TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bahlil Ungkap Rencana Pembangunan Pusat Hilirisasi Petrokimia Berbasis Gas di Kaltim

Albarsyah
23 October 2026 | 10:33
rubrik: Ekonomi
Kemenperin: Harga Gas Petrokimia Diusulkan Turun

Industri Petrokimia di Indonesia (Foto: Istimewa)

Jakarta, TopBusiness – Pemerintah berencana membangun pusat hilirisasi industri petrokimia (petrochemical) berbasis gas bumi di Kalimantan Timur (Kaltim). Langkah strategis ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan industri di daerah penghasil gas.

Rencana tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, saat memberikan sambutan dalam peresmian penerimaan atau pengaliran gas dari sumur Jangkrik North East 6 (JNE-6) dan Fasilitas Produksi Lapangan Maha-South Hub di Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).

Bahlil menegaskan, pembangunan pusat hilirisasi petrokimia menjadi bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk industri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kita akan membangun pusat hilirisasi petrochemical di Kalimantan Timur dengan mempergunakan bahan baku dari gas. Kenapa ini harus kita lakukan? Karena proses-proses untuk menciptakan nilai tambah itu harus dilakukan seiring dengan kita menemukan penambahan-penambahan bahan baku,” ujar Bahlil.

Menurutnya, peningkatan produksi gas nasional harus diimbangi dengan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri. Dengan demikian, tambahan pasokan gas dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat maupun negara.

Kaltim Didorong Jadi Pusat Pertumbuhan Industri

Bahlil menjelaskan, pemilihan Kalimantan Timur sebagai lokasi pengembangan pusat hilirisasi petrokimia bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan daerah penghasil sumber daya alam memperoleh manfaat langsung dari kegiatan industri yang dikembangkan.

Melalui pembangunan industri hilir, Kalimantan Timur diharapkan tidak hanya berperan sebagai daerah pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pusat kegiatan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian daerah.

BACA JUGA:   Berikut, 4 Tantangan 2024 untuk Industri Non-Migas

“Dan kenapa tidak kita lakukan di Jakarta? Kita ingin daerah juga harus mendapatkan bagian dalam pemanfaatan sumber daya alam mereka. Dengan kita menciptakan hilirisasi di daerah, itu berarti menciptakan lapangan pekerjaan di daerah, menciptakan nilai tambah di daerah, meningkatkan PNBP daerah, meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan daerah,” jelasnya.

Pengembangan industri petrokimia berbasis gas juga berpotensi membuka peluang investasi baru, memperkuat rantai pasok industri nasional, serta mendorong tumbuhnya sektor-sektor ekonomi pendukung di Kalimantan Timur.

Produksi Gas Diprioritaskan untuk Kebutuhan Domestik

Selain mengungkap rencana pembangunan pusat hilirisasi petrokimia, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk memprioritaskan pemanfaatan sumber daya alam bagi kebutuhan dalam negeri.

Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik.

Bahlil menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari survival mode, yakni langkah pemerintah memastikan ketersediaan energi dan bahan baku untuk menopang kebutuhan industri nasional.

“Sudah jelas arahnya adalah sumber daya alam kita, kita akan pakai untuk kepentingan domestik terlebih dahulu. Ini survival mode,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga memaparkan perkembangan produksi gas yang mengalami peningkatan setelah adanya tambahan pasokan dari sumur Jangkrik North East 6.

Tambahan produksi dari sumur JNE-6 mencapai sekitar 290 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Dengan tambahan tersebut, volume produksi yang disampaikan Bahlil meningkat dari sekitar 450 MMSCFD menjadi kurang lebih 750 MMSCFD.

Pemerintah bahkan menargetkan peningkatan produksi hingga mencapai 3.000 MMSCFD pada periode 2028–2029.

“Dengan penambahan hari ini 290 MMSCFD dan di 2028-2029 akan mencapai 3.000 MMSCFD, sekarang berarti overall sudah mencapai 750 MMSCFD karena eksisting kurang lebih sekitar 450 MMSCFD, sekarang tambah lagi sekitar 300 MMSCFD, berarti 750 MMSCFD,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Awan Kelabu Bernama Korona

Peningkatan pasokan gas tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri hilir, termasuk rencana pembangunan pusat petrokimia di Kalimantan Timur.

Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya memastikan kekayaan gas bumi Indonesia tidak hanya memberikan manfaat dari sisi produksi dan penerimaan negara, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil sumber daya alam.

Rencana pembangunan pusat hilirisasi petrokimia di Kalimantan Timur sekaligus menegaskan arah kebijakan pemerintah untuk menjadikan hilirisasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Tags: petrokimia
Previous Post

ESDM Siapkan Aturan Turunan DMO Migas Minimal 25 Persen dalam RUU Migas

Next Post

Pemerintah Siapkan 28 Lokasi Pembangunan PLTN, Target Beroperasi Mulai 2032

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR