TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Korea Selatan Jajaki Kerja Sama Pengembangan Energi Nuklir dengan Indonesia

Albarsyah
4 November 2026 | 13:34
rubrik: Business Info
Disiapkan, Memo Pembangkit Nuklir ke Presiden

PLTN-nya di Luarnya Negerinya (Foto: Istimewa)

Jakarta, TopBusiness – Pemerintah Korea Selatan tengah menjajaki peluang kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan energi nuklir guna mendukung pemenuhan kebutuhan listrik nasional yang diperkirakan terus meningkat. Kebutuhan energi tersebut dipicu oleh pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembangunan pusat data (data center).

Konselor Menteri Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia, Kim Chanwoo, mengatakan bahwa kedua negara telah memiliki komitmen untuk menjalin kerja sama pengembangan energi nuklir. Komitmen tersebut tertuang dalam Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Energi Bersih yang membuka peluang perluasan kolaborasi di sektor energi nuklir.

“Terdapat beberapa bidang potensial untuk kerja sama. Salah satunya adalah pengembangan energi nuklir. Oleh karena itu, terdapat potensi kerja sama di sektor ini, dan diskusi yang produktif sedang berlangsung dengan pihak Indonesia,” ujar Kim Chanwoo dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, Selasa (3/11/2026).

Kim menjelaskan bahwa meskipun energi nuklir tidak termasuk dalam kategori energi terbarukan, sumber energi tersebut berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurutnya, peningkatan kebutuhan listrik di tengah perkembangan teknologi AI dan industri pusat data membutuhkan pasokan energi yang stabil dan memadai. Dalam konteks tersebut, energi nuklir dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang.

Korea Selatan sendiri memiliki pengalaman dan teknologi yang cukup maju dalam pengembangan energi nuklir. Negara tersebut juga telah memiliki rekam jejak dalam mengekspor teknologi serta membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di luar negeri.

Berdasarkan data World Nuclear Association, Korea Selatan saat ini mengoperasikan 26 reaktor nuklir dengan total kapasitas mencapai 25.609 megawatt electrical (MWe). Selain itu, terdapat empat reaktor yang masih dalam tahap konstruksi dengan kapasitas 5.360 MWe, sementara dua reaktor lainnya berstatus penghentian operasi dengan kapasitas 1.239 MWe.

BACA JUGA:   UU BUMN Bisa Menjerat Direksi Terjerat Korupsi

Dengan pengalaman tersebut, Korea Selatan melihat adanya peluang untuk mengembangkan kolaborasi dengan Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung kebutuhan energi di masa mendatang.

Selain energi nuklir, kedua negara juga menjajaki kerja sama dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS). Kerja sama ini telah memiliki landasan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Indonesia dan Korea Selatan.

Kim menilai Indonesia mempunyai potensi geologi yang besar untuk pengembangan fasilitas penyimpanan karbon. Potensi tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi Korea Selatan dalam mengembangkan kerja sama CCS.

Di sisi lain, Korea Selatan memiliki keunggulan dalam teknologi industri, kapasitas manufaktur, investasi modal, serta pengalaman melaksanakan proyek dengan target penyelesaian sesuai jadwal dan anggaran.

Menurut Kim, keunggulan yang dimiliki masing-masing negara dapat saling melengkapi dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan teknologi CCS.

Meski demikian, realisasi kerja sama tersebut masih membutuhkan berbagai kajian dan penelitian teknis sebelum dapat memasuki tahap pelaksanaan proyek secara konkret. Pembahasan antara kedua negara pun masih terus berlangsung untuk memastikan kesiapan dari sisi teknis maupun internal.

Kim menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan telah menunjukkan ketertarikan untuk memanfaatkan potensi penyimpanan karbon di Indonesia. Dia berharap proyek kerja sama CCS dapat diumumkan setelah pembahasan teknis internal antara kedua negara diselesaikan.

Tags: Korea Selatan
Previous Post

Freeport Perkirakan Tambang Grasberg Pulih 100% di 2028

Next Post

Per September 2026, Tambang Freeport Produksi 219.000 Ons Emas

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR