TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Jurus Jokowi Hadapi Pelemahan Rupiah

Nurdian Akhmad
31 July 2018 | 15:01
rubrik: Ekonomi
Ini Jurus Jokowi Hadapi Pelemahan Rupiah

foto: istimewa

 Jakarta, BusinessNews Indonesia – Menghadapi gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus menggerus cadangan devisa RI, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa (31/7/2018), menggelar rapat kabinet untuk membahas strategi meningkatkan cadangan devisa Indonesia.

Dalam rapat terbatas yang digelar di Istana Bogor, Presiden memerintahkan jajarannya untuk segera membatasi barang tak penting yang bersifat non-strategis. Dia memerintahkan mereka untuk segera membuat daftar barang non-strategis yang perlu dibatasi dan bahkan dihentikan impornya.

Selain membatasi, Jokowi juga memerintahkan jajarannya untuk segera memperbaiki industri pembuat barang pengganti impor dan meningkatkan kandungan produk dalam negeri (TKDN) dalam setiap kegiatan ekonomi.

Perintah dikeluarkannya karena penggunaan TKDN sampai dengan 1,5 tahun ini belum berjalan baik. Semua perintah tersebut, dia keluarkan terkait pembengkakan defisit neraca perdagangan dan pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini. “Evaluasi semuanya secara detail, barang yang tidak penting, hentikan dulu impornya,” ujar Jokowi di Istana Bogor, Selasa (31/7).

Nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi 6,43 persen secara tahun kalender lantaran sentimen eksternal. Sebagai konsekuensinya, cadangan devisa terkuras dari US$131,98 miliar di Januari 2018 ke US$119,8 miliar di Juni 2018 kemarin demi mengintervensi agar pelemahan rupiah tidak semakin menjadi. Di tengah penurunan cadangan devisa tersebut, pemerintah menghadapi masalah. Mereka kesulitan menambah devisa yang terhambat lantaran defisit neraca transaksi berjalan terus melebar.

Pada kuartal I kemarin, defisit transaksi berjalan bertengger di angka US$5,5 miliar atau naik 129,17 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya US$2,4 miliar.

Bank Indonesia (BI) memprediksi defisit transaksi berjalan Indonesia hingga akhir tahun ini bisa mencapai US$25 miliar atau terjun 44,51 persen dibanding realisasi tahun lalu yang hanya US$17,3 miliar.

BACA JUGA:   Ini Lapangan Usaha yang Lolos Kontraksi

Pelebaran neraca transaksi berjalan tak lepas dari defisit neraca perdagangan yang memburuk.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit neraca perdagangan di angka US$1,02 miliar dalam enam bulan pertama di tahun 2018. Padahal di tahun sebelumnya, neraca perdagangan surplus US$7,66 miliar.

Selain mengatasi impor, agar permasalahan tersebut bisa diatasi, ia juga memerintahkan jajarannya untuk memperbaiki kinerja ekspor.

Dia memerintahkan jajarannya untuk segera membuat strategi jitu agar kinerja ekspor bisa segera ditingkatkan. “Saya tekankan negara ini butuh dolar, oleh sebab itu saya minta seluruh kementerian dan lembaga tidak ada yang main-main dan tidak serius menghadapi ini. Saya tidak mau lagi bolak-balik rapat tapi pelaksanaan dan implementasi tidak berjalan dengan baik,” tutur Jokowi.

Terakhir, Jokowi juga meminta mandatory penggunaan biodiesel segera dijalankan karena dengan menggunakan B-20, Indonesia disebutnya bisa menghemat devisa US$21 juta per hari karena bisa mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

 

Tags: cadangan devisapresiden jokowi
Previous Post

Cegah Aksi Fraud, OJK Akan Perketat Aturan

Next Post

Pencabutan DMO Batubara Batal

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR