlanjutan yang mencakup keselamatan kerja, perlindungan sosial tenaga kerja, pengelolaan lingkungan, serta efisiensi penggunaan sumber daya.
Komitmen tersebut diperkuat dengan penerapan ISO 14001 sejak 2008 dan pencapaian PROPER Biru sejak 2021.
Dalam pelaksanaannya, fungsi Human Capital turut mendukung agenda keberlanjutan grup melalui pembentukan perilaku kerja yang bertanggung jawab, peningkatan kesadaran lingkungan, serta inisiatif pencegahan pemborosan pangan atau food waste.
Dedy menilai bahwa integrasi ESG dengan pengelolaan SDM merupakan pendekatan yang relevan bagi perusahaan yang ingin membangun pertumbuhan bisnis jangka panjang.
“Keberlanjutan bisnis bukan semata-mata tentang pertumbuhan finansial, tetapi juga bagaimana perusahaan menjaga manusia, lingkungan, dan tata kelola agar seluruh proses bisnis memberikan nilai tambah secara berkesinambungan,” paparnya.
Tiga Inovasi HC Layak Jadi Contoh Perusahaan Lain
Dalam penjurian TOP HC Award 2026, PT Indonesia Tri Sembilan juga menonjolkan tiga praktik pengelolaan Human Capital yang dinilai berpotensi direplikasi oleh organisasi lain.
Pertama, penerapan Talent Review 9-Box yang terintegrasi dengan matriks Risk versus Impact sebagai instrumen pengambilan keputusan dalam pengembangan talenta dan perencanaan suksesi jabatan kritikal.
Kedua, sistem manajemen tenaga kerja musiman berbasis data yang mampu menyeimbangkan fleksibilitas operasional, produktivitas, dan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan.
Ketiga, integrasi kebijakan Human Capital dengan prinsip ESG, terutama pada aspek keselamatan kerja, jaminan sosial, dan pembentukan budaya kerja berkelanjutan.
Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi Human Capital dapat dilakukan secara terukur dan disesuaikan dengan karakteristik industri.
Siap Bersaing di Pasar Global dengan SDM Unggul
Bagi PT Indonesia Tri Sembilan, pengembangan Human Capital bukan sekadar fungsi administratif pengelolaan karyawan, melainkan bagian dari strategi utama untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan memperkuat posisi perusahaan di pasar internasional.
Kombinasi antara pertumbuhan pendapatan 35,7 persen, peningkatan investasi pelatihan hingga sekitar 10 kali lipat, pencapaian 17,7 juta jam kerja tanpa kecelakaan, serta penguatan sistem manajemen talenta menjadi gambaran keterkaitan antara pengelolaan SDM dan kinerja bisnis.
Melalui partisipasi dalam TOP HC Award 2026, perusahaan menunjukkan komitmennya untuk terus membangun organisasi yang adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan.
“Keunggulan Human Capital adalah fondasi bagi keunggulan bisnis. Dengan SDM yang kompeten, produktif, dan memiliki budaya kerja yang kuat, kami optimistis industri pengolahan tembakau Indonesia mampu terus meningkatkan kualitas produk serta memperkuat daya saing di pasar global,” pungkas Dedy.
