Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) pada kuartal pertama 2018 membukukan pendapatan Rp 11,86 triliun, menurun tipis 1,25% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Namun laba bersih perseroan justru melonjak 59% (yoy) menjadi sebesar Rp 995,79 miliar.
Presiden Direktur CPIN, Tjiu Thomas Effendy menjelaskan, peningkatan laba bersih perseroan pada tiga bulan I 2018 ditopang oleh membaiknya harga jual unggas atau day old chick (DOC). Penjualan DOC memang cenderung meningkat selama persiapan menjelang puasa, yakni sepanjang kuartal pertama dan awal kuartal kedua tahun ini.
“Nanti di kuartal ketiga, tidak ada persiapan lagi, sehingga tentu harga ayam fluktuatif dan biayanya relatif sama,” kata Thomas. Pada semester kedua nanti, manajemen CPIN mengharapkan penjualan bisa meningkat.
Selain iklim bisnis, menurut Tjiu, tantangan yang tak kalah hebat bagi CPIN adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meski demikian, berkurangnya porsi impor bahan baku membuat kinerja CPIN relatif aman.
Tjiu menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada impor bahan baku dan beban utang dalam bentuk dollar AS. “Ada dua hal yang terpengaruh akibat pelemahan rupiah. Pertama, bahan baku impor, yang porsinya sekarang hanya 30%. Kedua, pinjaman,” kata dia.
Sebelumnya, CPIN mengimpor jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Lewat program pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung, maka porsi impor bahan baku berkurang. “Jadi yang diimpor sekarang kedelai dan bahan baku kecil-kecil, jadi (dampak pelemahan rupiah) tidak signifikan,” ujar Thomas.
